(Sumber : lp2m.uma (Universitas Medan Area))

Pendidikan di Era AI

Informasi

Oleh: Eva Putriya Hasanah

  

Sam Altman, CEO OpenAI telah datang ke Indonesia pada Rabu, (14/6/2023). Kedatangannya disambut dengan antusias dengan hadirnya Nadiem Makarim, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) RI, serta pengusaha batu bara yang juga Komisaris Bursa Efek Indonesia (BEI) Pandu Patria Sjahrir. Acara yang terbuka untuk umum itu sangat menarik karena popularitas ChatGPT, platform yang dikembangkan OpenAI. Kedatangan Sam Altman ke Indonesia terkait dengan komitmennya untuk memperluas pemahaman masyarakat Indonesia tentang teknologi AI dan manfaatnya. 

  

Indonesia bukan satu-satunya negara tujuan Sam Atman, namun banyak negara lain yang juga dikunjungi untuk mempromosikan AI. Diantaranya adalah Kanada (Toronto), Brasil (Rio), Nigeria (Lagos), Spanyol (Madrid), Belgia (Brussels), Jerman (Munich), Inggris (London), Perancis (Paris), Israel (Tel Aviv), Uni Arab Emirat (Dubai), India (New Delhi), Singapura, Indonesia (Jakarta), Korea Selatan (Seoul), Jepang (Tokyo), serta Australia (Melbourne).

  

Artificial Intelligence atau sering disebut AI merupakan ilmu pengetahuan tentang membuat mesin atau komputer memiliki kemampuan seperti manusia. AI dikembangkan untuk membantu menyelesaikan tugas secara lebih cepat, akurat, dan efisien. AI bekerja dengan meniru kemampuan berpikir manusia yaitu belajar dari data, mengambil keputusan berdasarkan data, serta menyesuaikan diri dengan lingkungan yang dinamis. AI yang canggih seperti saat ini berkat kemajuan besar di bidang Neural Networks, Big Data, dan Cloud Computing. AI mulai diterapkan dalam berbagai bidang seperti pendidikan, kesehatan, pertanian, industri, dan teknologi. 

  

Kemunculan AI menimbulkan pro dan kontra, sebagian berharap AI dapat meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan kualitas hidup manusia. Namun ada pula kekhawatiran AI akan mengambil alih pekerjaan manusia. 

  

AI dan Pendidikan

  

Artificial Intelligence (AI) memiliki potensi besar untuk membawa perubahan positif bagi kehidupan manusia. Namun seperti halnya teknologi lainnya, kehadiran AI juga memiliki sisi negatif dan bahaya yang harus diwaspadai. Di media sosial misalnya, ramai-ramai membagikan cara penggunaan AI dalam mengerjakan tugas-tugas kuliah seperti skripsi, review jurnal, pembuatan power point yang bisa selesai hanya dalam hitungan menit dengan menggunakan teknologi AI. Pengguna hanya perlu masuk dalam situs website kemudian menuliskan topik yang diinginkan. Proses yang cepat dan instan ini tentu saja banyak diinginkan oleh banyak orang. Tetapi, dalam dunia pendidikan tugas-tugas itu tidak hanya sekedar ingin menghasilkan karya atau temuan tertentu tetapi ada nilai dan karakter yang ingin di bangun melalui proses panjang dari pengerjaan tugas itu yakni kejujuran atas hasil pikiran dan karya sendiri. Seseorang juga akan cenderung untuk membatasi pemikiran dan imajinasinya terkait tugas yang diberikan. Hal ini tentu saja menjadi persoalan sekaligus tantangan yang dihadapi oleh pendidikan khususnya di Indonesia. 

  

Pada kesempatan di Jakarta, CEO AI menyampaikan bahwa pendidikan jelas akan berubah.  Namun, pendidikan telah mengalami perubahan berkali-kali sebelumnya sebagai dampak dari perkembangan teknologi. Menurutnya, memang akan selalu ada kekhawatiran seperti saat kemunculan kalkulator hingga mesin pencari Google. Namun menurutnya, dengan alat yang lebih baik, kemampuan, kreativitas, dan potensi manusia juga akan meningkat. Sebab, seseorang bisa menggunakan kapasitas kognitif dan kemampuan kreatifnya untuk sesuatu yang baru dan lebih kuat.

  

Hal yang disampaikan oleh CEO AI tersebut harusnya bisa menjadi sinyal untuk dunia pendidikan agar segera melakukan perubahan. Sebab perkembangan teknologi akan lebih sulit untuk dihindari. Sedangkan teknologi tidak bisa mengajarkan nilai-nilai dan karakter baik bagi seseorang, hanya pendidikan lah yang sanggup melakukan itu.

  

Jika pendidikan tidak mampu mengimbangi perkembangan teknologi ini, penggunaan AI justru akan berbuah dampak negatif, diantaranya hilangnya nilai kejujuran dalam diri generasi kita. Selain itu, penggunaan AI yang tidak bertanggung jawab dapat merugikan bagi keamanan, privasi, keadilan, dan kesejahteraan masyarakat. Untuk itu, diperlukan kebijaksanaan setiap individu serta kebijakan dan kerangka regulasi yang tepat demi mengoptimalkan manfaat serta memitigasi risiko dari penggunaan AI.