(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Nilai Islam dalam Tradisi Jawa

Riset Budaya

Tulisan berjudul “Educating Islamic Values Through Wiwitan Tradition” merupakan karya Agus Maimun, Agus Indiyanto dan M. Mujab. Artikel tersebut terbit di Journal of Indonesian Islam tahun 2020. Wiwitan merupakan salah satu tradisi Jawa yang dianggap berakar pada agama Hindu dan Budha, sehingga mendapatkan label sinkretis. Seiring berjalannya waktu wiwitan berubah menjadi tradisi Islam yang menekankan nilai rasional-fungsional guna mengungkap rasa syukur. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi proses pendidikan nilai Islam melalui tradisi wiwitan. Pendekatan penelitian menggunakan deskriptif dan interpretatif melalui data yang diperoleh dengan wawancara. Terdapat empat sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, kaitan tradisi lokal dengan pendidikan Islam. Ketiga, nilai Islam dalam tradisi wiwitan. Keempat, mendidik nilai Islam dalam tradisi wiwitan. 

  

Pendahuluan

  

Tradisi wiwitan kebanyakan dipraktikkan oleh para petani di Jawa Timur dengan menggunakan berbagai sesajen. Selama ritual, para petani akan meninggalkan sesajen di sawah dan membacakan doa berbahasa Jawa. Tradisi ini berakal kuat pada tradisi lokal yang memiliki relevansi agama. Wiwitan menciptakan tatanan agro-ekologis sekaligus mendorong sosial ekonomi masyarakat sehingga harmoni tercipta, sebab ada keterkaitan secara kompleks dengan berbagai aspek kehidupan sosial. Ritual ini tidak terjadi dalam ruang hampa, melainkan terhubung secara dialektis dengan fisik, mental dan lingkungan.

  

Tulisan Agus Maimun, Agus Indiyanto dan M. Mujab berusaha menjawab tiga pertanyaan. Pertama, praktik tradisi wiwitan oleh para petani. Kedua, nilai-nilai pendidikan Islam yang dibangun dalam tradisi wiwitan. Ketiga, cara tradisi wiwitan dalam menyampaikan keislaman. Melalui jawaban yang dihasilkan dari pertanyaan di atas diharapkan menciptakan pemahaman yang lebih baik terkait bagaimana orang Jawa membangun ritual tersebut serta sifat dan fungsi praktik budayanya. 

  

Kaitan Tradisi Lokal dengan Pendidikan Islam

  

Secara umum studi terkait hubungan antara Islam dan tradisi telah menggabungkan studi Islam dengan sosiologi dan antropologi. Hasilnya, perkembangan Islam memiliki kaitan erat dengan budaya lokal. Kearifan lokal berpotensi memberikan nilai yang mirip dengan pendidikan Islam. Pendidikan Islam menyampaikan nilai dan cita-cita yang bersumber dari keislaman dan fenomena duniawi. 

  

Menurut Muhaimin dalam bukunya yang berjudul “Model Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran dalam Pendidikan Islam Kontemporer di Sekolah/Madrasah dan Perguruan Tinggi” memperkenalkan dua peta kajian ruang lingkup pendidikan Islam. Pertama, pendidikan Islam adalah sistem pendidikan yang sengaja diselenggarakan untuk mewujudkan ajaran dan nilai Islam. Pada implementasinya dikelompokkan menjadi lima jenis. Pertama, pesantren/madrasah. Kedua, madrasah dan pendidikan lanjutan sepeti universitas negeri di bawah Kementerian Agama. Ketiga, TK (Raudlatul Athfal/Bustanul Athfal). Keempat, pendidikan agama Islam (PAI) di sekolah, madrasah atau perguruan tinggi. Kelima, pendidikan Islam di keluarga, tempat ibadah atau forum pengajian dan sebagainya. Kedua, pendidikan Islam adalah sistem pendidikan yang dikembangkan dari dan diilhami dengan ajaran dan nilai Islam. Berdasarkan pengertian kedua ini, pendidikan Islam meliputi dua hal. Pertama, para pendidik yang melaksanakan dan mengembangkan kegiatan pendidikan yang dimotivasi untuk mewujudkan ajaran dan nilai Islam. Kedua, lembaga pendidikan dan komponennya seperti tujuan, bahan ajar, infrastruktur, metode dan evaluasi. 

