(Sumber : mommies daily)

Ketidaksetaraan dalam Fenomena Sandwich Generation

Informasi

Eva Putriya Hasanah

  

Dalam beberapa dekade terakhir, istilah “sandwich generation” semakin sering terdengar dan relevan dalam diskusi sosial dan demografis di seluruh dunia. Istilah ini menggambarkan individu, biasanya berusia antara 30 hingga 50 tahun, yang terjebak dalam tanggung jawab merawat dua generasi sekaligus: anak-anak mereka yang masih kecil atau remaja dan orang tua yang sudah lanjut usia. Fenomena ini bukan hanya sekadar tren sosial, tetapi juga mencerminkan perubahan demografis, ekonomi, dan budaya yang terjadi dalam masyarakat modern. 

  

Awal Munculnya Istilah

  

Istilah “sandwich generation” pertama kali diperkenalkan oleh Dorothy Miller pada tahun 1981 dalam sebuah artikel yang diterbitkan di The New Yorker. Dalam artikel tersebut, Miller menggambarkan orang-orang yang berada di tengah-tengah tanggung jawab merawat orang tua yang menua dan anak-anak mereka sendiri. Konsep ini segera menjadi populer, karena mencerminkan perubahan sosial yang terjadi pada saat itu, termasuk peningkatan harapan hidup, perubahan struktur keluarga, dan dinamika sosial yang lebih kompleks.

  

Sejak saat itu, fenomena ini telah menarik perhatian peneliti, pembuat kebijakan, dan masyarakat umum, terutama karena dampaknya yang signifikan terhadap kesejahteraan individu dan keluarga. Dengan semakin banyaknya keluarga multigenerasi dan meningkatnya beban tanggung jawab yang harus dipikul oleh individu dalam sandwich generation, penting untuk memahami lebih dalam tentang fenomena ini.

  

Fenomena Sandwich Generation: Mengapa Terjadi?

  

1. Peningkatan Harapan Hidup

Salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap fenomena sandwich generation adalah peningkatan harapan hidup. Dalam beberapa dekade terakhir, kemajuan dalam bidang medis, nutrisi, dan gaya hidup sehat telah memperpanjang usia manusia. Menurut data dari World Health Organization (WHO), rata-rata harapan hidup global meningkat dari 64 tahun pada tahun 1990 menjadi 73 tahun pada tahun 2019. Dengan meningkatnya harapan hidup ini, banyak orang tua yang hidup lebih lama, dan ini seringkali memerlukan perawatan yang lebih intensif di usia lanjut. Hal ini membuat anak-anak mereka, yang juga mungkin memiliki anak, harus mengambil peran ganda sebagai pengasuh.

  


Baca Juga : Upaya Rekonstruksi Masa Depan dalam Dunia Islam Kontemporer

2. Perubahan Struktur Keluarga

Perubahan dalam struktur keluarga juga memainkan peran penting dalam fenomena ini. Di masa lalu, keluarga besar sering tinggal bersama, dan tanggung jawab merawat orang tua yang lanjut usia dibagi di antara banyak anggota keluarga. Namun, dengan meningkatnya mobilitas dan urbanisasi, banyak keluarga kini hidup terpisah. Hal ini menyebabkan anak-anak untuk mengambil tanggung jawab merawat orang tua mereka, karena tidak ada anggota keluarga lain yang dapat membantu. Selain itu, dengan meningkatnya angka perceraian dan keluarga tunggal, anak-anak sering kali menemukan diri mereka dalam posisi untuk mendukung baik orang tua mereka maupun anak-anak mereka.

  

Ketidaksetaraan Gender dan Peran Pengasuhan

  

Salah satu aspek penting dari fenomena sandwich generation adalah peran gender yang terlibat. Dalam banyak budaya, perempuan sering kali menjadi pengasuh utama, baik untuk anak-anak maupun orang tua. Hal ini menciptakan ketidaksetaraan gender yang signifikan, di mana perempuan harus menanggung beban tanggung jawab yang lebih besar dibandingkan laki-laki. Sebagaimana struktur sosial yang ada memperkuat peran tradisional ini, sehingga perempuan sering kali terjebak dalam siklus pengasuhan yang melelahkan.

