(Sumber : Ngopibareng.id)

Keluarga Teroris di Jawa Timur

Riset Sosial

Artikel berjudul “They are Just the Same; Everyday Life of Terrorists’ Families in East Java Indonesia" merupakan karya Zakiyah, Koeswinarno, Anik Farida dan Wahab. Tulisan ini terbit di Al-Ihkam: Jurnal Hukum dan Pranata Sosial tahun 2023. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kehidupan sehari-hari keluarga teroris di Surabaya dan Sidoarjo, Jawa Timur, yakni bagaimana cara mereka berinteraksi dan beradaptasi dengan Masyarakat. Data diperoleh melalui wawancara terhadap pihak terkait, observasi dan studi pustaka. Terdapat empat sub bab dalam resume ini. Pertama, pendahuluan. Kedua, ledakan bom di Surabaya dan Sidoarjo. Ketiga, kehidupan sehari-hari teroris: strategi adaptasi. Keempat, bom bunuh diri dalam Islam. 

  

Pendahuluan

  

Sebagian besar keluarga teroris dianggap sebagai kelompok tertutup yang tinggal di wilayah sederhana, dan hanya mau berinteraksi dengan sesama anggota kelompoknya saja. Namun, berbeda dengan keluarga teroris di Surabaya dan Sidoarjo. Kehidupan mereka sama dengan keluarga lain yang tinggal di wilayah tersebut. Mereka berbaur dengan sesama warga dan mengikuti kegiatan-kegiatan di tempat tinggalnya, bahkan menjadi pengurus Rukun Tetangga (RT). 

  

Biasanya, penampilan fisik kelompok radikal identik dengan janggut panjang dan celana tiga perempat bagi pria, serta niqab bagi perempuan. Sebaliknya, teroris di Surabaya dan Sidoarjo mengenakan pakaian khas yang sama dengan umat Islam pada umumnya. Fenomena semacam ini sulit untuk dideteksi, sebab mereka beradaptasi dengan sangat baik sehingga dapat diterima di lingkungan tersebut. Selain itu, Masyarakat akhirnya tidak akan menaruh curiga bahwa mereka adalah kelompok radikal. 

  

Jika ditinjau dari pandangan Robert King Merton dalam tulisannya berjudul “Sociology Today” tahun 1959 dalam teori Sosiologi Deviance yang menyatakan bahwa cara penyesuaian keluarga teroris menyesuaikan diri dengan lingkungan dapat dipandang sebagai konformis. Pada saat yang sama, mereka menerima norma sosial secara umum demi menjaga ketertiban sosial. Pada kasus ini, Masyarakat terkadang bisa menjadi tempat berlindung yang aman bagi teroris, asal mereka mampu beradaptasi dengan baik. 

  

Ledakan Bom di Surabaya dan Sidoarjo 

  

Pada Senin pagi tanggal 13 Mei 2018 ketika umat Kristiani sedang melakukan ibadah di gereja, terjadi ledakan bom di tiga gereja serentak di Surabaya. Pertama, Gereja Santa Maria Tak Bercela, Jalan Ngagel Madya, Gubeng pada pukul 07.13 WIB. Kedua, lima menit pasca bom di gereja pertama, ledakan bom kemudian terdengan di Gereja Kristen Indonesia (GKI) di Jalan Diponegoro. Ketiga, Gereja Pentakosta Pusat Surabaya di Jalan Arjuno pada pukul 07.50 WIB. Dampak dari bom tersebut adalah kerusakan serius pada gereja, dan menimbulkan banyak korban jiwa. Menariknya, para pelaku berasal dari satu keluarga yakni ayah, ibu, dua orang putri, dan dua orang putra. Keempat, ledakan bom di Rusunawa tepatnya Blok B Lantai 5 Nomor 2, Wonocolo. Bom ini meledak secara tidak sengaja ketika proses perakitan dilakukan. Kelima, sehari kemudian tepatnya 14 Mei 2018 pagi, satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dua orang anak laki-laki dan seorang anak perempuan melakukan bom bunuh diri di depan gerbang kantor polisi Surabaya. 

  

Kehidupan Sehari-Hari Keluarga Teroris: Strategi Adaptasi


Baca Juga : Digital Nostalgia: Gen Z dan Pesona Masa Lalu

  

Pelaku bom dan terduga teroris di Surabaya dan Sidoarjo Jawa Timur hidup normal di Tengah masyarakat. Misalnya, satu keluarga pelaku bom tiga gereja di Surabaya sudah hampir tujuh tahun tinggal di kompleks perumahan kelas menengah atas. Tetangganya selama ini mengenal keluarga tersebut sebagai orang biasa yang ramah, karena sering malkukan interaksi, bahkan dengan non-muslim. Mereka juga dikenal sebagai keluraga yang sopan, dan taat beribadah karena kerap mengikuti salat berjamaah di masjid terdekat. Ternyata, ayahnya adalah pimpinan Jamaah Anshorud Daulah (JAD), Surabaya namun tidak terdeteksi. Hal ini dikarenakan ia menunjukkan identitas yang sama seperti muslim lain. Ia tidak berjanggut, maupun bercelana pendek layaknya stereotip pria yang berafiliasi dengan kelompok radikal.

