(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Alm. Dr. (HC) KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A: Pendidik yang Memimpin

Khazanah

Oleh: Muhammad Alfan Rumasukun/082245638705

Mahasiswa Doktoral Ekonomi Syariah UIN Sunan Ampel 

  

Dr. KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A, (biasa dipanggil Kyai Syukri), adalah sosok ulama kharismatik yang tentu tak asing di telinga umat. Beliau adalah salah satu pemimpin Pondok Modern Darussalam Gontor (1985 – 2020) kelahiran 19 September 1942 di Desa Gontor Kecamatan Mlarak Kabupaten Ponorogo. Lokasi Pondok Gontor kurang lebih 9,5 km ke arah selatan dari alun-alun Kabupaten Ponorogo. Setidaknya sudah ada 62 pondok pesantren yang didirikan di kabupaten ini. Oleh sebab itu, Ponorogo dikenal juga sebagai “Kota Santri”.

  

Beliau lahir dari keluarga pesantren “modern”, sekaligus merupakan putra pertama dari KH. Imam Zarkasyi, salah seorang Trimurti Pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor. Sejak Pondok Gontor didirikan pada tahun 1926, KH. Imam Zarkasyi bersama kedua kakak laki-lakinya (KH. Ahmad Sahal dan KH. Zainuddin Fannanie) telah menerapkan modernisasi pesantren yaitu dengan mengintegrasikan sistem pendidikan salafiyah dan pendidikan madrasah dalam bentuk pendidikan klasikal (belajar dalam ruangan kelas), sebuah sistem pendidikan yang terbilang baru di kalangan pesantren tradisional umumnya kala itu (sistem wetonan, sorogan, bandongan, ngaji kitab kuning), sehingga Pondok Gontor dikenal sebagai pelopor modernisasi pendidikan di pesantren.

  

Sejak mudanya, KH. Syukri dikenal sebagai sosok yang rendah hati, luas pergaulan, enerjik, cekatan, berdisiplin dan juga multitalenta dalam berbagai bidang diantaranya yaitu seni vokal, olahraga (sepak bola/badminton/tenis meja), pidato dan leadership. Pengalaman organisasi beliau terhitung cukup banyak khususnya yang berlatar belakang Islam. Beliau tercatat pernah menjadi pengurus HMI cabang Ciputat, Jakarta (1964), pengurus Himpunan Pelajar Islam di Kairo, Mesir (1971), pengurus PPI di Denhag, Belanda (1975). Secara postur tubuh, beliau terbilang relatif sedang cenderung berisi dan bugar dengan penampilan sederhana namun selalu terlihat necis. Saat wafat beliau masih tercatat sebagai Ketua MUI Kabupaten Ponorogo (1999-2020), Ketua MP3A (Majelis Pertimbangan Pendidikan dan Pengajaran Agama Kemenag 1999-2020), anggota Dewan Penasehat MUI Pusat.

  

Selepas studi S2 di Universitas Al-Azhar Kairo (1978), KH. Syukri pulang ke Indonesia. Beliau kembali ke Gontor untuk mendampingi dan membantu ayah beliau dalam urusan pengajaran, administrasi dan penegakan disiplin di pondok Gontor.  Setelah genap 7 tahun membersamai sang ayah, tepat pada tanggal 30 April 1985, KH. Imam Zarkasyi wafat. Dalam rangka melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan pondok Gontor, maka Badan Wakaf Pondok Modern Darussalam Gontor, memilih dan menetapkan 3 orang pimpinan pondok yang baru, yaitu: KH. Shoiman Lukmanul Hakim, KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, dan KH. Hasan Abdullah Sahal.

