(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Mulai Kolaborasi Hingga Komunikasi Dalam Membangun Toleransi

Informasi

Mewujudkan kehidupan toleransi beragama dibutuhkan kolaborasi bersama dari berbagai kalangan. Hal tersebut dimulai dari gerakan bersama mencetak karakter pemimpin yang kuat dan disertai dengan membangun kesadaran semangat toleransi. Gerakan ini dilakukan secara menyeluruh, mulai ke berbagai kalangan anak muda hingga ke akar rumput. Tak hanya itu, juga perlu didukung oleh pemahaman cara berkomunikasi yang baik antar umat beragama.

 

Hal ini seperti yang disampaikan oleh Pendeta Yerry Pattinasary Pegiat IBM, perlunya gerakan membangun mental sebagai pemimpin yang kuat. Selain itu, juga penting sekali membangun kesadaran agar tumbuh semangat toleransi dan kebangsaan yang kuat ke berbagai kalangan. Hal ini dilakukan sebagai salah satu langkah untuk mempersiapkan pemimpin-pemimpin yang bersuara lantang semangat toleransi.

 

"Anak muda berbicara toleransi ke kalangan anak muda. Komunitas enterpreuner berbicara toleransi kepada komunitasnya. Begitu pun seterusnya," ujarnya dalam acara Webinar Keberagaman yang bertajuk Tantangan Toleransi Dalam Membentuk Wawasan Kebangsaan Pemuda Indonesia yang diselenggarakan oleh Senat Mahasiswa fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Ampel Surabaya via Zoom, (16/10).

 

Selain diperlukan gerakan yang bersifat kolaborasi, guna mewujudkan kerukunan antar umat beragama penting bagi pemimpin-pemimpin yang memiliki ilmu pengetahuan yang luas dan wawasan yang luas tampil di ruang publik menyampaikan narasi pentingnya toleransi antar umat beragama.

 

"Sudah waktunya yang memiliki pengetahuan dan wawasan yang tinggi wajib menonjol. Harus ada filter dan budaya yang baik. semua bangsa Indonesia mempunyai semangat yang tinggi toleransi," ucapnya.

 

Membangun Komunikasi yang Baik

 

Seperti halnya Pdt Yerry, Prof Philip Widjaja Koordinator Bidang Pemberdayaan Forum Kerukunan Umat Beragama Provinsi Jawa Timur menyampaikan bahwa hubungan antar umat beragama dibangun dengan dasar semangat toleransi. Hal ini pertama dilakukan dengan membangun komunikasi yang baik antar umat beragama.

 

"Oleh karena itu saya mempunyai buku dari berbagai agama. Sehingga memahami berbagai agama secara universal. Banyak literasi. Tentu saja dalam berkomunikasi ada batasan-batasannya. Saya jangan berkomunikasi dengan begitu enaknya. Nanti mudah tersinggung. Menetralisir ucapan sehingga mencapai komunikasi yang baik," tutur Philip.


Baca Juga : Bayangin Buka Puasa Dikelilingi Sampah Plastik? Mahasiswa STIT Raden Wijaya Mojokerto: Nggak Mau!

 

Kemudian dilanjutkan dengan memahami sifat dan karakter lawan bicara. Tak hanya itu, perlu juga memahami apa perbedaan yang diperbolehkan dan tak diperbolehkan dalam agama orang yang diajak berkomunikasi. Membangun komunikasi yang baik juga penting untuk selalu mengedepankan dasar-dasar sifat, yaitu saling menghargai dan menghormati.

 

"Ada perbedaan yang bisa disamakan. Dan ada perbedaan yang tidak bisa disentuh dan disamakan," katanya.

 

Anak Muda Ikut Bersuara

 

Kerukunan umat beragama menjadi tonggak dalam kemajuan bangsa. Salah satunya dengan mewariskan wajah Indonesia yang menjungjung tinggi semangat toleransi. Namun polanya untuk mewujudkan semangat toleransi berbeda-beda dan sesuai dengan perkembangan zaman. Seperti yang disampaikan Philip bahwa mewujudkan semangat toleransi di Indonesia dapat dimulai dari pemudanya yang memiliki pandangan semangat toleransi. Sementara generasi sebelumnya dapat mewariskan sesuatu hal yang penting untuk diwariskan.

 

"Polanya diserahkan kepada pemuda. Karena memiliki polanya sendiri," imbuhnya.

 

"Definisi toleransi adalah melupakan yang lalu, memikirkan yang di depan. Memikirkan perdamaian di depan dan tak lagi meneruskan yang lalu," tambahnya.

 

Sementara ada beberapa penyebab mengapa toleransi bisa gagal. Hal ini sebagaimana disampaikan Philip bahwa terdapat tujuh penyebab yang dapat menyebabkan toleransi bisa gagal, yaitu kurangnya niat untuk berkomunikasi yang baik, kesalahpahaman toleransi, sedikit toleransi di dalam intoleransi, mencampuradukkan hal yang bisa dan tidak bisa toleran, komunikasi yang salah atau kurang tepat, waktu dan tempat komunikasi yang tidak tepat, dan gerakan semangat toleransi tak selalu dilakukan secara terus-menerus.

 

"Niat untuk berkomunikasi. Kalo niatnya basa-basi maka komunikasinya basa-basi. Namun sebaliknya kalo sungguh-sungguh maka komunikasinya sungguh-sungguh," pungkasnya. (Nin)