Menghadapi Bonus Demografi Dibutuhkan SDM Bertalenta dan Berkualitas
Informasi15 tahun ke depan, Indonesia dihadapkan dengan bonus demografi yaitu 45% populasi Indonesia atau setara 115 juta adalah kelas menengah baru. Hal ini sebagaimana disampaikan Prof Nur Syam bahwa 15 tahun ke depan akan muncul kelas menengah baru sebanyak kurang lebih 115 juta. Hingga, menurutnya, hal ini menjadi kesempatan dan peluang bagi PMII untuk mengambil peran dalam bonus demografi tersebut.
"Dimanakah kaum muda PMII di kelas menengah? Ini penting," ucap Nur Syam dalam acara Muktamar Pemikiran Dosen PMII secara live streaming di kanal YuoTube TV9 Nusantara, (06/04).
Tantangan ke depan kaum muda PMII sangat kompleks. Hingga dibutuhkan persiapan secara matang. Tak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur pemikiran, melainkan juga dituntut dapat terus menghasilkan suatu karya yang inovatif dan kreatif. Serta, dituntut memiliki kemampuan berkomunikasi dan berkolaborasi yang baik.
"Sangat berat tantangannya. Kita harus dapat memperkuat pemikiran keberagamaan kita yaitu Islam wasathiyah," ujarnya.
"Ingin berkompetisi di masa depan? Maka harus memiliki kemampuan belajar yang baik. Harus mempunyai persiapan yang baik," tambahnya.
Lebih lanjut, Nur Syam menyampaikan bahwa yang menjadi kata kunci 15 tahun ke depan adalah kualitas. Baginya, siapapun yang memiliki kualitas diri yang baik, maka dialah yang dapat berdaya saing di masa depan.
"Sekarang kata kuncinya adalah kualitas. Jika kita tidak punya kualitas. Tidak bisa bersaing 15 tahun ke depan. Harus belajar dengan serius. Teruslah mengasah talenta," papar Nur Syam.
"Tiada yang besar jika tiada yang kecil. Mulailah dari yang kecil untuk menjadi besar. Jangan pernah meremehkan sesuatu yang kecil," ungkapnya.
Baca Juga : Kompetisi Literasi Keagamaan Kementerian Agama (Bagian Satu)
Walau begitu, sejatinya generasi kaum muda PMII mempunyai karakter tersendiri yang melekat untuk menjawab tantangan-tantangan di masa depan. Seperti yang dipaparkan oleh Nur Syam, karakter yang melekat pada kaum muda PMII, yaitu penguasaan teknologi yang memadai, suka eksplorasi pengalaman baru, dan suka berkolaborasi. Hanya saja kekurangan kaum muda PMII menyukai suatu hal yang bersifat instant.
"Sehingga tidak suka membaca tulisan artikel yang panjang. Melainkan, suka membaca tulisan yang sedikit dan mudah dipahami. Misalnya, lebih suka instagram dan tiktok," tegasnya.
Mengetahui Peta Diri
Berbeda dengan Nur Syam, Prof Dr Mundzier Suparto justru mengatakan bahwa terdapat suatu hal yang tak kalah penting yang perlu dilakukan oleh kaum muda PMII untuk dapat berdaya saing di masa depan yakni mengerti apa yang menjadi kekuatan kaum muda PMII. Bahkan, menurutnya, kaum muda PMII harus mempunyai yang namanya peta diri Sumber Daya Manusia (SDM).
"Peta diri itu harus jelas. Masalahnya apa?. Peta kekuatan kita. kekuatan kita dimana? Siapa saja?Indonesia banyak butuh kita. akan tetapi, Indonesia kesulitan mencari orang yang dibutuhkan tersebut," ucapnya dalam acara Muktamar Pemikiran Dosen PMII secara live streaming di kanal Youtube TV9 Nusantara.
Mundzier kembali menyampaikan bahwa terdapat beberapa hal yang menjadi kelemahan kaum muda PMII diantara, yaitu banyak yang menggunakan label PMII hanya untuk pamor tanpa aksi nyata, mementingkan diri sendiri, dan persaingan yang tak sehat.
"Harus ada komitmen yang jelas. Komitmen pada pengkaderan dan pengembangan kader. Jangan saling menjegal. Perbuatan ini menjadi salah satu hal yang akan mampu membuat PMII dilibas oleh zaman," ucapnya.
Kaum muda PMII juga diharapkan menjadi sosok yang tangguh dan kuat. Sebagaimana disampaikan Mundzier, ia menyampaikan bahwa kaum muda PMII harus saling mendorong untuk menguatkan. Tak hanya itu, juga harus memastikan peta diri SDM sudah di tangan.
"Jangan mudah putus asa dan menyerah. Lalu bilang kalo hal itu takdir. Giliran berhasil bilangnya bukan karena takdir. Apakah benar seperti itu?. Lakukan apa yang bisa kita lakukan," pungkasnya. (Nin)