  

Istrinya seorang ibu rumah tangga, bahkan pernah menjadi anggota Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Ia bertugas mengumpulkan sumbangan untuk masjid. Ia juga sering menghadiri pertemuan dan segala kegiatan warga sekitar. Pakaian yang ia kenakan juga sama seperti muslim pada uumumnya, tidak menggunakan niqab hanya kerudung. Apa yang ia kenakan juga berwarna warni, bukan serba hitam seperti kebanyakan perempuan dari kelompok radikal. 

  

Pelaku kedua yang tidak sengaja meledakkan bom ketika perakitan di Rusuunawa adalah teman dekat pelaku bom di tiga gereja tersebut. Keluarganya juga dikenal biasa, bahkan seorang Sarjana Teknik Elektro. Biasanya, ia berjualan kue buatan sang istri dari pagi hingga sore. Pakaian yang ia kenakan sama dengan umat muslim lainnya, bahkan sesekali ia menggunakan celana pendek. Ia terkenal ramah dan selalu menyapa tetangga ketika berjumpa. 

  

Pelaku ketiga yang melakukan bom bunuh diri di depan kantor polisi tinggal di sebuah kompleks perumahan kontrakan di Surabaya. Ia bekerja di bengkel dengan membuat kerangka rumah. Di mata tetangga, ia dikenal sebagai sosok yang pendiam dan hanya mau berbicara ketika di tanya. Tampilannya juga sama dengan muslim lainnya. Penampilannya tidak mencolok seperti stereotip kelompok radikal. 

  

Fakta di atas menunjukkan bahwa keluarga para teroris mampu menyesuaikan diri dengan Masyarakat di mana ia tinggal. Secara teoretis, adaptasi adalah kemampuan seseorang untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan atau mengubah lingkungan agar menguntungkan dirinya. Menurut Soerjono Soekanto dalam bukunya berjudul “Sosiologi: Suatu Pengantar”, ia menyatakan ada enam unsur adaptasi yakni proses mengatasi hambatan; mengikuti norma sosial untuk mengatasi tekanan sosial; proses perubahan untuk menyesuaikan situasi; pemanfaatan sumber daya yang terbatas untuk kepentingan lingkungan dan sistem; adaptasi budaya dan aspek lain akibat seleksi alam. Keluarga teroris nampaknya mengikuti unsur-unsur tersebut dengan menerima dan menghormati perbedaan budaya. 

  

Jika ditinjau dari batinnya, maka apa yang dilakukan keluarga para teroris ini menyimpang. Menurut Merton dalam karyanya berjudul “Science, Technology and Society in Seventeenth Century England” mengidentifikasi lima bentuk perilaku menyimpang yang berkaitan dengan adaptasi. Lima perilaku tersebut adalah keseuaian yakni perilaku seseorang mengikuti tujuan dan cara yang ditentukan Masyarakat; inovasi yakni tingkah laku seseorang mengikuti tujuan yang ditentukan masyarakan tapi dengan cara yang dilarang; ritualisme yakni penerimaan sarana budaya tetapi menolak tujuan budaya; retretisme yakni menolak baik cara maupun tujuannya; pemberontakan yakni tanggapan jangka pendek dalam diri seseorang menolak tujuan dan sarana Masyarakat. Keluarga teroris berbeda atau menyimpang karena mereka umumnya menerima tujuan kelompok teroris tapi menolak cara hidup sehari-hari.

  

Bom Bunuh Diri dalam Islam

  

Secara umum bom bunuh diri adalah tindakan jihad dan ‘mencari’ mati syahid oleh kelompok teroris. Rangkaian pengeboman di Jawa Timur diklaim sebagai “serangan syahid” dan menganggap sebagai bagian dari jihad. Menurut David Jan Slaviaek dalam tulisannya berjudul “Deconstructing the Shariatic Justification of Suicide Bombings” menyebutkan adanya empat prasyarakat yang harus dipenuhi guna melegitimasi bom bunuh diri menurut hukum Islam. Pertama, niat tulus para pelaku untuk mencari syahid. Kedua, tindakan tersebut memberikan keuntungan kepada umat Islam dan merugikan pisak musuh. Ketiga, situasi ini adalah keadaan perang. Keempat, bom bunuh diri adalah satu-satunya cara dan tidak ada taktik lain yang cocok. Berdasarkan empat aspek tersebut, bom bunuh diri di Jawa Timur tidak dapat mencapai tiga unsur di atas, meskipun para teroris mungkin saja berhasil memiliki niat tulus yang mereka klaim sebagai jihad. 

  

Pada konteks Indonesia, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa mengenai terorisme yang berbeda dengan jihad. Terorisme adalah kejahatan terhadap kemanusiaan yang terorganisir dengan sasaran yang tidak pandang bulu dan merupakan ancaman terhadap kedaulatan suatu negara. Di sisi lain, jihad memiliki dua makna yakni usaha keras menghadapi kesulitan dan mempertahankan diri dari agresi musuh; serta usaha terus menerus untuk memuji agama Tuhan. 

   

Kesimpulan

  

 Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa keempat keluarga teroris di Jawa Timur pernah berinteraksi dengan tetangganya dan menggambarkan bagaimana baiknya mereka beradaptasi. Penampilannya pun sama dengan orang-orang di sekitarnya. Alhasil, sulit untuk mengetahui keberadaan teroris. Adaptasi mereka menyebabkan adaptasi yang mereka lakukan berhasil dan diterima oleh Masyarakat. Pada saat yang sama, mereka tetap mempertahankan cita-cita batinnya sebagai kelompok teroris.