  

Pada tahun 1998, KH. Shoiman Lukmanul Hakim wafat dan digantikan oleh KH. Imam Badri yang melanjutkan amanah pimpinan hingga beliau wafat pada tahun 2006. Sepeninggal KH. Imam Badri, amanah pimpinan dilanjutkan oleh KH. Syamsul Hadi Abdan hingga beliau wafat pada tanggal 18 Mei 2020. Berselang lima bulan kemudian tepat pada tanggal 21 Oktober 2020 KH. Syukri berpulang ke hadirat Allah SWT pada usia 78 tahun. Kini amanah kepemimpinan pondok dilanjutkan oleh KH. Hasan Abdullah Sahal, KH. Amal Fathullah Zarkasyi, dan KH. Moh. Akrim Mariyat.

  

Sosok KH. Syukri di mata Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawangsa adalah sebagai figur ulama yang inspiratif dan penggerak. Khofifah mengapresiasi beliau sebagai sosok yang berjasa besar untuk Indonesia khususnya bagi dunia pendidikan. Bahkan sempat terucapkan kesan dari Ibu Gubernur terhadap jasa KH. Syukri yaitu: “tidak ada yang tidak mengenal Gontor. Alumninya pun sangat disegani di seluruh penjuru Indonesia bahkan dunia. Kiprah alumninya pun sudah tidak diragukan lagi baik di kancah nasional maupun internasional.”

  


Baca Juga : In Memoriam: Emak, Betapa Besar Kasih Sayangmu (Bagian Tiga)

Keberlanjutan amanah kepemimpinan di Pondok Modern Darussalam Gontor didukung oleh adanya program kaderisasi pimpinan pondok yang telah dilaksanakan sejak pondok diwakafkan oleh para pendirinya kepada umat Islam sedunia pada tahun 1958. Salah satu program kaderisasi pondok adalah mengirimkan beberapa utusan dari guru kader pondok untuk melanjutkan studi S2 dan S3 di berbagai perguruan tinggi baik di dalam maupun di luar negeri. KH. Syukri termasuk guru kader pondok yang diutus untuk melanjutkan studi S1 di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (selesai tahun 1965), lalu mengambil gelar Lc di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir (selesai 1976), dan lanjut S2 (M.A.) di kampus yang sama (selesai tahun 1978).

  

Berdasarkan pengalaman memimpin Pondok Gontor selama kurang lebih 35 tahun, KH. Syukri telah menulis buku yang berjudul “Bekal Untuk Pemimpin” sebagai legacy beliau untuk menambah wawasan dan bekal bagi para kader pemimpin di masa depan. Menurut KH. Syukri sukses merupakan tujuan hidup dari setiap manusia. Ada banyak jalan menuju kesuksesan, tetapi tidak semua orang ingin mengambil jalan-jalan tersebut yang merupakan kunci untuk membuka pintu kesuksesan.

  

Dengan jiwa keikhlasan dan penuh dedikasi memimpin pondok Gontor, KH. Syukri terus berkeliling mendatangi pesantren-pesantren cabang dan alumni untuk berbagi semangat keikhlasan dan perjuangan kepada para pemimpinnya. Beliau pun selalu bersemangat menghadiri undangan dari berbagai instansi pemerintah baik dari dalam maupun luar negeri untuk sharing pengalaman beliau dalam memimpin organisasi atau institusi pendidikan khususnya pesantren. Tidak heran apabila kemudian kiprah beliau dalam pendidikan mendapatkan pengakuan dari almamaternya saat S1 yaitu UIN Syarif Hidayatullah berupa penghargaan gelar Doktor Kehormatan (Dr. HC) pada tahun 2005 atas prestasi dan jasa beliau dalam pengembangan manajemen pendidikan di pesantren.

  

Di dalam buku beliau yang berjudul “Bekal Untuk Pemimpin” telah dijabarkan setidaknya ada empat kunci menuju kesuksesan:

1. Berpikir keras

Maksudnya berkemauan keras. Sebab semakin kuat kemauan seseorang maka itu akan mendukung pikirannya agar terus berpikir lebih kreatif untuk mencapai berbagai macam prestasi. Berpikir keras maksudnya berpikir aktif, dinamis, inisiatif, selalu berinovasi untuk mewujudkan terobosan baru dalam hidupnya. Tentunya terobosan tersebut dapat memberi manfaat bagi dirinya dan orang di sekitarnya.

