Pembentukan Identitas Generasi Strawberry
InformasiEva Putriya Hasanah
Istilah “generasi strawberry” telah menjadi topik hangat dalam diskusi sosial dan budaya, terutama di kalangan anak muda dan para peneliti. Istilah ini merujuk pada generasi yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an, yang dikenal dengan karakteristik unik yang berbeda dari generasi sebelumnya.
Asal Usul Istilah
Istilah “generasi strawberry” pertama kali muncul di Taiwan pada awal 2000-an. Pada saat itu, para peneliti dan pengamat sosial mulai memperhatikan perubahan perilaku dan karakteristik anak-anak yang lahir di era tersebut. Mereka mengamati bahwa anak-anak ini cenderung lebih sensitif, mudah terluka, dan memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap orang tua dan lingkungan sekitar. Dalam konteks ini, istilah “strawberry” digunakan untuk menggambarkan sifat lembut dan rentan, mirip dengan buah stroberi yang mudah hancur.
Fenomena ini muncul sebagai respons terhadap perubahan sosial dan ekonomi yang terjadi di Taiwan dan negara-negara Asia lainnya. Dengan meningkatnya tekanan sosial, persaingan di dunia pendidikan, dan ekspektasi yang tinggi dari orang tua, anak-anak generasi ini sering kali merasa tertekan dan tidak mampu menghadapi tantangan yang ada. Hal ini menciptakan gambaran bahwa mereka adalah generasi yang “lemah” dibandingkan dengan generasi sebelumnya yang lebih mandiri dan tangguh.
Karakteristik Generasi Strawberry
Generasi strawberry memiliki beberapa karakteristik yang membedakannya dari generasi sebelumnya. Pertama, mereka dikenal dengan kecenderungan untuk menghindari konflik dan lebih memilih untuk mencari kenyamanan dalam lingkungan yang aman. Hal ini sering kali membuat mereka terlihat kurang berani dalam mengambil risiko atau menghadapi tantangan.
Kedua, generasi ini memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap teknologidan media sosial. Mereka tumbuh dalam era digital, di mana informasi dapat diakses dengan mudah dan interaksi sosial sering kali terjadi secara online. Meskipun ini memberikan banyak kemudahan, hal ini juga dapat menyebabkan masalah seperti kecemasan dan depresi akibat tekanan sosial yang ditimbulkan oleh media sosial.
Baca Juga : Kontribusi Sosiologi Terhadap Rumusan Paradigma Ilmu Dakwah
Ketiga, generasi strawberry menunjukkan kesadaran yang tinggi terhadap isu-isu sosial. Mereka lebih peka terhadap masalah lingkungan, kesetaraan gender, dan keadilan sosial. Banyak dari mereka terlibat dalam aktivisme dan gerakan sosial, menggunakan platform digital untuk menyuarakan pendapat dan memperjuangkan perubahan.
Pembentukan Identitas
Teori pembentukan identitas menyatakan bahwa identitas individu tidak terbentuk secara statis, melainkan merupakan hasil dari interaksi dinamis antara individu dengan lingkungan sosial mereka. Salah satu tokoh utama dalam teori ini adalah Erik Erikson, yang mengemukakan bahwa individu melalui berbagai tahap perkembangan, di mana setiap tahap melibatkan krisis yang harus dihadapi untuk mencapai identitas yang sehat. Dalam konteks generasi strawberry, tantangan dan krisis yang dihadapi mereka sangat berbeda dibandingkan dengan generasi sebelumnya, sehingga mempengaruhi pembentukan identitas mereka.
Lingkungan Sosial yang Berubah
Generasi strawberry lahir dan tumbuh dalam lingkungan sosial yang dipengaruhi oleh kemajuan teknologi, globalisasi, dan perubahan budaya yang cepat. Mereka memiliki akses yang lebih besar terhadap informasi dan berinteraksi melalui platform digital, seperti media sosial. Meskipun ini memungkinkan mereka untuk terhubung dengan berbagai kelompok, hal ini juga membawa tantangan baru, seperti tekanan untuk memenuhi standar sosial yang tinggi dan perbandingan yang terus-menerus dengan orang lain.
Dalam konteks teori sosial, lingkungan yang berubah ini menciptakan identitas yang lebih kompleks dan sering kali membingungkan bagi generasi strawberry. Mereka merasa terjebak antara berbagai norma dan nilai yang dihadapi, sehingga sulit untuk membangun identitas yang stabil dan kuat. Keterpaparan yang tinggi terhadap norma-norma masyarakat yang berbeda juga dapat menyebabkan kebingungan identitas dan kecemasan.
Gaya Pengasuhan yang Protektif
Gaya pengasuhan yang diterapkan oleh orang tua juga berkontribusi pada pembentukan identitas generasi strawberry. Banyak orang tua dari generasi ini mengadopsi pendekatan pengasuhan yang lebih protektif dan terlibat, berusaha melindungi anak-anak mereka dari kegagalan dan risiko. Meskipun tujuan ini baik, pendekatan ini dapat mengakibatkan ketidakmampuan anak-anak untuk menghadapi tantangan dan mengembangkan ketahanan.
Dalam perspektif teori sosial, gaya pengasuhan ini menciptakan individu yang cenderung bergantung pada dukungan eksternal untuk membangun identitas mereka. Ketidakmampuan untuk mengatasi konflik atau kegagalan menghambat perkembangan identitas yang kuat, sehingga individu merasa lebih rentan dan kurang percaya diri dalam menghadapi dunia.
Keterhubungan dalam Pembentukan Identitas
Meskipun generasi strawberry sering kali dianggap sebagai generasi yang lemah, mereka juga menunjukkan potensi untuk membangun identitas yang kuat melalui keterhubungan sosial. Dalam era digital, mereka memiliki peluang untuk terhubung dengan berbagai komunitas dan kelompok yang mendukung. Interaksi ini memungkinkan mereka untuk menemukan jati diri mereka dan menegaskan nilai-nilai yang penting bagi mereka.
Keterhubungan ini juga berperan dalam aktivisme sosial yang banyak dilakukan oleh generasi strawberry. Kesadaran mereka terhadap isu-isu sosial dan lingkungan menunjukkan bahwa meskipun mereka menghadapi tantangan, mereka juga memiliki keinginan untuk berkontribusi dan menciptakan perubahan positif di masyarakat. Ini menunjukkan bahwa identitas mereka tidak hanya dibentuk oleh tekanan, tetapi juga oleh aspirasi untuk menciptakan dampak yang lebih besar.

