Studi Epistemologis Penalaran Islam Karya Sunan Kalijaga
Riset SosialArtikel berjudul “Islamic Reasoning and Indigenous Counseling in Kidung Rumeksa Ing Wengi by Sunan Kalijaga (An Epistemological Study)” merupakan karya Kholil Lur Rochman, Wahyu Budiantoro, Ardiansyah, dan Hasni. Tulisan ini terbit di Jurnal Addin tahun 2025. Tujuan penelitian tersebut adalah mengidentifikasi hubungan antara penalaran Islam dan kerangka konseling adat dalam kidung Jawa, Kidung Rumeksa Ing Wengi. Hal ini disebabkan semakin banyaknya pendekatan konseling kontemporer berbasis tradisi kearifan lokal, yang mencerminkan integrasi signifikan antara warisan budaya-tradisional dan kesehatan mental masyarakat. Penelitian tersebut menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Terdapat empat sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, dasar epistemologi pribumi. Ketiga, paradigma konseling adat. Keempat, Islam, konseling adat, dan Kidung Rumeksa Ing Wengi.
Pendahuluan
Kidung adalah bentuk puisi kuno yang berkembang di Jawa dan digunakan untuk menyajikan cerita atau pembacaan ritual, terutama dalam tradisi Hindu Bali. Kidung berbeda dari bentuk puisi lainnya, seperti kakawin. Kidung ditulis dalam bahasa Jawa Pertengahan, sementara kakawin ditulis dalam bahasa Jawa Kuno. Perbedaan signifikan lainnya terletak pada aturan metrik; kidung tidak mengikuti sistem guru laghu (suku kata panjang dan pendek) seperti kakawin. Kidung sering dipentaskan di berbagai acara, misalnya untuk menceritakan kembali cerita rakyat peninggalan masa pra-Islam Jawa, termasuk cerita Panji dan cerita binatang seperti Tantri Kamandaka. Kidung ini juga digunakan untuk menceritakan kisah-kisah turunan dari Mahabharata, seperti Kidung Dewaruci dan Kidung Korawasrama.
Bagi masyarakat Jawa, kidung berfungsi sebagai media untuk menangkal bencana, menyembuhkan penyakit, dan mempercepat pernikahan. Namun, tradisi ini semakin memudar seiring dengan berkurangnya keakraban generasi muda dengan kidung dan lebih menyukai pengaruh budaya asing. Lebih lanjut, keyakinan agama modernis dan tekstualis sering memandang kidung sebagai bid\'ah (inovasi dalam agama) dan politeisme. Kurangnya perhatian pemerintah terhadap pelestarian budaya lokal juga menjadi faktor penyebab memudarnya tradisi kidung. Meskipun mengalami kemunduran, kidung tetap memegang peran filosofis yang signifikan dalam budaya Jawa. Kidung Rumekso Ing Wengi, misalnya, dikenal sebagai mantra Wedha yang dinyanyikan pada malam hari untuk mengusir roh jahat. Kidung ini diciptakan oleh Sunan Kalijaga. memiliki makna budaya yang mendalam bagi orang Jawa.
Istilah Kidung Rumeksa Ing Wengi berasal dari kata kidung, yang berarti nyanyian, nyanyian, himne, atau puisi. Rumeksa Ing Wengi berarti \"perlindungan di tengah kesunyian malam.\" Jadi, Kidung Rumeksa Ing Wengi merupakan nyanyian atau puisi yang digunakan untuk perlindungan diri di malam hari dari berbagai gangguan seperti jin, setan, ilmu hitam, pencuri, dan ancaman lainnya.
Dasar Epistemologi Pribumi
Kata “epistemologi” selalu dikaitkan dengan sejarah linguistik Yunani kuno, yaitu “episteme” yang berarti pengetahuan, dan “logos” yang berarti studi atau ilmu. Epistemologi dapat didefinisikan sebagai studi tentang pengetahuan, dengan fokus utama pada pemahaman tentang apa itu pengetahuan, bagaimana kita memperolehnya, dan apa yang membuat suatu keyakinan dibenarkan sebagai pengetahuan yang benar. Epistemologi melibatkan penyelidikan kondisi dan struktur pengetahuan, yang mencakup berbagai jenis, seperti pengetahuan proposisional (mengetahui bahwa), pengetahuan prosedural (mengetahui bagaimana), dan pengetahuan langsung (pengetahuan melalui pengalaman langsung). Pada konteks ini , epistemologi berusaha untuk mengklarifikasi konsep-konsep seperti kebenaran, kepercayaan, pembenaran, dan pemahaman sambil mengeksplorasi hubungan mereka.
Pengetahuan adalah konsep yang kompleks dan multidimensi yang telah dipelajari oleh para filsuf selama berabad-abad. Dalam kajian epistemologis, para ahli secara luas menerima definisi tripartit pengetahuan sebagai keyakinan sejati yang dibenarkan. Agar dianggap valid dan reliabel, pengetahuan harus memenuhi tiga komponen penting: keyakinan (penerimaan suatu proposisi), kebenaran (kesesuaian dengan realitas), dan pembenaran (landasan yang memadai untuk keyakinan tersebut).
