(Sumber : Dokumentasi Penulis)

Orang Tuaku, Guru Toleransiku

Horizon

Oleh Sirajul Arifin*

Dosen dan Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam

UIN Sunan Ampel Surabaya

  

Tadi malam ketika saya mau tidur teringat masa kecilku. Saat masih belum sekolah dasar. Pada masa itu orang tuaku kerap mengajak berkunjung ke temannya. Teman bukan seagama tetapi cukup dekat. Teman yang kayak saudara. Teman tak seiman di kota-kota mungkin hal biasa. Tapi bagaimana jika pertemanannya terjadi di sebuah pulau, bahkan di pulau terpencil. Di pulau yang tidak banyak orang melakukannya. Di pulau yang banyak orang memandangnya tidak etis. Orang yang menyebut imannya tidak kuat. Atau sebutan sejenis yang dialamatkan kepada orang tuaku. Tapi orang tuaku tak bergeming. Tetap meneruskan pertemanannya dengan yang tak seiman. Saat saya masih kecil, saya anggap itu hanya urusan orang tua. Orang tuaku pasti mempertimbangkan dengan matang, tanpa ragu. Ocehan orang tak menghentikannya untuk terus berteman dan saling kunjung. Ketika saya mulai besar, saya memberanikan diri untuk bertanya. Ayah, kenapa ayah berteman dengan mereka? Ayah sering mengajakku ke teman-temannya. Jawabnya singkat. Mereka orang baik, mereka tidak jahat. Mereka manusia, mereka juga sama dengan kita. Karena kebaikannya, maka ayah juga harus baik karena hubungan kemanusiaan. 

  

Mereka punya agama, dan ayah punya agama. Selama tidak saling mengganggu agamanya dan selama tidak saling mengajak untuk masuk agamanya, maka ayah tetap berteman dengannya. Tanpa peduli orang lain menilai negatif. Ayah punya prinsip dan prinsip itu didasarkan pada salah satu ayat \"lakum dinukum wa liya din.\" Itu prinsip yang dipegang oleh ayah. Keyakinan harus dibatasi oleh jarak. Jarak itu bukan berarti menjauhkan diri dari orang tidak seiman. Jarak itu adalah keyakinan yang membatasinya. Jika pembatasnya kuat, maka tak akan bercampur keimanan antara satu dengan yang lainnya. Pergaulan ayahku mengajariku mulai tahu makna sebuah toleransi. Orang tuaku yang menjadi guru toleransiku. Orang tuaku yang menuntunku untuk mengerti arti dari sebuah persahabatan. Orang tuaku yang membiasakan untuk berbuat baik kepada setiap orang. Tanpa membatasi perbedaan agamanya. Tanpa membedakan keyakinanannya. Persahabatan lintas agama dan lintas keimanan. Persahabatan yang tetap menjunjung tinggi dan menjaga keimanan masing-masing. Mereka tetap pada agama dan keimanannya, ayahku pun sama mempertahankannya. 

   

Persahabatan dengan menjaga keyakinan agama hakekatnya merupakan hubungan kemanusiaan. Hubungan yang kutemukan saat ku tak mengerti apa arti sebuah persahabatan tak seiman. Ku tak tahu bahwa hubungan itu adalah gambaran nyata dari perilaku toleransi. Toleransi antar umat beragama. Baru semakin mengerti ketika saya mulai belajar di pondok pesantren Salafiyah Syafi’iyah. Pesantren yang mengajarkan bukan saja hubungan antar umat Islam tetapi juga hubungan antara umat Islam dengan umat lain. Lagi-lagi pelajarannya bermula dari praktik baik sang guru. Guru, bagiku, adalah orang tuaku. Kyai As’ad adalah guru sekaligus orang tua keduaku. Guruku mengajariku dengan sebuah tindakan. Bukan saja ucapan. Guruku tak membatasi diri pada orang seagama. Guruku banyak berinteraksi dengan orang yang tak seiman. Orang yang datang untuk sowan kepada guruku memang rata-rata orang yang seiman. Terutama wali santri yang datang sambil menjenguk putera-puterinya. 

