(Sumber : nursyamcentre.com)

Kejahatan Baru di Tengah Arus Globalisasi

Informasi

Seiring terus berkembangnya arus globalisasi yang begitu pesat, seiring itu pula pola hidup dan gaya hidup masyarakat pun mengalami perubahan. Satu sisi mengalami perubahan ke arah positif, sementara sisi lainnya ke arah negatif. Perubahan ke arah negatif, ditandai dengan munculnya berbagai macam bentuk konflik sosial dan kejahatan baru di ruang publik dan ruang digital.

 

Hal ini seperti yang disampaikan oleh I Ketut Adi Purnama Kasubag Analisis Direktorat Intelkam Polda Jabar, arus globalisasi memunculkan berbagai konflik sosial di tengah masyarakat, yaitu terjadinya persaingan ketat, kejahatan baru, dan disertai dengan memudarnya nilai luhur kebangsaan. Memudarnya nilai-nilai budaya bangsa tersebut akibat dari globalisasi yang tak dapat difilter dengan baik.

 

"Persaingan antar bangsa di dunia menginginkan NKRI menjadi lemah, bubar, dan terpecah," ucapnya dalam acara Focus Group Discussion (FGD) yang mengusung tema Kepemimpinan Kolektif Kolegial Dalam Menyelesaikan Masalah Umat Beragama, (17/09)

 

Tak hanya itu, I ketut menambahkan bahwa dampak arus globalisasi juga ditandai dengan masih terjadinya intoleransi baik antar umat beragama maupun inter umat beragama. Demikian masih ada kelompok yang memaksakan untuk mengganti ideologi dan atau dasar negara dengan ideologi tertentu. Akhirnya hal tersebut yang menjadi pemicu munculnya beragam bentuk penolakan di tengah masyarakat.

 

"Misalnya adanya aksi massa atau demo, aksi penyebaran konten di media sosial, dan terorisme," ujarnya.

 

Cyber Crime

 

Arus globalisasi yang salah satunya ditunjukkan dengan semakin berkembangnya teknologi, mengakibatkan munculnya profesi baru dan kejahatan baru. Demikian disampaikan I Ketut bahwa arus globalisasi membawa dampak positif dan negatif. Positifnya memunculkan berbagai profesi baru, seperti conten creator, Youtuber, dan Influencer.

 

"Sedangkan, negatifnya memunculkan beragam tindakan kejahatan baru, seperti cyber crime, yang meliputi yakni penipuan jual beli online, pembobolan kartu kredit, penyebaran konten illegal, dan pembajakan," ucap Iketut.

 

Lancarnya aksi kejahatan baru yang terjadi, salah satunya dipengaruhi oleh literasi dan minat baca masyarakat. Demikian disampaikan I Ketut bahwa literasi masyarakat Indonesia sangat rendah. Dengan minat baca yang rendah tersebut membuat masyarakat mudah percaya dengan informasi tanpa memfilter terlebih dahulu. Demikian masyarakat mudah menyebarkan informasi yang didapat.

 

"Masyarakat baru membaca judulnya saja yang bombastis ingin paling cepat menyebarkannya," tegasnya.

 

Lebih lanjut, I Ketut mengatakan bahwa kegiatan penyebaran informasi kerap ditujukan kepada kelompok atau individu tertentu dengan tujuan tertentu pula. Penyebaran informasi di media sosial atau group whatsapp oleh pelaku bertujuan untuk dapat mengubah perilaku kelompok atau individu sasaran yang ditargetkan itu disebut desiminasi.

 

"Adapun perubahan yang diharapkan dari diseminasi adalah akan terjadi pada aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan," pungkasnya.

 

Berdasarkan data dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) yang dikutip dari Kompas.com (12/08) tercatat ada hampir 190 juta upaya serangan siber sepanjang bulan Januari hingga Agustus 2020. Serangan siber tersebut naik empat kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu yang tercatat kisaran 39 juta.  Sementara angka terbanyak tercatat pada bulan Agustus 2020 terdapat kisaran 63 juta, jauh lebih tinggi dibandingkan Agustus 2019 yang hanya di kisaran 5 juta.

 

Kasubdit Identifikasi Kerentanan dan Penilaian Risiko Infrastruktur Informasi Kritikal Nasional III BSSN, Sugit Kurniawan dalam Kompas.com (12/08) menyampaikan bahwa kenaikan tajam jumlah serangan siber di Indonesia dipengaruhi langsung oleh perubahan pola hidup masyarakat selama pandemi. Sebab pemakaian internet dan transaksi online semakin banyak. Hingga mengakibatkan siber pun makin gencar melancarkan aksinya.(Nin)