(Sumber : nursyamcentre.com)

Road Map Memasuki Revolusi Industri 4.0 di Tengah Pandemi

Informasi

Perubahan pola aktivitas dalam kehidupan yang awal mulanya hanya dapat dilakukan secara tatap muka kini tampak mengalami perubahan cukup dramatis di tengah pandemi. Saat ini terlihat hampir semua aspek aktivitas dalam kehidupan, mulai dari belajar, bekerja, hingga bersilaturrahmi dilakukan secara daring atau online dengan segala keterbatasan, baik dalam kemampuan pengaplikasian teknologi, kuota internet, ataupun infrastruktur pendukung jaringan. Hal ini tak lain karena dampak dari wabah Covid-19 dan diikuti dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat atau yang disebut Revolusi Industri 4.0. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Dr. Chabib Musthofa Wakil Dekan III Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Sunan Ampel Surabaya bahwa kini sudah saatnya menguatkan budaya politik di era Revolusi Industri 4.0 dengan kemampuan Society 5.0.

 

Dalam sebuah acara yang bertajuk 'Menguatkan Budaya Politik Dalam Pengaruh Arus Industri 4.0 dan Society 5.0' yang diselenggarakan oleh Badan Kesatuan Bangsa Dan Politik Pemerintah Provinsi Jawa Timur  di Hotel Aston Madiun, (18/07), Chabib sebagai salah satu narasumber pada acara seminar tersebut memaparkan di awal penjelasan terkait arus gelombang revolusi industri di Indonesia hingga berbagai dampak yang diakibatkan oleh revolusi industri tersebut.

 

Tampak di layar PPT yang ditayangkan oleh Chabib sebuah infografis yang menggambarkan gelombang revolusi industri yang berdasar pada sumber Tim Riset CNBC Indonesia. Dalam gambar tersebut dijelaskan bahwa pada tahun 1712 terjadi Revolusi Industri 1.0  yakni revolusi manufaktur. Dalam revolusi pertama ini kegiatan manusia yang awal mulanya bekerja hanya dengan sebuah senjata alat apa adanya, yaitu cangkul. Lalu, tak berlangsung lama keadaan tersebut berubah setelah ditemukan mesin uap oleh Thomas Newcomen yang disempurnakan oleh James Watt yang akhirnya memunculkan banyak pabrik.

 

Sementara, pada tahun 1870 terjadi Revolusi Industri 2.0 yakni revolusi teknologi. Awal mula Indonesia masih dalam kuasa Belanda sebagai produsen komoditas perkebunan. Sementara, Belanda menjadikan rel kereta sebagai alat untuk mempercepat laju barang. Namun, hal tersebut juga tak berlangsung lama setelah ditemukan inovasi transportasi dengan membangun rel kereta dan listrik sebagai proses Bessemer untuk memproduksi baja.

   

Pada tahun 1970 terjadi Revolusi Industri 3.0 yakni revolusi informasi. Saat Indonesia beralih dari negara agraria ke industri hingga saat itu juga kerap kali memberi sebuah intensif di sektor industri. Misalnya, ditemukannya komputer. Hal ini berdampak pada berubahnya semua sendi aktivitas ekonomi dan juga semakin tumbuh berkembangnya inovasi di bidang teknologi informasi. Terakhir, Revolusi Industri 4.0 yakni revolusi digital. Indonesia masih dalam sebuah laju revolusi teknologi informasi dengan segala macam dampak teknologi informasi, seperti disrupsi digital. Namun, teknologi informasi terus berkembang yang akhirnya ditemukan sebuah kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan internet segala hal atau internet of things (IoT).

 

Muncul Konsep Industri 4.0

 

Adanya Revolusi Industri 4.0 tersebut mengakibatkan munculnya sebuah konsep Industri 4.0, yang menghasilkan sebuah gambaran mengenai perkembangan teknologi yang demikian cepat dari abad ke abad. Seperti halnya disampaikan Chabib bahwa dalam konsep Industri 4.0 terjadi perkembangan teknologi yang telah dimulai sejak akhir Abad ke-18 yaitu Revolusi Industri 1.0, awal Abad ke-19 yaitu Revolusi Industri 2.0, awal Abad ke-20 yaitu Revolusi Industri 3.0, dan sekarang Revolusi Industri 4.0.

