(Sumber : Dokumentasi acara)

Mengembangkan Generasi PMII yang Kompeten

Informasi

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

  

Salah satu di antara kebanggaan dan kebahagiaan generasi senior atas juniornya adalah di kala para juniornya tersebut memperoleh dan memiliki kapasitas untuk menjadi pemimpin dalam level apapun. Sebagai senior PMII, maka saya juga bangga dengan prestasi kader PMII yang telah menapaki kesuksesan dalam berbagai level. Ada yang menjadi Menteri, Rektor, Wakil Rektor, Gubernur/Wakil Gubernur, Bupati/Wakil Bupati, Walikota/Wakil Walikota, DPR/DPRD, Pengusaha dan Kyai atau Ulama yang disegani. 

  

Kebanggaan dan kebahagiaan itulah yang kita rasakan kala terjadi pelantikan Ketua IKA PMII Komisariat UIN Sunan Ampel di Ruang Amphitheater UINSA, Jum’at 30 Agustus 2023. Yang didapuk menjadi Ketua adalah Prof. Akh. Muzakki, MAg, Grad. Dip. SEA, MPhil, PhD, sekaligus Rektor UINSA. Prof. Muzakki didampingi oleh Dr. Ali Mustafa, MPd, sebagai Sekretaris dan Prof. Dr. Wiwik Setiani, MAg, sebagai bendahara. Tentu juga didampingi oleh sejumlah Guru Besar UINSA, yang berstatus sebagai Dewan Penasehat dan Dewan Pakar, di antaranya adalah Prof. Dr. HM. Ridlwan Nasir, MA, Prof. Dr. H. Moh Ali Aziz, MAg., Prof. Dr. Muchid, Prof. Dr. Ali Mudhafir, Prof. Dr. KH. Ali Maschan Moesa, Prof. Dr. Zumratul Mukaffa dan sejumlah profesor dan doktor yang tidak semuanya saya sebutkan. Acara ini dihadiri oleh Ketua PW IKA PMII Jawa Timur, Dr. H. Thariqul Haq, MML, (Bupati Lumajang),  Ketua PC IKA PMII Surabaya, Mahfudz, SAg, (DPRD Jawa Timur), dan sejumlah pimpinan PMII Komisariat dan Rayon PMII di UINSA. 

  

Acara yang sangat semarak diikuti sejumlah pimpinan dan anggota PMII baik yang berasal dari UINSA maupun perguruan tinggi sekitar. Saya tentu mengapresiasi sebab acara ini ditempatkan pada ruang yang sangat sakral di dalam UINSA, sebagai tempat yang sangat khusus untuk forum pertemuan tingkat tinggi. Seminar internasional, atau menerima tamu penting untuk penandatangan MOU atau untuk kegiatan yang khusus. Ruang yang sangat representative untuk forum-forum penting.

  

Cak Thariq banyak bercerita tentang saat menjadi aktivis mahasiswa PMII pada waktu mengambil kuliah di Fakultas Adab IAINSA. “Saya masih ingat ruang Senat Mahasiwa yang masih bolong-bolong, tetapi di situlah kami bersama kawan-kawan menyusun pengembangan kapasitas diri di dalam menyongsong masa depan”. “ ditambahkannya: “Akhirnya aktivis PMII bisa menapaki kehidupan sebagai jabatan-jabatan atau pekerjaan yang luar biasa. Ada yang di DPR Pusat, di DPRD, ada yang menjadi Bupati atau Wakil Bupati, ada yang menjadi pengusaha dan juga kyai atau ustadz. Sebagai alumni Fakultas Adab yang berkecimpung dalam Bahasa Arab lalu menjadi Pimpinan Komisi Ekonomi di DPRD, maka tentu banyak istilah yang semula tidak saya kuasai, seperti deviden, BOPO, emiten dan sebagainya, tetapi dengan kapasitas sebagai aktivis, maka akhirnya bisa ditaklukkan”.

  

Ada beberapa aktivis PMII di masa lalu yang diminta untuk memberikan taushiyah, misalnya Prof. Ali Maschan. Beliau juga banyak bercerita tentang suka dan duka menjadi aktivis, misalnya pernah meringkuk dalam tahanan selama lima bulan karena demo yang dilakukan, dan juga akhirnya bisa menjadi anggota DPR, Guru besar, dan kyai. Ditegaskan: “Yang penting bahwa menjadi aktivis itu merupakan tujuan instrumental untuk meraih tujuan utama, yaitu menjadi manusia yang bermanfaat di manapun”. Sementara itu Prof. Ali Aziz menyampaikan bahwa: “silaturrahmi seperti ini sangat penting untuk menyambung relasi antara yang senior dan yunior. Ada Senior PMII seperti Prof. Ridlwan Nasir, saya, Prof. Nur Syam, dan sebagainya yang bisa diajak bersama-sama dalam memberikan masukan tentang apa yang penting diperlukan. Bicaralah dengan kami yang senior ini, termasuk juga bicara dengan Pak Rektor, saya kira Pak Rektor ini juga orang yang ikhlas untuk mengembangkan kita semua. Di Fakultas Dakwah, misalnya saya akan pensiun, demikian pula Prof. Nur Syam, maka segera disiapkan siapa yang akan menggantikan kami ini. Jangan sungkan untuk berhubungan dengan kami semua”. Demikian ungkapan Prof. Ali Aziz yang ahli dalam motivasi keagamaan.

  

Saya juga diberi peluang untuk menyampaikan sekedar taushiyah. Saya sampaikan tentang tantangan generasi PMII dewasa ini. Tantangan kompetisi yang sangat ketat. Oleh karena itu, warga PMII harus menguasai four C, yaitu: Competence, Critical Thinking and Problem Solving, Communication and Collaboration. Masa depan akan diisi oleh orang yang memiliki kompetensi, orang yang kritis dan memiliki kemampuan menyelesaikan masalah, memiliki kemampan komunikasi ke atas, ke bawah dan ke samping serta memiliki kemampuan kolaborasi atau kerja sama. Tanpa empat kecakapan hidup ini, maka warga PMII akan tertinggal zaman. 

  

Empat kapasitas ini bersifat sistemik, artinya seseorang memiliki kompetensi maka harus didukung oleh kemampuan berpikir kritis dan mampu memecahkan masalah, kemampuan berkomunikasi dan kemampuan bekerja sama. Jadi empat kapasitas ini bersifat holistic. Semuanya harus ada untuk bisa berkompetisi munuju kesuksesan. Kemampuan berpikir kritis dan problem solving menjadi tuntutan, sebab kehidupan di manapun posisinya harus menghasilkan inovasi. Berpikir kritis dan penyelesaian masalah menjadi basis bagi pertumbuhan inovasi yang bermanfaat. 

  

Di dalam tulisan ini lalu saya tambahkan satu hal mendasar yaitu spiritualitas. Rumusnya adalah four C plus spirituality. Jika kita memiliki semua ini maka dipastikan kita akan menjadi pemenang. To be winner. Di dalam hidup ada dua pilihan, to be winner or to be the losser. Maka pilihannya pasti menjadi pemenang.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.