  

2. Bekerja keras

Selain berpikir keras, bekerja keras juga tak kalah penting dari yang lain. Sukses itu tidak akan bisa diraih hanya dengan berangan-angan, oleh sebab itu bekerja keras perlu dilakukan untuk mewujudkan cita-cita hidup setiap orang.

  

3. Bersabar keras

Ternyata sabar yang keras itu termasuk salah satu sumber kekuatan atau ketahanan bagi seseorang dalam meniti kesuksesan dalam hidup. Di kala cobaan silih berganti menimpa kita, kita harus bersikap sabar yang keras sebagai benteng pertahanan akhir yang paling kokoh. Di saat pemimpin mendapatkan sebuah gesekan dari berbagai pihak, maka dendam bukanlah solusi yang baik dalam menghadapinya. Sikap mendendam dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain, maka kekuatan dalam bersabar ini sangat diperlukan dalam memimpin diri sendiri ataupun orang lain.


Baca Juga : Mengharap Pelukan Rasulullah di Akhirat

  

4. Berdo’a keras

Maksudnya adalah melakukan pendekatan diri kepada Allah SWT dengan berbagai dzikir, wirid, tahajjud dan puasa kita. Berdo’a keras juga diartikan berdo’a sepenuh hati, memohon kepada Allah SWT untuk diberikan kekuatan menghadapi berbagai persoalan dan tantangan. Do’a tanpa usaha adalah omong kosong dan usaha tanpa do’a merupakan kesombongan nyata yang harus

dihindari.

  

KH. Syukri dikenal sebagai pemimpin yang mendidik, pemimpin yang menggerakkan, pemimpin yang menginspirasi, dan pemimpin yang pejuang. Diantara kata-kata mutiara beliau yang sering disampaikan kepada para guru dan santrinya yaitu:

  

1. “Orang yang tidak mau apa-apa, tidak akan mendapat apa-apa, maka ia tidak akan bisa apa-apa dan akhirnya pun, ia tidak akan jadi apa-apa.”

2. “Hanya pejuanglah yang tahu arti perjuangan, dan hanya orang-orang pentinglah yang tahu arti sebuah kepentingan.”

  

Kata-kata mutiara lain yang patut dijadikan renungan bagi tiap pemimpin adalah:

  

“Pemimpin yang mengkader berarti pemimpin yang tidak takut disaingi, berarti juga pemimpin yang senang apabila muncul orang-orang yang lebih baik dari dirinya untuk nantinya bisa melanjutkan kepemimpinannya”. Selain itu ada pula pesan beliau yang sangat menginspirasi yaitu: “jadilah manusia kuat iman, kaya ilmu, kaya jasa dan kaya harta. Semoga dirimu sama dengan seribu orang bahkan sejuta”.

  

Dalam kepemimpinan KH. Syukri di pondok, tidak selalu bersifat instruksional akan tetapi terkadang bottom-up dan diikuti dengan sistem kontrol berlapis (dibimbing, dikawal, diberi penugasan-penugasan evaluasi dengan beberapa pendekatan  diantaranya: pendekatan manusiawi, pendekatan idealisme, dan pendekatan tugas). Sebagai pimpinan pondok, beliau bukanlah birokrat dan bukan pejabat administrasi melainkan pendidik dan teladan yang memiliki visi dan misi jauh ke depan, setiap waktu mengatur, mengarahkan, memberi tugas, melatih, mengawal, mendoakan serta memberikan contoh. Pelajaran yang bisa diambil adalah setiap pemimpin harus memahami peran dan fungsi pemimpin baik sebagai leader, manajer, administrator, supervisor, motivator, inovator, dan evaluator.