 

"Revolusi pertama ditemukannya teknologi  mesin uap yang mendorong mekanisasi dalam proses industri. Kemudian, revolusi kedua mulai diterapkannya konsep produksi massal melalui produksi penggunaan mesin bertenaga listrik dan ditemukannya konsep standarisasi industri. Setelah itu, saat revolusi ketiga mulai diterapkannya teknologi informasi dan elektronika untuk otomasi produksi dan penerapan konsep kostumisasi industri. Terakhir, revolusi keempat yang didasari pada penerapan sistem produksi psikal cyber yang menggabungkan dunia nyata dan dunia maya," ucapnya.


Baca Juga : Kompetisi Literasi Keagamaan Kementerian Agama (Bagian Dua)

 

"Pada industri keempat ini sebagian besar didorong oleh konvergensi inovasi digital, biologis, dan fisik. Demikian revolusi industri keempat ini akan melibatkan perubahan sistemik di banyak sektor dan aspek kehidupan manusia," imbuhnya.

 

Peta Jalan Menjadi Indonesia 4.0

 

Revolusi Industri 4.0 tak hanya menjadi tantangan bagi negara, melainkan untuk semua masyarakat Indonesia. Adapun salah satu strategi  yang perlu dilakukan yaitu membentuk Indonesia 4.0. Hal ini sebagaimana disampaikan Chabib, untuk itu terdapat sepuluh strategi prioritas nasional guna membuat negara menjadi Indonesia 4.0. Sedang, Strategi prioritas nasional, seperti perbaikan alur aliran material, mendesain ulang zona industri, peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia, pemberdayaan UMKM, menerapkan insentif investasi teknologi, pembentukan ekosistem inovasi, menarik investasi asing, harmonisasi aturan dan kebijakan, membangun infrastruktur digital nasional, dan akomodasi standar yang berkelanjutan.

 

"Making Indonesia 4.0 adalah sebuah roadmap atau peta jalan mengenai strategi Indonesia dalam implementasi memasuki Industri 4.0 untuk mencapai 10 besar ekonomi terkuat dunia di tahun 2030," tuturnya.

 

Menjadi Society 5.0

 

Sementara, perubahan yang terjadi secara sistemik hampir di semua sektor dan aspek kehidupan perlu ditopang dengan kemampuan masyarakat yang mumpuni guna menyongsong masa depan Indonesia yang kuat. Demikian Chabib mengatakan bahwa sudah semestinya mengimbangi Revolusi Industri 4.0 dengan menjadi masyarakat yang sangat cerdas atau yang kerap disebut Society 5.0 yakni Super Smart Society.

  

Saat masyarakat masih memiliki kemampuan sebagai pekerja industri hanya mengandalkan alat apa adanya, seperti cangkul yang disebut Society 1.0 atau Hunting Society. Berkembang menjadi masyarakat dengan kemampuan sebagai pekerja industri dengan beban pekerja yang cukup berat, misalnya melakukan produksi massal yang ditunjang dengan potensi energi listrik yang disebut Society 2.0 atau Agrarian Society.

 

Berkembang lagi menjadi masyarakat dengan kemampuan dalam mengaplikasikan komputer dengan memanfaatkan daya internet sebagai automatisasi pekerjaan atau disebut Society 3.0 atau Industrial Society. Terakhir, masyarakat dengan kemampuan memanfaatkan digital sebagai transformasi segala informasi. Serta, melalui berbagai sistem aplikasi berbasis internet. Tak hanya itu, juga mempermudah pekerjaan dengan menciptakan sebuah terobosan kecerdasan buatan, seperti robot.

 

Kendati demikian, Chabib kembali menyampaikan bahwa untuk menjadi masyarakat Indonesia yang super cerdas guna menyongsong masa depan Indonesia 4.0, maka membutuhkan beberapa hal mendasar yang terus ditanamkan.

 

"Yaitu pendidikan, keadilan, kepercayaan, dan teladan yang kemudian disana tumbuh spiritualitas dan moralitas yang menggerakkan diri menjadi masyarakat yang super cerdas," pungkasnya. (Nin)