(Sumber : Dokumentasi Pribadi)

In Memoriam Pak Muntaha: Contoh Kesederhanaan dan Keikhlasan

Khazanah

Beberapa kali saya bertemu  Pak Muntaha, Dosen Senior pada Fakultas Adab dan Humaniora, di Kampus UINSA Gununganyar. Seperti biasa dengan baju putih, celana hitam,  sepatu hitam dan kopyah hitam yang dikenakannya.  Lugu.

  

Saya bertemu pada pagi hari.  Hari itu  Pak Muntaha sedang bercanda dengan para pegawai, kelihatannya office boy, di belakang kantor dan ruang kuliah Fakultas Saintek dan Fakultas Adab dan Humaniora. Yang tidak pernah lupa adalah rokoknya. Sayangnya saya tidak pernah bertanya rokok yang disedotnya. Tetapi sekali waktu pernah saya sarankan ganti rokok yang biasa dipakai oleh sahabat-sahabat dosen di UIN Maliki Malang. Konon katanya justru bisa menyembuhkan penyakit. Ada merek 1 sampai 40 yang masing-masing ada kegunaannya. Gak tahulah.

  

Pertemanan saya yang akrab adalah kala saya menjadi Rektor  IAIN Sunan Ampel, tahun 2008-2012. Akhir 2008 sampai awal tahun 2012. Saya dan Pak Muntaha punya kesamaan menyukai ziarah makam para wali. Jika menjelang puasa,  saya, Pak Muntaha dan kawan-kawan sengaja untuk ziarah makam wali. Mulai dari Kanjeng Eyang Sunan Ampel, terus ke barat Sunan Giri, ke Kanjeng Eyang Sunan Drajat, Sunan Raden Qasim yang di atas bukit, Kanjeng Eyang Sunan Bonang, dan malamnya menginap di rumah saya di Tuban. Pagi harinya melanjutkan perjalanan ke barat ke Kanjeng Sunan Kudus, Kanjeng Sunan Muryo, dan Kanjeng Eyang Sunan Kalijaga di Demak. Lalu balik ke Surabaya. Bahkan sambil bercanda saya ungkapkan, “kapan kita ziarah makam lagi.” Keinginan ini akhirnya tidak kesampaian. 

  

Dalam dua hari kita berada di dalam satu mobil dengan canda riang, bahkan juga saling gojlokan. Tidak ada batas antara rektor dan bukan. Kita sungguh sejajar dalam sebuah perkawanan yang akrab. Saya yang mengungkapkan tujuan ziarah di makam para auliya dan  berwashilah. Pak Muntaha yang selalu menjadi imam dalam ziarah. Memimpin kita semua untuk tahlil dan membaca yasin serta doanya sekaligus. Imam yang komplit. 

  

Saya sungguh terkesan. Pak Muntaha menurut saya adalah tipe orang yang ramah, gampang senyum dan guyonan. Sampai akhir-akhir ini sebelum wafat, saya masih mendapati kenyataan tersebut. Saya selalu menyempatkan turun dari mobil kalau saya melihat Pak Muntaha berdiri di tangga bersama para mahasiswa dan juga para pegawai UINSA. Belum bicara apa-apa sudah senyum. Saya sempatkan ngobrol meski sejenak. Suatu ketika Pak Muntaha bercerita tentang masa pensiunnya. Kalau tidak salah tahun depan. Pak Muntaha tetap gembira akan purna tugas. Begitulah beliau.  

  

Meskipun saya tidak pernah bertanya kepada para mahasiswanya, tetapi saya yakin Pak Muntaha pasti disayangi dan dihormati oleh para muridnya. Dengan pembawaannya yang kalem, bersahabat dan mendidik dipastikan ada kesan khusus dari para mahasiswanya. Sama juga dengan pandangan para koleganya. Dipastikan Pak Muntaha juga welcome bagi para koleganya. Itulah sebabnya Pak Muntaha dipastikan dikenal sebagai dosen dan kolega yang baik. Suatu ketika saya tanya kenapa tidak melanjutkan program doktor, dan jawabannya membuat saya tercengang. “Sudah menjadi magister sudah cukup Prof. Saya sudah bersyukur.” Merasa cukup itulah yang tidak banyak dimiliki oleh orang lain. Para dosen terkadang memiliki ambisi dan keinginan  seperti akan menyentuh langit, tetapi Pak Muntaha justru merasa cukup dengan apa yang diberikan oleh Allah. Pak Muntaha sempat mencicipi jabatan birokrasi pada Fakultas Adab dan Humaniora, menjadi Wakil Dekan. Jabatan yang terhormat di dalam jajaran birokrasi pada perguruan tinggi. Tetapi yang sungguh hebat adalah keteladanannya untuk mendawamkan membaca Al-Qur’an setiap hari. Sekurang-kurangnya dua juz. Setiap hari.

  

Mungkin sebulan saya tidak bertemu Beliau di UINSA, akhirnya terdapat berita bahwa Beliau dirawat di Rumah Sakit. Konon sakit jantung. Saya tahu dari WAG UINSA dan WAG Senat UINSA. Kira-kira sepekan, sampai akhirnya di WAG UINSA dituliskan kalimat “Inna lillahi wa inna ilaihi Raji’un” untuk Pak Muntaha. Yang maknanya, Pak Muntaha sudah menghadap ke hadlirat Allah SWT. Beliau telah dipanggil oleh Allah. Tepatnya pada hari Jum’at, 16/06/2023. Pesan di WAG UINSA dinyatakan oleh Haris Shofiyuddin, dengan unggahan pesan: “inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Mohon doa atas meninggalnya Pak Muntaha FAHUM. Semoga almarhum diampuni semua dosa-dosanya, diterima semua amal ibadahnya serta keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan keikhlasan. Amin ya Rabbal alamin. Lahu al fatihah.” Setelah itu mengalir deras ucapan bela sungkawa dan doa dari kolega di UINSA.

  

Drs. Muntaha, MA adalah dosen pada Prodi Bahasa dan Sastra Arab yang masuk dalam rumpun Ilmu Agama. Beliau lahir pada tanggal 12 Juli 1959. Jadi satu tahun lagi akan purna tugas sebagai dosen UINSA. Hanya saja Allah berkehendak lain. Akhirnya Beliau harus menghembuskan nafas terakhirnya untuk menghadap ke hadirat ilahi rabbi.

  

Kita semua menyaksikan bahwa Pak Muntaha adalah orang yang baik yang layak baginya memperoleh rahmatnya Allah SWT untuk menjadi salah satu penghuni surga. Amin Ya Rabbal Alamin. Lahu al fatihah.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.