(Sumber : Dokumentasi Peneliti)

Mendidik Akal dan Hati: Temu Muka Orang Tua Mahasiswa

Opini

Tidak salah jika para orang tua/wali mahasiswa mengirim putra dan putrinya untuk mengikuti program Pendidikan pada Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA), pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) yang memiliki program studi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Di institusi pendidikan ini, maka mahasiswa tidak hanya digembleng tentang ilmu aqliyah tetapi juga ilmu batiniah. Ilmu pengetahuan yang penting untuk menjemput kehidupan di dunia tetapi juga pendidikan untuk kepentingan akherat.

  

Inilah kata kunci di dalam ceramah saya dalam acara silaturrahmi antara orang tua mahasiswa/wali mahasiswa dengan segenap jajaran pimpinan FDK UINSA, 12/09/2023 di Gedung Auditorium UINSA Surabaya. Hadir seluruh pimpinan FDK, Dekan, Dr. Choirul Arief, Wadek bidang Pendidikan, Dr. Mohammad Anshori, Wadek Bidang Administrasi, Dr. Riesdiyah, dan Wadek bidang Kemahasiswaan, Dr. Abdullah Sattar.  Serta seluruh Ketua dan Sekretaris Program Studi pada FDK UINSA. Selain itu juga hadir Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerja sama, Prof. Dr. Abdul Muhid, MPsi, dan Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, Ketua Senat Akademik UINSA dan dosen pada FDK UINSA.

  

Ada tiga hal yang saya sampaikan pada pertemuan ini, yaitu: pertama, the power of silaturahim. Kita meyakini bahwa silaturahim itu memiliki kekuatan besar dalam membangun kebersamaan di antara kita. Silaturahim seperti ini, akan membawa kita kepada pengetahuan baru yang mungkin sebelumnya tidak kita dapatkan. Kita akan mendapatkan seperangkat pengetahuan yang banyak. Ada Prof. Ali Aziz, da’i internasional, da’i televisi dan juga dosen dan motivator yang andal. Dipastikan kita akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Kita bisa bertemu dengan Prof. Muhid, ahli psikhologi yang sangat teruji, dan lain-lain. Semua akan mengantarkan kita untuk bisa mengetahui hal-hal yang lebib baik. Silaturrahim akan menjadi ajang untuk membangun kebersamaan antara mahasiswa, orang tua/wali mahasiswa dan pimpinan serta dosen FDK. Kita akan bisa bekerja sama untuk mencapai kebaikan bagi generasi muda. Kita akan dapat saling berkenalan antar sesama wali/orang tua mahasiswa dan juga dengan dosen. Kita  akan dapat menjaga amal kebaikan antar sesama. Jadi itulah sebagai bagian kecil dari the power of silaturrahim.

  

Kedua, ada sebuah kata bijak yang disampaikan oleh Aristotels, seorang filosof, ahli ilmu hikmah bahkan ada yang menyatakan sebagai seorang Nabi, dia menyatakan: “Pendidikan yang hanya mengajarkan kecerdasan otak tanpa mengajarkan kecerdasan hati, maka hal itu bukanlah pendidikan.” Pendidikan yang benar tidak hanya mengajarkan tentang kepandaian akal semata, tetapi juga mendidik hati Nurani. Keseimbangan pendidikan antara kecerdasan otak dan kecerdasan hati adalah pendidikan yang benar. Hakekat pendidikan jika mengajarkan keduanya. Pendidikan harus menyentuh dimensi rational intelligent, emotional intelligent, social intelligent and spiritual intelligent. Cerdas akalnya, cerdas emosinya, cerdas sosialnya dan cerdas spiritualitasnya.

  

Jack Ma, seorang Taipan China, memberikan solusi atas pendidikan di masa depan, dengan formula: ajarkan value, ajarakan believing, ajaran critical thinking, ajaran team work dan ajarkan caring the others. Mahasiswa harus diajarkan tentang keyakinan bahwa ada kebenaran, ada kejujuran, ada kebaikan, lalu ajarkan tentang keyakinan bahwa kebenaran akan membawa kepada kebenaran, kejahatan akan membawa kepada kejahatan, ajarkan etika yang berasal dari agama, ajarkan agar bekerja keras dan sebagainya. Mereka juga harus diajarkan agar bekerja sama antar mahasiswa. Janganlah berpikir saya harus menjadi terdepan saja, tetapi juga menjadi yang terbaik tetapi berkemampuan bekerja bersama. Juga diajari untuk berpikir kritis yang menghasilkan inovasi untuk umat. Bukan berpikir kritis untuk merusak yang sudah benar dan baik. Dan yang terakhir agar diajarkan untuk memiliki kepedulian atas orang lain. Jika berhasil agar selalu ingat bahwa ada orang lain yang membantu keberhasilannya.  

  

Di manakah kita akan mendapatkan Pendidikan seperti itu? Jawabannnya adalah pada UINSA, termasuk pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK). Para mahasiswa akan diajari tentang bagaimana mengasah otak dan juga mengasah hati nurani. Kecerdasan emotional, kecerdasan social dan spiritual termasuk dalam bagian kecerdasan hati nurani. Oleh karena itu, Bapak dan Ibu tidak salah dengan menguliahkan anaknya ke UINSA pada FDK kita. Yakinlah bahwa melalui didikan para dosen yang benar akan menjadikan mereka generasi yang benar. Sebuah generasi yang siap menyambut Indonesia Emas 2045. Mereka para generasi muda inilah yang akan menikmati Indonesia Emas. Jika mereka benar di dalam pendidikannya, maka akan benar pula di masa yang akan datang. 

  

Ketiga, Pendidikan itu erat kaitannya dengan lingkungan. Di dalam pendidikan terdapat lingkungan Pendidikan atau education environment. Ada pimpinan institusi pendidikan, ada dosen dan tenaga kependidikan, ada mahasiswa dan orang tua mahasiswa, serta ada masyarakat. Semuanya harus berkolaborasi untuk ketercapaian tujuan pendidikan, yaitu mencetak generasi yang cerdas, kompetitif dan berakhlakul karimah. Oleh karena itu, semua harus bersinergi agar tujuan pendidikan bisa dicapai. Orang tua juga harus membantu untuk mengontrol putra putrinya. Misalnya dalam memilih organisasi ekstra kemahasiswaan. Carilah organisasi yang sah di mata negara, misalnya PMII, HMI, IMM, Anshor, atau organisasi kedaerahan yang jelas-jelas ideologinya tidak bertentangan dengan pemerintah dan masyarakat. Pantaulah  anak-anak jangan sampai masuk ke HTI atau jangan sampai masuk organisasi yang bertentangan dengan ideologi bangsa. Mari kita bekerja sama untuk menghasilkan generasi muda yang siap menyongsong Indonesia di masa depan dengan menjadi orang yang berprinsip “Keindonesiaan, Keislaman dan Kemoderenan.”

  

Wallahu a’lam bi al shawab.