Keistimewaan Gelar Habib Dan Perilakunya
InformasiSetiap keistimewaan mempunyai konsekuensi dan kewajiban. Salah satunya keistimewaan menyandang garis keturunan Nabi. Namun bila kewajiban yang didapat dari keistimewaan tersebut tidak terpenuhi, maka garis keturunan yang dimiliki tiada berarti.
Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Quraish Shihab Ulama Indonesia yang juga Lulusan Sarjana Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir dan Hadist Universitas Al Azhar Cairo Mesir, garis keturunan nabi yang dimiliki tidak akan ada artinya bila kewajibannya tidak dilaksanakan, yaitu berakhlak baik dan berbudi pekerti yang luhur.
"Misalnya Nabi Nuh punya anak, garis keturunannya ada. Tapi Allah menyatakan 'innahu 'amalun gairu sholih'. Tidak diakui dia oleh Tuhan sebagai garis keturunannya. Dan Tuhan menjanjikan 'Wahai Nuh, saya akan selamatkan kamu dan keluargamu," ceritanya dalam Bincang Shihab dan Shihab bersama Najwa Shihab yang diunggah di Kanal Youtube Narasi Tv, (26/01).
"Waktu anaknya sudah tenggelam. "Wahai Tuhan, anakku dari keluargaku?". Tuhan menjawab. Bukan. Jadi ada konsekuensinya. Dari sini kemudian, garis keturunan ini terpelihara yang semestinya ikut terpelihara sifat-sifat baik itu," tambahnya.
Mengapa Garis Keturunan Penting?
Garis keturunan menjadi penting karena terdapat pengaruh fisik dan psikis orang tua kepada anaknya. Demikian dituturkan oleh Quraish Shihab, dikutip olehnya dari salah satu buku yang berjudul Child Between Heredity And Education, yang menjelaskan tentang apa yang menjadi lebih pengaruh dalam garis keturunan.
"Yang jelas ada pengaruh dari ayah, kakek, dan sebagainya. Sehingga ini ada keistimewaannya," ujarnya.
"Dari sini kemudian ada orang-orang termasuk di Indonesia ini ada garis keturunannya (Nabi) dan itu terpelihara sampai sekarang. Agama demikian memerintahkan untuk memelihara garis keturunan Nabi," tambahnya.
Baca Juga : Prabowo dalam Kontestasi Paham Keberagamaan (2)
Tidak Dengan Pedang Ataupun Kekerasan
Quraish pun bercerita bahwa yang datang ke Indonesia yang termasuk dalam garis keturunan Nabi awal mula berasal dari Hadramaut. Namun sebelum sesampainya di Hadramaut, berada di Irak.
"Kemudian berhijrah dari Irak ke Hadramaut. Berhijrah dari Irak bukan untuk mencari nafkah ke Hadramaut. Karena dia kaya raya di Irak. Hadramaut gersang. Tapi dia datang untuk mengajarkan agama untuk mempersatukan masyarakat," ucapnya.
Lebih lanjut diceritakan oleh Quraish bahwa putra-putranya melanjutkan misi tersebut sampai kepada seorang yang dinamai Al-Faqih Muqaddam. Al Faqih Muqaddam ini sosok yang diistilahkan mematahkan pedang. Keturunannya inilah yang sebagian datang ke Indonesia untuk menyebarkan Islam bukan untuk mencari nafkah.
"Menyebarka Islam tidak dengan pedang, Tidak dengan kekerasan," jelasnya.
"Mereka tidak bisa berbahasa daerah Indonesia atau bahasa Jawa. Tetapi, bagaimana mereka bisa mempengaruhi masyarakat melalui akhlaknya," tambahnya.
Dikutip dari Al-Faqih Muqaddam oleh Quraish disampaikan "Kami tidak akan melakukan kekerasan apapun. Kami berdakwah dengan akhlak yang baik.'
Baca Juga : Jihad: Iming-Iming Jalan Pintas Menuju Syurga
Menyematkan kata 'Habib', Bagaimana Perilaku Seharusnya?
Lebih lanjut, kaitannya dengan garis keturunan Nabi, Quraish mengucapkan bahwa orang-orang yang menyematkan dirinya dengan sebutan Habib sudah semestinya memelihara diri dengan berakhlak baik bukan justru sebaliknya.
"Jangan membanggakan diri dengan keturunanmu. Jadi boleh berbangga, boleh merasa bersyukur, mempunyai garis keturunan kepada Nabi, tapi jangan tonjolkan itu. Melainkan, tonjolkan akhlakmu, tonjolkanlah kebaikanmu, tonjolkanlah keramah-tamahanmu," ucap Quraish.
"Kalau bertengkar, maki ini, maki itu, nuduh ini, nuduh itu. Itu sebenarnya bukan tidak menggambarkan ajaran leluhur. Itu tidak menggambarkan ajaran Islam," tambahnya lebih lanjut.
Ia juga memberi sebuah ungkapan yang dibacanya dalam literatur agama berbunyi, 'Bukannya seorang kesatria yang berkata, 'Kakek saya begini, Ayah saya begini. Tapi kesatria itu berkata. 'Ini saya yang melakukan itu."
Tak hanya itu, terdapat tugas-tugas yang semestinya dilakukan oleh orang-orang yang menyematkan dirinya dengan sebutan Habib. Demikian Quraish menyampaikan bahwa tugas yang pertama adalah menampakkan akhlak yang luhur. Karena mengaca pada Nabi yang tidak diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak.
"Kalau akhlaknya tidak baik, kalau akhlaknya maki-maki orang. Dia tidak melaksanakan fungsinya sebagai Habib. Fungsi Habib adalah teladan, menyelesaikan problem. Bukan menjadi sebab dari problem," jelasnya.
Sedang kata Quraish, makna kata 'Habib' itu sendiri berarti orang yang mencintai dan dicintai. "Dia adalah orang yang mencintai, sehingga dia dicintai. Kalau cuma mau dicintai, tidak mau mencintai ya bukan Habib," pungkasnya. (Nin)

