Halal Lifestyle, Peran Dan Peluang Bagi PTKI Semakin Besar
Informasi"Dewasa ini keinginan untuk hidup secara lebih islami muncul di mana-mana, yaitu gaya hidup yang ditandai dengan, makanan dan minuman halal, rekreasi halal, menggunakan keuangan Syariah, dan kehidupan keagamaan yang semakin baik. Nah keinginan hidup yang demikian itulah yang disebut sebagal Halal lifestyle"
Hal tersebut disampaikan Prof. Dr. Nur Syam, ia mengatakan bahwa di mana-mana terlihat perempuan berjilbab, lelaki memakai pakaian gamis atau baju taqwa, restoran dengan label halal sebagai tempat makan atau minum, banyak yang menggunakan sistem keuangan syariah atau produk keuangan syariah, dan juga kecenderungan ibadah shalat jamaah, dan perkumpulan agama yang semakin semarak.
"Hal ini menandai perubahan yang sangat signifikan dalam pengamalan ajaran Islam dalam level-level kehidupan masyarakat," ujarnya.
Momen maraknya kampanye hidup Halal Lifestyle ini, UIN Sunan Ampel menyelenggarakan serangkaian seminar. Pada hari Selasa, 22/09/2020 adalah merupakan seminar putaran ke tiga. Webinar yang diselenggarakan ini menghadirkan pemateri dari Australia, Malaysia dan Indonesia. Hadir dalam kesempatan tersebut, Prof. Nadirsyah Hosen, dari Monash University Australia, Prof. Irwandi Jaswir dari International Islamic University Malaysia, Prof. Masdar Hilmy dari UIN Sunan Ampel Surabaya dan Prof. Nur Syam dari UIN Sunan Ampel Surabaya. Tema seminar bertajuk "Socio Cultural and Life Style Halal". Acara ini diinisiasikan oleh Halal Center UIN Sunan Ampel Surabaya.
Potensi Besar Tapi Belum Tergarap
Menurut Nur Syam, potensi produk halal di Indonesia sangat besar, misalnya produk makanan dan minuman, perdagangan, parfum dan komestik, obat-obatan, wisata atau tourism, dan barang gunaan. Indonesia memiliki sejumlah ikon wisata yang sangat masyhur, baik wisata religi maupun non-religi. Adapun wisata religi, seperti makam para wali, situs-situs keagamaan, dan wisata non-religi seperti pantai, hutan, gunung, teluk, danau, bawah laut dan air terjun. Demikian juga dengan berbagai produk kerajinan, seperti, rumah batik, rumah adat, desa adat, desa wisata, dan lainnya. Indonesia memiliki potensi kesenian dan budaya yang bisa menjadi momentum wisata lokal maupun internasional.
"Selain itu, Indonesia memiliki pusat-pusat perdagangan yang bertaraf internasional, baik di Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Surakarta, Semarang. Misalnya konsep Joglo Semar, dan sebagainya," ucap Nur Syam.
Di dalam Global Islamic Economy (GIE), menurut Nur Syam, negara-negara non muslim justru menjadi pengekspor besar pada produk-produk halal. Seperti halnya Australia yang menjadi pengekspor daging halal ke seluruh dunia, bahkan Vietnam dan Thailand menjadi pemain besar dalam perdagangan syariah melalui halal food di Jepang.
Baca Juga : Museum Musik Dunia di Indonesia
"Jadi bukan Indonesia yang menguasai pasarnya, tetapi negara-negara non muslim lainnya. Indonesia belum bisa menjadi pemain karena variabel harga yang masih tinggi, kemasan yang kurang baik dan sebagainya," jelasnya.
Sebenarnya Indonesia sudah masuk 10 besar negara yang memproduksi produk halal, dalam bidang halal food, islamic finance, mode fashion, halal pharmaceutical and cosmetics. Hal tersebut merupakan potensi-potensi besar yang saat ini sedang dimiliki oleh Indonesia. Di sisi yang lain, Indonesia juga sedang mengalami perubahan luar biasa, khususnya dengan meningkatnya kaum kelas menengah muslim. Hal ini bisa dilihat dari maraknya fenomena hijrah yang memiliki gaya hidup kontemporer dan koneksi yang kuat dalam komunitas mereka.
"Mereka (kelas menengah muslim) yang berhijrah mengadopsi nilai Islam (maqashidus syariah), membangun komunitas baru dan menjadi kelompok modern baru. Kecenderungan untuk belajar menjadi orang Islam yang lebih baik, mengikuti gaya hidup kontemporer, dan terkoneksi dengan komunitasnya," ujar Nur Syam saat menyampaikan materinya dalam seminar Halal Lifestyle tersebut.
