Para Professor, Unggahan Media Sosial dan Kearifan Sosial
OpiniSaya memiliki sangat banyak WA Group atau WAG dari berbagai kelompok sosial yang mengundang saya menjadi salah satu anggotanya. Banyak sekali. Terkadang juga berpikir mau keluar saja. Tentu ada kaitannya dengan banyaknya pesan di dalam WAG yang bisa memberatkan Handphone saya. Jumlahnya bisa ratusan. Baik yang saya diundang secara khusus atau secara umum. Yang secara khusus adalah WAG dari kelas-kelas yang saya ampu dan yang secara umum adalah WAG yang memasukkan nama saya dalam WAG tersebut tanpa konfirmasi kesediaan saya.
Tetapi saya tetap bersyukur sebab nama saya banyak diundang di dalam WAG. Hal itu mungkin bisa menjadi bukti bahwa saya dikenal oleh sekurang-kurangnya admin WAG tersebut. Tetapi terus terang saya jarang memberikan komentar atas percakapan di dalam WAG. Tentu saja karena waktu yang tidak cukup tersedia untuk membacanya. Hanya WAG khusus saja yang saya baca dan kemudian saya respon. Ada alasan tertentu, misalnya waktu saya lebih banyak saya gunakan untuk menulis artikel dibanding dengan menjawab atau merespon tetek bengek unggahan di dalam WAG. Saya menjadi anggota WAG dari kalangan professor, kalangan dosen, kalangan mahasiswa, para birokrat, politisi, kelompok Islam moderat sampai yang garis “setengah keras”. Pokoknya komplit.
Jika ada waktu yang sangat luang saja saya sempatkan membaca celotehan di WAG. Jika tidak maka tanpa saya baca lalu saya delete saja. Pokoknya simple. Saya terkadang berpikir bagaimana orang bisa berlama-lama dan berpanjang-panjang dalam merespon WAG. Saya rasanya tidak mampu. Bagi saya lebih baik pikiran itu saya tuliskan untuk menghidupi dua web saya. Satu terkait dengan UINSA dan satu lainnya yang memang disengaja untuk kepentingan lebih luas. Blog nursyam.uinsby.ac.id dan Web nursyamcentre.com.
Tetapi suatu waktu saya mencermati atas unggahan di WAG tertentu, yang terdiri dari orang-orang hebat karena bergelar professor atau guru besar dalam variasi keilmuan. Komplitlah dari sisi keahlian di bidang ilmu pengetahuan. Ada yang ahli ilmu keislaman, ada yang ahli ilmu sosial, ilmu humaniora dan juga sains dan teknologi. Kebanyakan memang membicarakan fenomena yang sedang berlangsung khususnya masalah politik. Kala menjelang Pilpres, maka yang dominan adalah membicarakan tentang presiden dan wakil presiden. Macam-macam yang dibicarakan. Mulai dari yang normative, empiris, yang mencela dan membela, yang membunuh karakter atau yang mengembangkan hoaks. Namanya juga media sosial, dipastikan bahwa isi WAG tersebut seperti pasar raya. Serba ada.
Jika saya mencoba untuk mentipologikan, maka ada sekurang-kurangnya tiga hal. Pertama, kelompok kritis-nonproporsional. Yang penting memposting. Yang termasuk kategori ini adalah postingan dari berbagai tulisan yang kebanyakan dari kalangan kritis atas pemerintah. Obyeknya bisa presiden dan kebijakan pemerintah yang dianggapnya gagal. Nyaris semua postingan tersebut berasal dari kelompok yang berada di dalam posisi yang berseberangan dengan pemerintah. Membaca artikel atau postingan tersebut rasanya tidak ada kebenaran sama sekali dari pemerintah dalam menjalankan fungsi pemerintahan selama ini. Semua salah. KPK, BNPT, Densus 88, pemerintah pusat dan daerah semuanya salah. Kala menganalisis atas calon presiden juga sudah mengarah kepada tokoh yang diidolakan, dan melakukan sharing atas tokoh lainnya tanpa melakukan checking secara cermat atas informasi yang diposting.
Kedua, kelompok kritis-proporsional. Yang memposting apa yang dianggap penting. Kelompok seperti ini berada di dalam posisi yang relative berimbang. Artinya masih menempatkan diri pada posisi kritisisme yang konstruktif. Terkadang juga melakukan tindakan kritis pada pemerintah tetapi sekali waktu juga masih memberikan apresiasi atas hal-hal positif yang dilakukan. Tidak semua yang dilakukan pemerintah salah dan tidak semua yang dilakukan pemerintah benar. Ada posisi akademis yang dimainkannya. Apa yang diposting melalui penalaran yang mendalam dan memperhatikan manfaatnya. Ada posisi check and recheck dan check and balance.
Ketiga, kelompok silent majority. Para professor yang tergabung di dalam WAG bisa berposisi membaca atau tidak membaca. Membaca lalu menghapus atau tidak membaca dan langsung menghapus. Posisi ini memang tidak ideal. Artinya posisi yang tidak terlibat di dalam proses diskusi melalui WAG. Bukan tanpa alasan mengapa banyak orang yang tidak terlibat. Di antaranya adalah factor enggan berkomentar, karena terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan prinsip kehidupannya. Selalu terdapat orang yang berpandangan bahwa yang dibicarakan adalah sesuatu yang harus relevan dengan kebutuhan dan keyakinan bahwa yang diungkapkannya adalah kebenaran. Bahkan juga melalui pertimbangan hati nurani. Tidak serta merta atau grasa grusu untuk menyebarkan hal-hal yang bisa membuat orang lain tidak nyaman.
Saya tentu memiliki alasan yang logis adalah gagasan-gagasan itu selayaknya ditulis dan dipublish dalam media sosial yang standart. Media sosial dapat digunakan untuk menyuarakan pandangan yang relevan dengan ideologi atau keyakinan yang selama ini menjadi pegangannya. Jika kita menuliskan gagasan ke dalam tulisan yang terukur, maka produknya adalah karya yang bisa diapresiasi atau dikoreksi atau ditolak orang lain tetapi menggunakan medium yang sama, media sosial yang standart.
Oleh karena itu, saya kira para professor akan menjadi lebih bermakna kehadirannya dengan memposting tulisan atau karya yang mencerahkan atau menggairahkan dinamika pemikiran di antara kaum akademisi, meskipun pengaruh tulisan tersebut tidak massif.
Saya masih terus memposting tulisan-tulisan saya pada WAG yang memiliki relevansi dengan pemikiran saya. Bagi saya, meskipun kita bisa memposting apa saja di dalam media sosial, tetapi unggahan tersebut tetap harus melibatkan kearifan sosial.
Wallahu a’lam bi al shawab.