   

Putera-puteri yang tak saja belajar ilmu tapi juga belajar kehidupan dari sang guru. Mereka datang dari berbagai pulau, berbagai daerah, berbagai kota, berbagai provinsi, dari seluruh wilayah Indonesia maupun dari negara lain. Kedatangan mereka yang seagama bagi saya adalah hal biasa. Apalagi para wali santri Muslim yang dalam banyak literatur dinyatakan bahwa orang-orang Islam adalah saudara. Hal ini bersumber dari Alqur’an surah Al-Hujurāt [49]: 10, “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara …“ Semua umat Islam dipandang sebagai satu keluarga besar. Hubungan persaudaraan ini tidak dibatasi oleh suku, bangsa, bahasa, atau warna kulit. Itulah gambaran kehidupan orang yang seiman. Itu gambaran yang biasa kutemukan sejak saya masih kecil. Sejak masih bersama orang tuaku yang sebenarnya, bukan orang tua keduaku. 

  

Kehidupanku saat bersama orang tua keduaku (guru) tentu tak sebatas hubungan biasa. Hubungan sesama saudara. Hubungan seiman. Namun hubungan lintas iman pun banyak kutemukan pada guruku. Guruku tak hanya menerima orang-orang yang seiman. Guruku telah memberikan contoh kehidupan lintas agama. Orang dari strata apapun dan dari agama apapun tak jauh dari kehidupan guruku. Guruku merangkulnya dengan rangkulan mesra. Dari kalangan rakyat biasa hingga kalangan elit dan pejabat. Semuanya dirangkul tanpa kaku dan menunjukkan kemesraan. Kemesraan hubungan menunjukkan sikap toleransi guru level teratas. Kemesraan yang lebih, dibanding orang tua kandungku, menggambarkan keluasan ilmu yang dimiliki. Banyak sandaran ayat maupun hadis yang dirujuk. Bukan saja rujukan sekadar rujukan tetapi rujukan yang diamalkan. Ajaran rahmah li al-‘âlamîn melekat dalam dirinya. 

  

Ajaran tersebut ia pegang sebagai pedoman hidup. Hubungan antar umat manusia, termasuk yang berbeda agama, dilandasi dengan prinsip keadilan, penghormatan, dan perdamaian. Islam mengajarkan umatnya untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam, bukan hanya bagi kaum Muslim. Membangun relasi harmonis dengan pemeluk agama lain merupakan bagian dari implementasi ajaran Islam yang universal. Karenanya, meskipun beda agama dan keyakinan, bagi guruku, manusia tetap dipandang sebagai makhluk ciptaan Allah yang harus dihormati martabatnya. Prinsip hubungan lintas agama dipegang teguh. Islam mengakui bahwa semua manusia berasal dari asal-usul yang sama, yaitu Nabi Adam dan Hawa. “Wahai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.\" (QS. Al-Hujurāt [49]: 13). Ayat ini menegaskan bahwa perbedaan bangsa, suku, bahkan agama tidak boleh menjadi alasan perpecahan, melainkan menjadi sarana untuk saling mengenal dan bekerjasama. 


