(Sumber : nursyamcentre.com)

Tantangan Pelaku Bisnis Online di Tengah Pandemi

Informasi

Perubahan ruang berbelanja dari ruang offline ke ruang online kini tampak nyata. Perantara paling banyak digunakan oleh pelaku bisnis di tengah pandemi untuk mengenalkan dan menjual produk yaitu teknologi komunikasi. Hal itu disebabkan salah satunya karena dampak Covid-19 yang kian mewabah, mengakibatkan tak sedikit masyarakat memilih untuk berbelanja secara online demi menjaga keamanan dan kesehatan diri. Akhirnya, pelaku bisnis pun menyesuaikan dengan perubahan pola pembelian tersebut. Hanya saja, terdapat beberapa tantangan-tantangan yang perlu diketahui oleh pelaku bisnis khususnya bagi yang baru memulai untuk berbisnis secara online.

 

Karakteristik Pembeli Online yang Beragam

 

Akhamad Yunan Athoillah Dosen Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Sunan Ampel Surabaya mengatakan, saat masa pandemi pelaku bisnis online perlu memahami karakteristik pembeli online. Misal, salah satu karakteristiknya, yaitu pembeli yang terkadang datang hanya sekedar bertanya tapi tidak membeli barang.

 

"Pembeli online kadang datang tanya. Lalu, satu bulan setelahnya datang lagi baru beli. Demikian, ada juga yang tanya-tanya tapi nggak beli. Jadi, kita memang menghadapi pasar yang berbeda. Beda dengan pembeli offline yang bisa komunikasi langsung," ucapnya saat diwawancara oleh crew Nur Syam Centre, (06/08).

 

Yunan pun kembali menyampaikan bahwa terdapat beberapa tipe pembeli online, yaitu tipe pengincar, tipe pecinta promo, dan tipe gerak cepat. Menurutnya, ketiga tipe ini memiliki karakteristik  masing-masing. Tipe pengincar adalah tipe pembeli yang memiliki ciri khas, yaitu sering mengincar barang-barang yang dijual di toko online dengan mengambil gambar atau screenshot dan menyimpan gambar di galeri atau keranjang belanja.

 

"Uniknya biasanya pembeli ini akan menyimpan gambar tersebut sampai berhari-hari, bahkan sampai tujuh hari atau satu bulan. Baru kemudian membeli barang yang sudah menjadi incaran setelah menerima gaji," tuturnya.

 

Tipe selanjutnya, yaitu tipe pecinta promo. Yunan mengatakan bahwa tipe yang satu ini sudah bukan menjadi suatu hal yang baru. Tipe pecinta promo ini memiliki ciri khas, yaitu suka mencari barang-barang yang promo.  Sementara, menurutnya tipe pecinta promo ini dapat dilihat khususnya pada anak muda millennial. Sebab, baginya anak muda millenial saat ini tampak suka sekali dengan produk yang berbau promo.

 

"Biasanya pembeli online khususnya anak muda suka mencari diskon. Selain itu, juga suka membeli barang yang lagi promo, seperti flash sale. Bahkan, seperti di market online, yanga mengincar kode voucher untuk mendapat harga spesial," imbuhnya.


Baca Juga : Melangkah Tepat dalam Ruang Percepatan Paulo Virilio

 

Tipe yang terakhir, yaitu tipe gerak cepat atau kerap disebut gercep. Tipe gercep merupakan tipe pembeli online yang memiliki ciri khas, yaitu bergerak cepat saat sudah mendapatkan barang yang disukai di toko online yang dikunjungi. Tipe ini tak membutuhkan waktu yang cukup lama untuk melakukan tahapan pembelian, mulai dari kesepakatan untuk membeli hingga proses pembayaran barang yang akan dibeli.

 

"Dalam hal ini pembeli mendapat pengalaman berbelanja online melalui ponsel dengan lebih cepat kapan pun dan dimana pun. Pembeli dapat melakukan kurang dari 30 detik untuk melakukan transaksi pembayaran," ujarnya.