Nur Syam juga menjelaskan bahwa, kelas menengah muslim ini juga ingin ikut terlibat dalam perkembangan pembangunan ekonomi di negara ini, mereka memiliki cita-cita untuk menjadi pengusaha, membangun bisnis, dan melakukan investasi halal. Hal ini merupakan bentuk kontribusi mereka dalam membangun Islam rahmatan lil alamin, menjaga dunia yang lebih baik dan terlibat di dalam kampanye untuk philantropi.
Empat Peran Perguruan Tinggi Islam
Fenomena Halal Lifestyle ini, menurut Nur Syam merupakan sebuah peluang besar bagi perguruan tinggi Islam untuk menunjukkan eksistensinya dalam dunia modern. Dalam hal ini setidaknya terdapat beberapa peran yang dapat dimainkan oleh perguruan tinggi Islam, yaitu pertama, gerakan sadar halal. Gerakan ini merupakan ajakan terhadap masyarakat untuk menggandrungi produk-produk halal."
Dalam menyikapi fenomena Halal Lifestyle, menurut Nur Syam, perguruan tinggi Islam harus memiliki peran maka ada empat peran yang dapat dimainkan oleh UIN Sunan Ampel, yaitu: pertama, Gerakan sadar halal. Seperti halnya disampaikan Nur Syam, ia mengatakan bahwa gerakan sadar halal diperlukan sebab masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam tentu memerlukan kehidupan yang berbasis halal.
"Misalnya tentang makanan dan minuman halal, rekreasi halal, fashion halal, keuangan Syariah, pemakaian barang gunaan yang halal, kosmetika dan obat-obatan halal. Memang yang semenjak dahulu pada waktu pembahasan RUU Jaminan produk halal merupakan problem pelik adalah tentang obat-obatan dan kosmetika halal. Potensi Indonesia mestinya cukup besar namun demikian belum bisa dioptimalkan," jelasnya.
Peran yang kedua, yaitu riset halal. Selama ini, riset halal masih belum tersentuh secara penuh oleh perguruan tinggi Islam. Sehingga, riset halal menjadi pekerjaan rumah sekaligus catatan agar varian riset akademik dengan tema produk halal semakin banyak. Nur Syam menilai bahwa, sesungguhnya banyak sekali tenaga riset yang sangat baik dari PTKI, khususnya UIN, namun demikian riset halal belum menjadi prioritas.
"Jika saya amati riset di PTKI lebih mengarah ke varian-varian akademik yang sifatnya lebih ke arah ilmu murni dan belum mengarah ke penelitian dengan signifikansi sosial yang lebih luas. Oleh karena itu, ke depan diperlukan riset yang lebih mengarah kepada kebutuhan dan prospek pengembangan kehidupan sosial, termasuk di dalamnya adalah riset dengan tema produk halal," ujarnya.
Peran yang Ketiga, Nur Syam mengatakan bahwa, PTKI harus dapat merumuskan integrated curriculum (kurikulum terintegrasi). PTKI sudah semestinya memetakan mana kurikulum di UIN atau IAIN dan STAIN yang bisa dimuati dengan produk halal.
"Dalam studi agama, misalnya harus ditekankan tentang Halal Lifestyle pada mata kuliah ilmu fiqih, hadits, tafsir, akhlak atau tasawuf dan mata kuliah di fakultas ekonomi dan bisnis Islam, fakultas syariah dan hukum, dan fakultas dakwah dan ilmu komunikasi," paparnya.
Peran yang keempat, harus didirikan Program Studi Audit Syariah. Nur Syam menilai, program ini sangat prospek dengan melihat perkembangan kehidupan masyarakat yang semakin religius. Dalam program ini setidaknya ada tiga peminatan, yaitu; audit keuangan syariah, audit zakat dan wakaf, dan audit produk halal.
"Lembaga keuangan syariah semakin besar jumlahnya, perkembangan wakaf dan zakat juga sangat luar biasa dengan peluang yang semakin besar, demikian pula tentang jaminan produk halal. Peluang bekerja sebagai audit syariah cukup besar, misalnya penyelia halal, pemeriksa keuangan syariah dan juga audit lembaga zakat infak dan sedekah," ujar Nur Syam. "Jadi ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh PTKI, hanya saja memang membutuhkan keberpihakan semua pihak, dan halal center tentu bisa memulainya," pungkasnya.