Baca Juga : Badan Riset dan Inovasi Nasional dalam Polemik Masyarakat

  

Kerjasama antar pemeluk agama melalui pola hubungan yang baik adalah kerjasama yang telah banyak dicontohkan kyai As’ad.  Melalui forum lintas iman, halaqah, atau lembaga pendidikan yang menumbuhkan sikap saling menghargai dan menekan potensi konflik. Selain itu, kyai juga memiliki sikap yang tegas dalam menolak kekerasan, radikalisme, dan intoleransi. Dengan bersatu, umat beragama bisa menjadi kekuatan moral bagi bangsa. Bahkan warisan terbesarnya dalam foum Muktamar NU ke-27 di Situbondo adalah keputusan dan pengakuan atas Pancasila sebagai asas tunggal pada tahun 1984. Keputusan itu sangat penting karena NU adalah ormas Islam terbesar, dan penerimaan kyai NU memberi legitimasi kuat bagi kebijakan asas tunggal. Para kyai menegaskan bahwa Pancasila tidak bertentangan dengan ajaran Islam, justru menjadi titik temu seluruh komponen bangsa.

  

Menerima Pancasila sebagai asas tunggal adalah keputusan besar para kyai, termasuk guruku kyai As’ad, yang tidak mudah karena banyak umat Islam yang khawatir posisi Islam akan digantikan Pancasila. Sikap ini adalah bentuk toleransi yang luar biasa dalam mengajarkan bahwa Islam bisa hidup harmonis dengan ideologi bangsa yang majemuk. Selain keputusan tersebut, kyai As’ad juga telah memberikan banyak praktik baik dalam mengajarkan ukhuwah dan hidup rukun, mengedepankan dialog dan musyawarah, menjadi penyejuk dalam konflik sosial, dan menjunjung tinggi moderasi Islam. Ajarannya menghindarkan santrinya dari sikap ekstrem dan intoleran, sekaligus menegaskan bahwa mencintai bangsa adalah bagian dari iman. Mencintai bangsa adalah mencintai sesama. Sesama tak harus seagama, tak seiman pun menjadi bagian dari sesama. Itulah praktik baik dari guruku, orang tuaku, orang tua yang banyak dikenal dengan sebutan murabbi al-rûh. Orang tua teladanku, pembimbing ruhaniku.

  

Praktik baik orang tuaku--murabbi al-rûh--mengajariku, membimbingku, menuntunku, bahkan membawaku masuk dalam kehidupan baru yang toleran. Kehidupan baru dan kehidupan nyata. Kehidupan yang tak terbatas pada lingkup keluarga dan pesantren. Kehidupan yang lebih luas dan lebih kompleks. Saya memulainya sejak keluar dari zona aman dan nyaman. Setelah keluar dari rumah keduaku, pesantren Salafiyah Syafi\'iyah. Setelah tidak bersama guruku sekaligus orang tuaku. Bahkan setelah kyai As’ad pergi lebih dulu untuk menghadapNya. Kyai As\'ad, melalui puteranya kyai Fawaid, melepasku untuk meniti dan menjalani kehidupan baru di luar rumahku. Memang guruku telah tiada, tapi perasaanku seperti masih bersamanya. Semoga tetap bersama dan selamanya. Itu harapanku, dan mungkin juga harapan semua santrinya. Di tahun 1997 saya resmi keluar dari rumah pesantrenku. Di tahun itu pula saya mulai menapaki kehidupan baru di Jakarta. Kehidupan yang kata banyak orang adalah kehidupan yang penuh lika-liku. Kehidupan yang penuh tantangan. 

  

Kehidupan yang konon berbeda dengan kehidupan pesantren. Entah itu sekadar cerita atau fakta. Tapi faktanya saya jalani setelah saya dapat kesempatan lanjut studi. Lanjut studi di Universitas Indonesia Jakarta. Di kampus yang terkenal dengan sebutan kampus kuning. Kampus yang atributnya serba kuning, almamater, bus, dan atribut lainnya. Di sini saya banyak menimba ilmu dan pengalaman. Saya tak akan menceritakan soal bagaimana ilmu itu diperoleh. Tentu orang lain banyak melakukannya. Orang mendapatkannya dengan cara yang mungkin relatif sama. Sehingga tak perlu kuceritakan tentang hal tersebut. Tapi saya justeru tertarik menceritakan pengalaman bersama teman yang tak seiman. Ini yang tak pernah saya lakukan semasa di pesantren. Di pesantren saya hanya menimba pengalaman. Pengalaman yang ditunjukkan oleh praktik baik guruku, “Guru toleransiku.” 