 

Marketing yang Meluas

 

Selain perlu memahami karakteristik pembeli online, pelaku bisnis online juga perlu memiliki kemampuan marketing khusus di tengah pandemi. Seperti halnya disampaikan Yunan, ia mengatakan bahwa sejak Covid-19 mewabah terdapat perubahan tatanan baru. Hingga pelaku bisnis perlu melakukan upgrading marketing menjadi lebih adaptif.

 

"Ada ketakutan pada virus dan hambatan dalam membeli. Secara otomatis strategi pemasarannya harus lebih adaptif terhadap kebutuhan di tengah pandemi," jelasnya.

 

Yunan kembali mengatakan bahwa marketing yang adaptif yakni pemasaran barang yang melibatkan dan menyesuaikan kondisi lingkungan yang baru. Sementara, ia juga mengatakan bahwa perlunya marketing yang  konsisten dengan arah dan jangka panjang bisnis yang telah ditetapkan. Selain itu, pelaku bisnis perlu dengan kritis membaca kekuatan dan kelemahan internal serta peluang dan ancaman lingkungan eksternal demi mencapai keberhasilan.

 

"Pendekatan yang adaptif ini menjadi penting ketika ada perubahan substansial dan juga berlangsung perubahan seperti teknologi, kebutuhan konsumen, penawaran yang kompetitif, dan struktur industri," ucapnya.

 

Kendati demikian pelaku bisnis juga perlu memperluas marketing dengan memanfaatkan media sosial. Demikian halnya disampaikan Yunan bahwa tak mungkin kiranya menggunakan cara berjualan seperti dahulu yang bersifat konvensional. Pelaku bisnis perlu memperluas marketing dengan memanfaatkan media sosial. Selain itu, pelaku bisnis juga perlu bersinergi dengan anak muda millennial guna membantu memasarkan barang. "Sangat kreatif dan mudah mengakses media sosial. Anak muda millennial dekat dengan dunia maya. Hingga, hal itu menjadi peluang untuk membantu dalam memasarkan produk kita," ujarnya.

 

Bisnis Akan Tetap Terus Berkembang

 

Tantangan dunia bisnis di tengah pandemi dan masa yang mendatang bukan hanya dihadapi dengan termenung dan diam saja. Melainkan, dengan terus bergerak maju dan terus berkembang sebab dunia bisnis sendiri akan terus berkembang. Seperti halnya disampaikan Yunan, dunia bisnis tetap akan terus berkembang. Sebab, menurutnya orang yang mencari rezeki adalah fitrah bagi manusia. Demikian  juga fitrah bagi pelaku bisnis untuk menemukan kehidupannya. Hingga, hal tersebut yang mendorong pelaku bisnis mampu menemukan solusi dari setiap permasalahan yang dihadapi.

 

"Pelaku bisnis harus terus berkembang, terus bergerak, dan terus maju. Allah telah memberi solusi untuk menyelesaikan masalah. Sebab, Allah memberikan kemampuan untuk memecahkan masalah. Orang yang memiliki komitmen,  visi yang jelas, ketekunan, dan rajin akan mampu mendapat strategi yang tepat untuk mewujudkan mimpi-mimpinya," ucapnya.

 

Yunan pun kembali menyampaikan di penghujung wawancara, bahwa pandemi bukan harga mati. Sebab, setiap zaman memiliki tantangannya tersendiri. Menurutnya, pandemi saat ini bisa jadi tantangan bagi sebagian orang. Hingga tak sedikit orang akhirnya berkeluh-kesah karena keadaan.

 

"Mental pelaku bisnis adalah mudah beradaptasi. Jika tidak akan tertinggal dengan keadaan. Sebab, bagi pelaku bisnis, setiap celah ada peluang dan setiap problem pasti ada solusi," pungkasnya. (Nin)