Kolaborasi dan Trilogi Kurikulum: UIN Maliki Malang (Bagian Kedua)
OpiniSalah satu keunikan Perguruan Tinggi di Indonesia adalah kehadiran Tridarma Perguruan Tinggi. Ada basis regulasinya UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan UU No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi. Berdasarkan UU ini, maka terdapat peluang untuk melakukan kerja sama dalam darma pendidikan dan pengajaran, riset dan pengabdian masyarakat yang dilakukan dalam jejaring institusional dalam skala regional, nasional maupun internasional.
Jejaring institusional, yaitu jejaring yang dilakukan dalam kerangka mengembangkan perguruan tinggi untuk mencapai visi dan misi berbasis pada relasi dengan berbagai institusi baik regional, nasional maupun internasional. Disebut sebagai jejaring integratif atau jejaring konvergensi. Jejaring pendidikan dan pengajaran, riset dan pengabdian masyarakat dapat dilakukan dalam konteks dunia internasional. UIN Maliki sudah memiliki kelas internasional terbanyak di PTKIN, memiliki mahasiswa internasional terbanyak di PTKIN, dan juga prodi berjejaring internasional. Jejaring prodi internasional kolaboratif dalam bentuk dual degree dan program student exchange, baik regional, nasional maupun internasional.
Juga terdapat riset kolaboratif regional, nasional dan internasional. Join riset menjadi salah satu kekuatan dalam pengembangan PTKIN untuk kepentingan menghasilkan buku, laporan penelitian maupun jurnal. Pengabdian kolaboratif regional, nasional dan internasional juga sangat penting untuk memperkuat dan mengembangkan dampak PTKIN bagi masyarakat. UNESA memiliki konsep integrasi Tridarma Perguruan Tinggi “Ajar, Teliti, Abdi.”
Kiranya, UIN Maliki Malang dapat mengembangkan konsep “Edu, Riset, Abdi”. Ketiganya merupakan konsep untuk mengintegrasikan antara pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat. Edu singkatan dari education atau pendidikan, yaitu proses untuk mendidik atau mengajar yang akan menghasilkan konsep-konsep baru berbasis pada penelitian akademisi lain.
Riset atau penelitian merupakan kelanjutan dari hasil edukasi dalam bentuk proposisi yang akan diuji atau dipahami secara empiris. Bisa dikaji berdasar atas penelitian teks, penelitian kuantitatif, penelitian kualitatif ataupun mixed methods. Abdi atau pengabdian masyarakat merupakan proses lanjutan dari riset. Bagi ilmu-ilmu terapan tentu bisa dilanjutkan untuk menjadi bahan atau pedoman atau modul dalam pengabdian masyarakat. Semua prodi yang berbasis applied science harus dapat menghasilkan ujung akhir yang integratif. Dari pendidikan dan pengajaran menghasilkan riset dan dari riset atau penelitian dapat menghasilkan pengabdian masyarakat.
Tridarma Perguruan Tinggi di PTKIN masih parsial. Pendidikan dan pengajaran berdiri sendiri, demikian pula riset dan pengabdian masyarakat. Tidak ada korelasi antara ketiganya. Riset hanya menghasilkan laporan penelitian dan artikel jurnal. Di UNESA ketiganya sudah bercorak sistemik. Suatu contoh dari program pendidikan dan pengajaran menghasilkan rencana riset, dan hasil riset menghasilan modul untuk pengabdian masyarakat.
Di Indonesia, setiap Menteri Pendidikan memiliki keinginan untuk meninggalkan jejak kurikulum. Dari kurikulum MBKM menjadi Kurikulum Berdampak. Di dalam MBKM terdapat delapan atau sembilan Bentuk Kegiatan Belajar (BKP) yang saya kira relatif fleksibel untuk dilakukan. BKP itu relatif jelas dalam postur kegiatan belajarnya dan bagaimana kegiatan belajar tersebut terukur. Kurikulum berdampak di Kemendikti masih belum jelas posturnya. Di Malaysia terdapat komposisi kurikulum 50% teoretik dan 50% praksis. PTKIN sebenarnya bisa memilih bagaimana komposisinya.
Prof. Nasaruddin Umar, Menag, memiliki gagasan yang orisinal dalam mengembangkan pendidikan keagamaan di Indonesia dengan tidak menghilangkan legasi sebelumnya. Di masa sebelumnya terdapat arah pendidikan yang menghasilkan pendidikan Islam rahmatan lil alamin dalam wujud Moderasi Beragama. Paham dan pengamalan beragama berbasis cinta atau Agama Cinta adalah substansi dari Moderasi Beragama. Lalu dikembangkan Kurikulum Cinta (KC) dan Eco-Teologi (ET). Keduanya merupakan gagasan yang orisinal dan perlu dijadikan sebagai rekonstruksi kurikulum PTKIN. Namun demikian, kurikulum kiranya dapat dikembangkan dengan konsep trilogi kurikulum: Kurikulum Cinta, Kurikulum Eco-Teologi dan Kurikulum Karya (KK).
KC sebagai intinya adalah pengembangan pemahaman, sikap dan perilaku untuk mencintai humanisme berbasis pada kecintaan Allah dan Rasulnya, kepada bangsa dan negara, sesama manusia, Cinta Ilmu dan Cinta lingkungan atau disebut sebagai Panca Cinta. KET sebagai intinya adalah pemahaman, sikap dan perilaku yang menghargai, menghormati dan mengembangkan lingkungan berkelanjutan. KK adalah kurikulum yang selaras dengan kepentingan berkarya. Tentu ada jenjang berkarya sesuai dengan hard skilled dan soft skilled pada level S1, S2 dan S3. Setiap level dapat menggambarkan karya apa yang menjadi kemampuan masing-masing stratanya.
KK merupakan upaya untuk mengembangkan kurikulum yang momot dengan kapasitas untuk berkarya. Pada program SI maka yang dikembangkan adalah hard skilled dan soft skilled sesuai dengan prodinya. Kurukulum S1 dirumuskan dengan memberikan bekal pemahaman, sikap dan perilaku yang menghargai dunia kerja, berupaya untuk mengembangkan potensi diri mahasiswa di tengah tantangan four C atau creative thinking and innovation, critical thinking and problem solving, communications and communications. Rumusan kurikulum tentu dikaitkan dengan distingsi dan ekselensi sesuai dengan visi dan misi PTKIN.
Kurikulum S2 dirumuskan dengan lebih menekankan pada profesionalitas kerja dan juga mendorong untuk memecahkan masalah dan melakukan inovasi di dalam dunia kerja dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan yang dikuasainya. Fokusnya pada pendidikan berbasis inovasi karya, baik secara profesional maupun akademis. Sedangkan untuk kurikulum S3 diarahkan pada pemikiran inovatif yang menghasilkan bentuk-bentuk karya yang nyata, misalnya memberikan peluang untuk mengembangkan model di dalam dunia kerja atau menghasilkan karya akademis yang memiliki dampak positif bagi masyarakat.
Wallahu a’lam bi al shawab.

