(Sumber : nursyamcentre.com)

Kiat Menemani Belajar Anak SD Saat Learn From Home

Informasi

Menemani anak belajar saat learn from home di tengah pandemi menjadi tugas dan tanggung jawab orang tua terlebih bagi seorang ibu. Dengan sistem learn from home, beberapa ibu merasa senang karena dapat lebih dekat dan dapat mengetahui karakter anak. Namun, beberapa  ibu lainnya justru menghadapi kesulitan dan kesusahan dalam menemani anak belajar. Khususnya bagi yang mempunyai anak yang sedang duduk di kelas 1 dan 2 Sekolah Dasar (SD).

 

Fenomena tersebut menjadi suatu hal yang kerap terjadi belakangan ini di tengah pandemi. Demikian disampaikan Dosen Psikologi UIN Sunan Ampel Surabaya, Tatik Mukhoyyaroh,  S. Psi., M. Si mengatakan bahwa kesulitan dan kesusahan yang dialami seorang ibu saat menemani anak belajar merupakan fenomena umum yang banyak terjadi.

 

Menurutnya, hal ini karena dipicu oleh beberapa faktor yang mempengaruhi, seperti kesulitan dalam membagi waktu antara mendampingi anak belajar, waktu menyelesaikan pekerjaan domestik, dan pekerjaan ibu di luar rumah. "Ibu harus pintar dalam membagi waktu," ujarnya.

 

Beri Ruang Anak Untuk Lebih Aktif

 

Menemani anak belajar dengan pendekatan yang baik dan benar menjadi keharusan bagi setiap orang tua khususnya seorang ibu. Apalagi di tengah pandemi sekarang ini, seorang ibu demikian memerlukan kesabaran yang lebih ekstra dari sebelumnya. Seperti yang disampaikan Tatik, seorang ibu hendaknya memberi ruang sebebasnya kepada anak untuk dapat lebih aktif selama belajar. Bukan justru anak menjadi subyek yang pasif.

 

"Mendampingi anak belajar bukan berarti mengerjakan tugas sekolah anak. Memang kemungkinan ada yang seperti itu, karena ada beberapa sebab. Mungkin sebab anak tidak bisa berkonsentrasi dalam pelajarannya. Dan ibu tidak sabar untuk mendampingi belajarnya. Akhirnya biar cepat selesai, akhirnya ibu yang mengerjakan tugas anak," tuturnya.

 

Namun, cara seorang ibu yang justru meletakkan anak sebagai subyek yang pasif dapat berakibat buruk pada perilaku anak di kemudian hari. Salah satunya yaitu anak semakin bergantung pada ibu untuk menyelesaikan tugas. Sementara, anak akhirnya menjadi pribadi yang tak mau berusaha untuk membaca dan mengerjakan tugasnya sendiri. Demikian kata Tatik, hal ini yang akhirnya juga dapat secara otomatis anak menjadi tidak paham dengan pelajaran dan tugas yang diberikan oleh gurunya.

 

"Kita pahami bersama bahwa pembelajaran daring ini memang kurang optimal. Apalagi untuk anak-anak kelas 1 atau 2 SD. Karena tidak bisa bertanya langsung pada gurunya. Kadang orang tua kesulitan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan anak tentang mata pelajarannya," ucapnya.


Baca Juga : Chat GPT: Ancaman atau Peluang?

 

"Tapi, langkah ini memang harus diambil oleh pemerintah saat pandemi ini. Selain itu, seorang ibu dapat berbagi tugas dengan anggota keluarga yakni ayah dan anak yang lebih besar dalam menemani anak belajar," tambahnya.

 

Tiga Pendekatan yang Dapat Dilakukan

 

Seorang ibu demikian perlu memperhatikan setiap pendekatan yang digunakan saat menemani anak belajar dari rumah. Adapun beberapa tahapan pendekatan yang dapat dilakukan, yaitu pertama, membiarkan anak untuk membaca pelajarannya dan bab materinya. Demikian disampaikan Tatik, ia menuturkan bahwa seorang ibu harus memberi ruang kepada anak untuk membaca mata pelajarannya.

 

"Sedang, jika terdapat suatu hal yang belum dipahami, anak dapat bertanya kepada ibunya. Setelah paham baru anak diminta untuk mengerjakan tugas sekolahnya," ujarnya.

 

"Buat suasana yang menyenangkan saat belajar. Tanpa menuntut hasil belajar di luar kemampuan anak. Jangan membuat tuntutan terlalu tinggi ke anak, perlu dilihat kemampuan si anak,"  tambahnya.

 

Selain itu, pendekatan yang kedua yang dapat dilakukan, yakni orang tua juga dapat membuat kesepakatan jadwal kegiatan belajar bersama anak, seperti waktu selesai belajar dan menyelesaikan tugas. Sebagaimana disampaikan Tatik, ia mengatakan bahwa seorang ibu juga perlu membuat kesepakatan jadwal belajar bersama anak. Sebab baginya, hal ini dapat menanamkan rasa tanggung jawab anak untuk menyelesaikan tugas sekolah sebelum batas waktu yang ditentukan sekolah.

 

"Ada beberapa sekolah yang memberi waktu pada anak untuk menyelesaikan tugas sekolah sampai jam sekian.  Anak harus tahu aturan itu. Sehingga anak juga merasa punya tanggung jawab," jelasnya.

 

Lebih lanjut, Tatik mengatakan bahwa orang tua juga perlu menyeimbangkan waktu belajar dengan waktu bermain untuk anak. Sebab, menurutnya,  bermain adalah hal yang menyenangkan bagi anak.

 

"Beri reward si anak, jika sudah selesai tugas sekolahnya, ajak si anak untuk bermain. Kalau mungkin bermain dengan orang tua di rumah. Bermain kejar-kejaran, mainan lompat tali, monopoli, ular tangga, dan lain-lain. Atau permainan apapun yang bisa dilakukan di rumah," ucapnya.

 

Namun, ketika anak sudah mulai susah untuk memahami dan mengerti pelajaran. Sedangkan, orang tua demikian sudah merasa bosan. Kata Tatik, hal yang dapat dilakukan yaitu beristirahat sejenak dengan melakukan aktivitas lain di rumah. Setelah itu, baru dapat dilanjutkan kembali menemani belajar anak.

 

"Saya rasa iya, perlu dijelaskan lagi. Mungkin si anak bosan. Mungkin si ibu jga bosan dan gak sabar untuk mengajari anak. Diusahakan bikin suasana yang menyenangkan dan menggembirakan buat anak. Dan juga buat ibu tentunya," kata Tatik.

 

Di samping itu, pendekatan yang ketiga yang perlu dilakukan, yakni orang tua juga perlu menyiapkan fasilitas belajar daring yang memadai. Kata Tatik, orang tua harus menyiapkan beberapa fasilitas saat belajar dari rumah. "Berupa tablet, laptop, smartphone, Wifi atau jaringan internet lainnya yang memadai," pungkasnya. (Nin)