  

Nilai Islam dalam Tradisi Wiwitan


Baca Juga : Gambaran Siti Khadijah di Abad 19

  

Sejak tahun 1980-an tradisi wiwitan berkembang Kediri Jawa Timur. Biasanya tradisi tersebut dilakukan dengan memberikan nasi, membakar dupa, menyemprotkan wewangian di sekitar sawah dan diikuti lima hingga tujuh orang. Sebelumnya, tradisi ini bersifat sinkretis dengan memadukan unsur Islam dan animisme. Di dalam perkembangannya, nilai keislaman semakin mendominasi. Unsur yang dianggap syirik berlawanan dengan ajaran Islam secara perlahan digantikan oleh ajaran yang lebih islami.  Misalnya, bunga dan dupa yang tidak lagi digunakan dalam ritual. 

  

Secara sosiologis, wiwitan dapat dipersepsikan sebagai kewajiban sosial yang memberikan pengakuan atas status sosial. Secara ritual, tradisi wiwitan semakin memudar seiring dengan berjalannya waktu. Secara substansial tradisi tersebut masih dipertahankan dengan nilai Islam, mulai dari penyajian makanan hingga doa. Bagi kelompok Islam moderat, tradisi wiwitan mengandung nilai syukur dan sedekah serta sarana membangun hubungan sosial dan emosional di antara para petani. Tradisi ini dapat menjadi sarana dalam membangun solidaritas antar masyarakat, sehingga tradisi ini bisa dipertahankan dengan modifikasi yang lebih islami. 

  

Mendidik Nilai Islam Melalui Tradisi Wiwitan

  

Tradisi wiwitan mengajarkan syukur dan sedekah yang sentral dalam praktik keagamaan. Tradisi ini identik dengan kenduri karena mengajarkan nilai-nilai leluhur tersebut. Berdasarkan perspektif pendidikan Islam, syukur dan sedekah adalah nilai ketuhanan yang penting terutama dalam keterkaitan hubungan dengan Tuhan. Selain itu, wiwitan juga mengandung nilai sosial dan toleransi berupa kerja sama, empati, rasa hormat dan tanggung jawab. Artinya, tradisi wiwitan bisa dikatakan sebagai ekspresi antara nilai ketuhanan dan kemanusiaan. 

  

Pada dasarnya nilai yang terkandung dalam wiwitan juga diajarkan dalam lembaga pendidikan formal seperti madrasah dan taman pendidikan al-Qur’an. Lembaga pendidikan Islam sangat strategis dalam membudayakan semangat keislaman dalam kegiatan pendidikan, khususnya dalam menyampaikan pesan dalam wiwitan sejak dini untuk menumbuhkan rasa empati. Misalnya, para guru atau pendidik yang mengajak anak didiknya untuk berbagi ketika orang tua sedang panen padi dengan membelikan makanan ringan untuk teman sekelas. Selain pada lembaga formal, pesan wiwitan juga disampaikan dan dilakukan di masjid, mushollah bahkan rumah penduduk yang biasanya setiap hari kamis malam.  

   

Kesimpulan

  

Berdasarkan hasil penelitian tiga akademisi di atas ditemukan bahwa tradisi wiwitan sudah mengalami dua signifikan transformasi. Pertama, berkembang dengan memasukkan nilai-nilai Islam. Kedua, memberikan signifikansi keagamaan dan sosial sebagai ruang budaya di mana individu dapat menunjukkan rasa syukur, sedekah dan menjalin ikatan persaudaraan hingga menciptakan toleransi. Hal yang menarik adalah tradisi ini tidak bertumpu pada kelas sosial atau status ekonomi untuk ikut bersama merayakannya ketika seseorang berhasil melakukan panen. Artinya, sudah jelas bahwa ruang budaya ini menyediakan sarana untuk menciptakan ikatan interpersonal yang kuat dengan rasa kebersamaan.