  

Disamping itu, dalam beberapa dekade terakhir, semakin banyak wanita yang memasuki dunia kerja dan mengejar karir. Meskipun ini merupakan kemajuan yang signifikan dalam kesetaraan gender, banyak wanita yang masih merasa terjebak dalam peran tradisional sebagai pengasuh. Mereka sering kali harus menyeimbangkan antara pekerjaan dan tanggung jawab merawat anak-anak dan orang tua. Hal ini menciptakan tekanan yang berat dan dapat menyebabkan stres serta kelelahan emosional.

  

Ketidaksetaraan ini tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada dinamika keluarga secara keseluruhan. Perempuan yang berada dalam sandwich generation sering kali harus mengorbankan karir dan ambisi pribadi mereka untuk memenuhi tuntutan pengasuhan. Ini menciptakan ketegangan dalam hubungan mereka dengan pasangan dan anak-anak, serta dapat menyebabkan perasaan frustrasi dan keputusasaan. 

  

Dampak Ekonomi dan Ketidakstabilan Finansial

  

Dari perspektif ekonomi, sandwich generation sering kali menghadapi tantangan keuangan yang signifikan. Mereka tidak hanya harus memenuhi kebutuhan anak-anak mereka, tetapi juga memberikan dukungan finansial kepada orang tua yang mungkin memerlukan perawatan. Biaya perawatan kesehatan yang meningkat dan pendidikan anak dapat menciptakan tekanan finansial yang berat. Dalam banyak kasus, individu dalam sandwich generation terpaksa mengambil cuti dari pekerjaan atau mengurangi jam kerja untuk memenuhi tanggung jawab keluarga, yang pada gilirannya dapat mengurangi pendapatan mereka.

  


Baca Juga : Ngobrolin Hal 18+: Kenapa Masih Dianggap Tabu, Padahal Justru Penting Banget Dibahas?

Ketidaksetaraan ekonomi ini sering kali diperburuk oleh struktur sosial yang ada. Misalnya, akses terhadap pendidikan dan peluang kerja yang lebih baik sering kali tidak merata, sehingga individu dalam sandwich generation mungkin tidak memiliki keterampilan atau sumber daya yang diperlukan untuk meningkatkan situasi keuangan mereka. Ketidakstabilan finansial ini menciptakan ketegangan yang lebih besar dalam keluarga, yang dapat memperburuk masalah kesehatan mental dan emosional.

  

Konflik Antargenerasi

  

Fenomena sandwich generation juga menciptakan konflik antargenerasi yang signifikan. Generasi yang lebih tua mungkin memiliki harapan tertentu terhadap anak-anak mereka, sementara generasi yang lebih muda sering kali merasa tertekan oleh tuntutan yang ada. Ketidakcocokan antara harapan dan realitas dapat menyebabkan ketegangan dalam hubungan keluarga. Misalnya, orang tua mungkin mengharapkan anak-anak mereka untuk memberikan dukungan finansial dan emosional, sementara anak-anak mungkin merasa tidak mampu memenuhi harapan tersebut.

  

Perbedaan nilai dan harapan ini dapat menciptakan ketegangan dalam keluarga. Dalam banyak kasus, individu dalam sandwich generation merasa terjebak di antara dua generasi yang memiliki kebutuhan dan harapan yang saling bertentangan. 

  

Solusi dan Dukungan Sosial

  

Mengatasi tantangan yang dihadapi oleh sandwich generation memerlukan pendekatan yang holistik dan berbasis pada pemahaman konflik yang ada. Dukungan sosial yang kuat sangat penting untuk membantu individu dalam sandwich generation mengatasi beban yang mereka hadapi. Ini termasuk dukungan dari komunitas, pemerintah, dan organisasi sosial yang dapat menyediakan sumber daya dan layanan yang diperlukan.

  

Penting juga untuk meningkatkan kesadaran tentang isu-isu yang dihadapi oleh sandwich generation, termasuk ketidaksetaraan gender dan ekonomi. Dengan menciptakan dialog yang lebih luas tentang tantangan ini, kita dapat mendorong perubahan struktural yang diperlukan untuk mendukung individu dalam sandwich generation. Ini mungkin termasuk kebijakan yang lebih baik terkait cuti keluarga, akses ke layanan perawatan yang terjangkau, dan program pendidikan yang dapat membantu individu meningkatkan keterampilan mereka.