(Sumber : sultanTV)

Komitmen Menjaga Alam Suku Baduy

Informasi

Oleh: Eva Putriya Hasanah

  

Apa jadinya hidup tanpa internet? Saya rasa di zaman yang serba modern ini hampir semua orang akan menjawab sulit atau tidak bisa menjalaninya. Tapi disamping itu, ternyata ada pula sekelompok masyarakat yang justru enggan dengan adanya internet di lingkungannya. Mereka adalah suku Baduy. Beberapa waktu lalu, melalui surat yang dilayangkan ke Bupati Lebak, Pemimpin Lembaga Adat Baduy di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten meminta penghapusan sinyal internet di wilayahnya.

  

Internet dianggap membawa dampak negatif di wilayah Baduy. Hal ini terjadi karena bisa mengakibatkan generasi penerus di Baduy dengan mudah mengakses berbagai aplikasi dan konten tidak mendidik yang bertentangan dengan adat. Tujuan dari usulan ini adalah upaya lembaga adat untuk meminimalisir dampak negatif dari penggunaan internet warga. Selain itu, ini bisa menjadi upaya untuk mempertahankan kearifan lokal dan menjaga identitas suku Baduy. Permohonan penghapusan sinyal tersebut diprioritaskan untuk wilayah Baduy Dalam. Sementara di Baduy Luar, sinyal masih dibutuhkan untuk keperluan bisnis dan komunikasi dengan pemerintah. Wilayah Baduy dalam meliputi tiga kampung Cikeusik, Cibeo di Cikartawana. Sedangkan Baduy luar wilayahnya mencakup Kaduketuk, Cikaju, Gajeboh, Kadukolot, Cisagu, dan lain-lain.

  

Suku Baduy sendiri terbagi menjadi dua bagian yaitu Baduy Luar dan Baduy Dalam. Masyarakat Baduy Luar mengenakan pakaian adat yang serba hitam atau biru tua. Pada saat yang sama, orang Baduy dalam mengenakan pakaian serba putih dan terkadang menggunakan ikat kepala hitam. Perbedaan paling mendasar antara kedua suku ini adalah kepatuhan pada aturan adat dalam pelaksanaannya. Jika suku Baduy dalam tetap mengikuti aturan adat dengan benar, maka sebaliknya bagi Baduy luar. Masyarakat Baduy luar terkontaminasi dengan budaya selain Baduy. Penggunaan produk elektronik dan sabun diperbolehkan oleh seorang tokoh adat untuk menunjang operasional sehari-hari. Selain itu, Baduy luar juga menerima tamu dari luar Indonesia, mereka bisa berkunjung dan menginap di salah satu rumah warga Baduy luar. 

  

Alam dan Suku Baduy

  

Jauh dari adanya permintaan agar internet dihilangkan dari wilayahnya, suku Baduy sejak lama telah membentengi diri dari pengaruh dunia luar hingga saat ini. Bagi sebagian orang, ini akan terlihat sebagai sikap yang kolot, terbelakang dan sikap yang menunjukkan kemunduran. Namun di balik itu semua, tradisi-tradisi yang mereka patuhi telah membawa mereka pada perilaku yang lebih maju dalam menghadapi persoalan lingkungan. Suku Baduy mampu hidup selaras dengan alam dan hutannya serta selalu menghargai alam hingga sekarang ini. Hal ini tercermin dari segala perilaku yang mereka terapkan dalam kehidupan yang sederhana dan alami, diantaranya adalah: 

  

Pertama, penduduk suku Baduy memiliki mata pencarian melalui bertani dan berladang. Alamnya yang subur dan berlimpah mempermudah suku ini dalam menghasilkan kebutuhan sehari-hari. Hasilnya berupa kopi, padi, dan umbi-umbian menjadi komoditas yang paling sering ditanam oleh masyarakat Baduy. Uniknya sistem pertanian Baduy tidak mengenal alat penggarap sawah, baik yang menggunakan mesin maupun yang menggunakan kerbau atau sapi. Penggunaan mesin memang tidak diperbolehkan, sementara aturan adat melarang masyarakat suku Baduy memelihara hewan berkaki empatselain anjing demi menjaga kelestarian alam.

  

Kedua, proses kelestarian alam juga sangat berlaku saat membangun rumah adat mereka yang terbuat dari kayu dan bambu. Terlihat dari kontur tanah yang masih miring dan tidak digali demi menjaga alam yang sudah memberi mereka kehidupan. Rumah-rumah di bangun dibangun dengan batu kali sebagai dasar pondasi, karena itulah tiang-tiang penyangga rumah terlihat tidak sama tinggi dengan tiang lainnya.

  

Rumah adat Baduy memiliki 3 ruangan dengan fungsi yang berbeda. Bagian depan berfungsi sebagai tempat penerimaan tamu dan ruang menenun bagi perempuan. Bagian tengah berfungsi sebagai ruang tamu dan kamar tidur, ruang ketiga di bagian belakang digunakan untuk memasak dan sebagai ruang penyimpanan sawah dan beras. Semua kamar memiliki lantai anyaman bambu. Bahkan di atap rumah, ijuk atau daun kelapa. Rumah Baduy dibangun saling berhadapan dan selalu menghadap utara atau selatan. Sinar matahari yang menyinari dan masuk ke dalam ruang menjadi alasan mengapa rumah di sini dibangun hanya dua arah. Bahkan, seorang kepala suku bernama Pu\'un melarang jual beli tanah yang biasa dilakukan karena cita-cita konservasi dan hidup berdampingan. 

  

Ketiga, suku baduy masih berjalan tanpa alas kaki, tidak menggunakan transportasi sehingga bisa mencega terjadinya polusi yang mencemari lingkungan. Salah satu upacara adat bernama “Upacara Seba” menunjukkan bagaimana masyarakat Baduy memiliki ketangguhan fisik  dalam menempuh perjalanan dengan berjalan kaki. Dalam acara yang telah menjadi tradisi sejak Kesultanan Banten ini, mereka harus berjalan berkilo-kilometer untuk bersilaturahmi dengan para pimpinan pemerintahan di provinsi Banten. Dalam acara ini, mereka juga membawa hasil bumi berupa pisang, gula aren, beras, hingga laksa.

  

Keempat, selain menerapkan aturan orang Baduy sendiri, ada juga aturan pengunjung utama yaitu menjaga alam, tidak meninggalkan sampah di sembarang tempat, tidak menggunakan barang-barang dalam kemasan sekali pakai dan tidak menggunakan pasta gigi dan sabun di sungai.  

  

Perilaku-perilaku menjaga alam diatas, mereka lakukan agar alam terhindar dari kerusakan. Sebab, menurut mereka, jika alam rusak, maka hal itu bisa menyebabkan bencana alam. Selain itu, mereka juga berharap agar alam bisa selalu lestari dan tetap bisa dinikmati oleh keturunan masyarakat Banten. 

  

Selaras dengan perkataan Uten Sutendy, seorang budayawan Banten, yang penulis kutip dari website Biro pemerintah Provinsi Banten bahwa Suku Baduy merupakan cengcelengan (tabungan) Tuhan tentang hidup sederhana, keseimbangan alam semesta, dan menjaga ekosistem kehidupan yang masih tersisa di abad modern ini. Maka perlu bagi kita masyarakat modern di hari ini untuk belajar kepada suku ini tentang keseriusan, komitmen dan konsistensi untuk menjaga dan melestarikan alam.