  

Pengalaman bersama dengan yang seiman adalah hal yang lumrah. Itu hal yang biasa. Itu yang biasa dilakukan oleh banyak orang. Itu sama halnya dengan kehidupan sesama saudara. Bahwa semua orang Islam adalah saudara. Itu yang saya pegangi dan saya junjung tinggi, karena jelas ada dalam kitab suci kita. Kitab suci seluruh umat Islam. Nah, karenanya saya akan masuk dari sisi lain. Sisi yang kerap dipandang tabu. Bersama dengan orang-orang tak seiman. Apalagi baru keluar pesantren, lalu tak jauh dan tak menjauhkan diri dari teman yang tak seiman. Pertama kali saya bertemu dengan teman yang tak seiman adalah sewaktu saya menjadi mahasiswa kelas khusus. Saya dan mereka mengikuti kelas khusus di Fakultas Sastra UI Jakarta. Kelas khusus dengan pembiayaan yang berbeda. 

  

Saya kelas khusus biaya Kementerian Agama (saat itu Departemen Agama), sementara teman saya dibiayai oleh yayasannya, kayaknya “Yayasan Pendidikan Katolik.” Ini baru dugaan saya tentang asal fundingnya. Saya tidak pernah menanyakan dari mana asal beasiswanya. Hanya setahu saya, setelah selesai kuliah, mereka kembali ke almamaternya di Kupang, Surabya, dan Malang. Pak Frans, pak Vincen, dan pak Arif adalah orang-orang yang kerap bertemu. Bertemu saat santai dengan canda khasnya maupun saat spaneng dengan tugas seabregnya. Dua kondisi itu sering dialami bersama. Keadaan itu tak hanya terjadi di kampus tetapi juga di kos-kosan. Tempat kos mungkin lebih banyak menjadi saksi pertemuannya daripada kampus tempat kuliah. Tempat kos saya tak jauh darinya, sangat berdekatan walau tak sekamar. Kita berada pada satu lokasi kosan yang sama pemiliknya. 

    

Kukusan adalah nama lokasinya. Kos-kosan di Kukusan adalah kos-kosan yang relatif murah dibanding dengan di tempat lain. Wajar jika teman-teman memilih tempat tinggal sementara di wilayah Kukusan. Terutama teman-teman yang kuliahnya dibiayai oleh negara maupun yayasan. Dari Kukusan ini, saya menjalani masa senang dan masa susah. Terasa senang saat pergi dan pulang bersama terutama sewaktu beli makan. Saat perjalanan dan saat makan bersama. Di saat itu, suasana senda-gurau pecah. Seakan dunia milik bersama. Tak ada lagi kata susah. Tak muncul lagi kata beda. Yang mnuncul hanya senang dan berada dalam satu ciptaan. Ciptaan Tuhan, yaitu manusia. Tak lagi memperdebatkan agama. Tak lagi mempertentangkan keyakinan. Kita berada pada satu tujuan adalah mencari makan bersama. Sepulang dari makan, dan setiba di kosan masih terasa ceria. Keceriaan berlanjut, tapi dengan tema yang lain. Tetap tema yang senang-senang, dan belum masuk ke wilayah yang menegangkan.

  

Ketegangan baru mulai ketika mulai menyentuh tugas. Membaca satu persatu tugas dari dosen. Tugasnya cukup berat dan cukup menantang. Namun tugas seberat dan sesulit apa pun jika dikerjakan bersama, maka terasa mudah dan bisa tuntas. Pertemuan tak berakhir saat tugas sudah selesai, tapi terus mendiskusikannya. Diskusi dilakukan untuk memdalami hasil kerja bersama. Hasil bersama harus benar-benar dipahami bersama. Bukan dipahami oleh salah satunya sesuai topik bagiannya. Memang topiknya dibagi dan dikerjakan masing-masing. Hasil masing-masing merupakan bagian dari hasil bersama dan dari tugas bersama. Itulah kebersamaan dalam tugas yang membawa kebersamaan teman lintas agama. Kebersamaan yang tahu diri dan tahu tugas masing-masing. Tahu diri siapa yang menjadi diri dan tahu tugas dari apa yang menjadi kewajiban agamanya. 