Baca Juga : Nilai nilai Pendidikan Islam dalam Lirik lirik lagu Rhoma Irama ( Bagian 1)
Sementara itu, pengetahuan adat, yang juga dikenal dengan istilah atau konsep seperti pengetahuan budaya, pengetahuan masyarakat, pengetahuan lokal, pengetahuan rakyat, kearifan tradisional, ilmu pengetahuan tradisional, dan pengetahuan adat istiadat tradisional, mengacu pada warisan pengetahuan yang didasarkan pada nilai-nilai kebaikan yang diyakini, diamalkan, dan secara konsisten diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya oleh masyarakat di suatu wilayah tertentu.
Berdasarkan ilmu sosial, kajian kearifan lokal dan pengetahuan tradisional dapat memperkaya pemahaman kita tentang dinamika sosial, struktur masyarakat, dan cara-cara efektif untuk menyelesaikan konflik. Sebagai contoh, praktik musyawarah dan gotong royong yang dilakukan oleh banyak masyarakat adat di Indonesia menawarkan model-model penyelesaian konflik dan kerja sama yang dapat diterapkan dalam konteks yang lebih luas. Jadi, pengakuan dan penerapan kearifan lokal tidak hanya melestarikan budaya dan identitas masyarakat lokal, tetapi juga membuka peluang baru bagi inovasi dan pembangunan di berbagai bidang. Pendekatan ini memungkinkan kita untuk memanfaatkan kekayaan pengetahuan dalam kearifan lokal sekaligus menciptakan solusi yang lebih holistik, berkelanjutan, dan efektif untuk tantangan global.
Paradigma Konseling Adat
Landasan teoretis konseling pribumi berasal dari psikologi pribumi, yang juga dikenal sebagai psikologi budaya. Psikologi budaya menekankan aspek antropologis, mempelajari bagaimana budaya memengaruhi perilaku dan pemikiran manusia melalui kebiasaan, tradisi, dan struktur sosial. Psikologi pribumi berfokus pada pemahaman aspek-aspek psikologis unik suatu budaya. Misalnya, dalam konteks kehidupan beragama, psikologi pribumi mempelajari bagaimana ritual dan praktik spiritual berkontribusi pada kesejahteraan mental dan emosional individu.
Paradigma pribumi dalam psikologi dan konseling berbasis budaya dipengaruhi oleh keyakinan bahwa budaya menghasilkan seperangkat nilai yang membentuk perilaku dan pada akhirnya memengaruhi perkembangan sosial. Nilai-nilai budaya dalam suatu komunitas membentuk perilaku individu, menekankan tindakan mana yang dianggap penting dan harus dilakukan. Pendekatan ini memastikan bahwa konseling relevan dan efektif karena mempertimbangkan konteks budaya unik setiap individu, sehingga mendukung pengembangan perilaku yang selaras dengan nilai-nilai budaya setempat.
Islam, Konseling Adat, dan Kidung Rumeksa Ing Wengi
Islam, Konseling Adat, dan Kidung Rumeksa Ing Wengi saling terkait erat dalam konteks spiritualitas dan kesehatan mental yang berakar pada kearifan lokal. Islam, sebagai agama yang komprehensif, tidak hanya mengatur tindakan ibadah tetapi juga memberikan panduan untuk menjaga kesejahteraan psikologis manusia. Sebagai pendekatan terapi berbasis budaya, konseling Pribumi bertujuan untuk memahami kesehatan mental melalui nilai-nilai dan praktik yang diwariskan dari generasi ke generasi dalam suatu komunitas.
Pada kajian epistemologis konseling adat, kidung ini memuat tiga aspek kunci yang relevan dengan praktik konseling, yakni persepsi, fitrah manusia , dan kesadaran. Persepsi membentuk keyakinan individu terhadap perlindungan ilahi. Konsep fitrah (sifat manusia) menegaskan kecenderungan alami setiap individu untuk mencari kebaikan dan kebenaran. Sementara itu, mindfulness dalam kidung ini dapat dihubungkan dengan praktik meditasi Islam yang membantu menenangkan pikiran dan menumbuhkan kesadaran spiritual. Oleh karena itu, integrasi Islam, konseling adat, dan Kidung Rumeksa Ing Wengi menunjukkan bagaimana tradisi lokal dapat menjadi alat yang efektif dalam konseling berbasis budaya, menawarkan pendekatan holistik yang menggabungkan dimensi spiritual, psikologis, dan sosial untuk menjaga kesehatan mental.
Kesimpulan
Kidung Rumeksa Ing Wengi dalam tradisi Jawa dianggap sangat sakral karena kidung Sunan Kalijaga ini dipercaya sebagai media perlindungan dari berbagai bahaya jika dibacakan secara teratur. Kidung ini juga menandakan bahwa masyarakat Jawa memiliki cara hidup yang khas, percaya pada realitas mistis dan transenden sekaligus menghormati warisan leluhur mereka. Secara hibrida, ayat-ayat Rumeksa Ing Wengi juga relevan dengan praktik konseling, khususnya konseling berbasis budaya. Beberapa nilai yang menghubungkan kidung dengan praktik konseling, antara lain: pertama, persepsi; kedua, fitrah manusia ; dan ketiga, kesadaran. Ketiga aspek ini sangat berkorelasi dengan isi ayat-ayat dalam Kidung Rumeksa Ing Wengi. Lebih lanjut, beberapa terapi konseling kontemporer juga memanfaatkan kidung sebagai pendekatan terapeutik. Pada kaitannya dengan Islam, secara epistemologis, Kidung Rumeksa Ing Wengi dapat berfungsi sebagai media spiritual (doa) untuk meningkatkan kesehatan mental dan keseimbangan pribadi.

