(Sumber : nursyamcentre.com)

Waspada dan Kenali Wajah Agama di Media Sosial

Informasi

Hampir dari berbagai kalangan menjadikan media sosial sebagai salah satu platform pilihan untuk belajar agama. Mulai dari anak remaja, dewasa, hingga lansia. Kaum millenial dan generasi Z lah yang cenderung menggunakan media sosial sebagai wadah belajar agama. Tren tersebut harus diimbangi dengan kecerdasan, kebijaksanaan, dan pengetahuan dalam bermedia sosial. Sebab acap kali wajah media sosial adalah kompleks. Dari yang berwajah menyejukkan bisa seketika menjadi wajah yang dipenuhi dengan konten ekstrem yang tak sejalan dengan ajaran agama.

 

Berdasarkan usia per Januari 2021 rincian pengguna media sosial di Indonesia ditemui, yaitu 13-17 tahun, laki-laki 5,7% dan perempuan 6,8%. 18-24 tahun, laki-laki 15,9% dan perempuan 14,8%. 25-34 tahun, laki-laki 19,3% dan perempuan 14,8%. 25-43 tahun, laki-laki 7,4% dan perempuan 5,7%. 45-54 tahun, laki-laki 3,2% dan perempuan 2,4%. 55-64 tahun, laki-laki 1% dan perempuan 0,7%. 65 tahun ke atas, laki-laki 1,5% dan perempuan 0,9%, dilansir dari media Koran Sindo, (13/12).

 

Sementara berdasarkan Hasil Survei Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) terdapat beberapa media yang menjadi sumber pengetahuan agama, yakni 84,15% televisi, 64,66% Media Sosial, 28,64% Radio, 15,85% Podcast. Sedang tren beragama masyarakat dilihat dari usia dalam mengakses informasi atau program keagamaan, yaitu Millenial (24-40 tahun) dan Gen Z (17-24 tahun) menggunakan media sosial dan podcast. Gen X (41-56 tahun) dan Silent/Boomer  (57-83 tahun) menggunakan Televisi dan Radio, diunggah dalam laman Koran Sindo, (13/12).

 

Sumber Konflik

 

Menyoal tren keberagamaan saat ini, Dr Azhari Akmal Tarigan Komisi Pengkajian dan Penelitian MUI Kota Medan juga menyampaikan bahwa wajah agama demikian berbentrokan. Satu sisi wajah agama menunjukkan berbagai bentuk perilaku positif, yaitu membawa pesan yang menyejukkan, cinta-kasih, kedamaian, dan persaudaraan sejati. Sedangkan di sisi lain, agama menunjukkan berbagai perilaku negatif, seperti sumber konflik, permusuhan, saling mempertentangkan, dan saling menghancurkan.

 

"Wajah agama adalah paradox. Sepanjang berjalan seimbang masih lebih baik. Namun belakangan ini agama lebih menampilkan dirinya sebagai sumber konflik," ujarnya dalam FGD bertema Kepemimpinan Kolektif Kolegial Forum Kerukunan Umat Beragama Dalam Menyelesaikan Masalah Umat Agama, (Red : nursyamcentre.com, 04/09).

 

Lebih lanjut dikatakan oleh Azhari bahwa wajah agama sesungguhnya ditentukan oleh ekspresi dan perilaku umat beragama itu sendiri di ranah publik. Agama bisa terkesan sangar dan menakutkan bila yang tampil sikap yang keras, kasar, dan intoleran baik terhadap sesama umat beragama ataupun dengan umat lain.

 

"Keberagamaan Indonesia sendiri sesungguhnya sangatlah dinamis. Sementara agama yang dapat berdialog dengan tradisi dan berinteraksi dengan budaya lokal relatif tampil damai dan toleran. Bukan agama yang sangat kaku dan menarik garis terang budaya dan tradisi cenderung rigid, ekstrim, dan intoleran," pungkasnya. (Nin)