  

Suatu waktu pernah bersama di hari Jumat. Saya bersama pak Frans di kosan. Hanya tinggal berdua, entah sedang mengerjakan tugas apa, saya lupa. Saat itu saya diingatkan oleh pak Frans. Ini waktu shalat Jumat. “Kita berhenti dulu ya. Mas Sirajul mulai siap-siap untuk Jumatan.” Siap pak Frans. Saya katakan siap sambil mengucapkan terima kasih. Waktu Jumatan sebanarnya masih lama. Saat itu jam masih menunjukkan pukul 09.45 WIB. Sekalipun waktunya masih lama, saya menghargai usulan pak Frans. Saya segara pamit dan meninggalkan kamarnya. Pengalaman saya dengan mereka bahkan seperti kebersamaan yang terakhir dengan pak Frans tak saja terjadi dua tiga kali, melainkan kerap dialami. Pengalaman yang menunjukan sikap toleransi. Sikap toleransi tak berhenti di panggung kuliah, tak sebatas di ruang terbatas “kos-kosan,” tak hanya ditunjukkan saat mencari makan, saat belajar dan canda bersama, tetapi terus berlanjut di saat mereka sudah kembali ke almamaternya. 

  

Ada yang kembali ke Kupang (Universitas Katolik Widya Mandira), ke Surabaya (Universitas Katolik Widya Mandala), dan ke Malang (Universitas Katolik Widya Karya). Kita memang kembali ke rumah masing-masing. Kita memang pulang ke daerah yang berbeda. Walau kita berbeda tempat, berbeda institusi, berbeda tugas, namun ada satu ruang yang tak bisa kita berpisah, adalah ruang satu ciptaan, ciptaan Tuhan. Di sinilah yang mengikat rasa persaudaraan dengan ikatan toleransi. Ikatan yang mengikat pertemanan dan persaudaraan dalam ruang pertemuan. Di antara kita, adakalanya bertemu dalam ruang maya (digital) dan adakalanya masih bersua dalam satu forum. Bahkan sehari sebelum tulisan ini saya serahkan ke media untuk dipublish, saya masih komunikasi via telpon dengan pak Vincen yang tak jauh dari rumah karena masih satu wilayah dan pak Frans yang sedang mendampingi putera bungsunya yang sedang wisuda di Kupang. 

  

Dari tiga teman yang selalu bersama, hanya dengan pak Arif yang belakangan ini saya kehilangan kontaknya. Biasanya saya sering kontak pak Arif karena tertarik dengan bisnisnya, bisnis di luar tugas utamanya di UKWK. Saya mencoba minta ke pak Vincen, tetapi tetap tak kunjung bisa sambung. Mungkin sudah ganti nomor. Mungkin juga karena sedang berada di tempat lain yang susah jaringannya. Maklum dia adalah pebisnis yang selalu mobile dari satu tempat ke tempat yang lain. Demikian potret pengalaman saya bersama teman-teman sekampus. Pengalaman yang bukan satu-satunya tetapi pengalaman otobiografik yang saya ceritakan sebagian kecilnya. 

   

Pengalaman hidup yang kuteladani dari praktik baik orang tuaku. Orang tua kandung maupun orang tua sebagai murabbi rûhku. Orang tua yang telah mengajariku kehidupan nyata tentang toleransi. Toleransi yang senyatanya dan bukan dalam teori-imajinasi. Semoga bermanfaat.