  

Abdul Karim Harahap, seorang alumni Gontor tahun 1997 asal Medan memiliki kesan mendalam terhadap sosok KH. Syukri. Ia mengaku sangat kehilangan dengan wafatnya KH. Syukri. Menurutnya dari ketiga pimpinan pondok yaitu KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, KH. Hasan Abdullah Sahal dan KH. Shoiman Lukmanul Hakim, adalah KH. Syukri yang paling sering memberikan wejangan kepada para santri Gontor. Selain itu, Abdul Karim juga berkesan akan semangat KH. Syukri yang terus mendorong santri Gontor untuk terus mengejar prestasi. Di sisi lain, KH. Syukri juga dikenal sebagai sosok yang sangat menghargai waktu. Menurut Karim ia belum pernah melihat KH. Syukri telat dalam setiap acara.

  

Ustadz Yusuf Mansur termasuk orang yang memiliki banyak kesan terhadap KH. Syukri. Menurutnya KH. Syukri adalah sosok yang lebih dari sekedar guru dan ustadz, namun juga ayah bagi para santri. Termasuk bagi dirinya. Dalam takzimnya, UYM sampai berkata: “saya pernah mendapatkan wejangan dari KH. Syukri, jika ada murid yang lebih pintar dan berhasil dari kiainya, maka kiai tersebut berhasil”. UYM menambahkan: “KH. Syukri orangnya selalu meledak-ledak kalau berbicara soal impian dan cita-cita. Subhanallah”. Nasehat beliau lainnya yang sangat membekas dalam ingatan UYM yaitu: “kata beliau al-Qur’an itu setiap huruf kamu baca akan menjelma menjadi malaikat-malaikat Allah di alam kubur. Mereka kelihatan, menyenangkan dan membuat kita tenang”.

  

Di mata santrinya, termasuk saya pribadi yang pernah nyantri kepada beliau selama kurang lebih 11 tahun, KH. Syukri dikenal sebagai sosok yang tegas, berdedikasi pada pendidikan namun tetap memiliki sifat yang bersahaja. Banyak hal yang selalu beliau ingatkan secara berulang-ulang mengenai visi dan misi pondok agar santrinya memiliki orientasi yang jauh dalam melihat kehidupan. Setiap santri dan alumni Gontor selalu beliau ingatkan agar memiliki program per lima tahunan dalam perolehan prestasi. Kata beliau: “5 tahun ke depan kamu menjadi apa, bermanfaat apa. Lalu 10 tahun, 15 tahun, 20 tahun berikutnya dan seterusnya kamu akan jadi apa, bermanfaat apa bagi umat”.

  

Salah satu pesan dari KH. Syukri yang selalu diingat oleh para santri dan alumni Gontor adalah tentang pandangan beliau terhadap “orang hebat” alumni Gontor. Beliau berkata: “Orang yang hebat menurut Gontor itu bukan yang memiliki jabatan yang tinggi, banyaknya harta atau kekuasaan, namun lulusan Gontor diharapkan mampu menjadi sosok yang memiliki manfaat yang besar di masyarakat”.

  

Pesan KH. Syukri hampir sama dengan jawaban ayah beliau, ketika KH. Imam Zarkasyi ditanya oleh seseorang tentang siapa orang besar menurut Gontor? Pak Zar menjawab: “Orang besar menurut Gontor adalah orang yang mau mengajarkan ilmunya dengan penuh keikhlasan meski dia berada di tempat yang terpencil dan di balik gunungsekalipun”.

  

Dari beberapa kesan para alumni Gontor, termasuk saya pribadi terhadap sosok KH. Syukri di atas saya bisa menyimpulkan bahwa KH. Syukri adalah sosok kiai yang bersahaja, ulama yang intelek, dan pendidik yang memimpin. Kepemimpinan beliau tidak selalu instruksional, tetapi terkadang bottom up dengan sistem kontrol yang komprehensif. Beliau termasuk tipikal pendidik yang memimpin dengan cara bergerak dan menggerakkan, hidup dan menghidupkan, serta berjuang dan memperjuangkan li i’lai kalimatillah wa li maslahatil ummah. Wallahu A’lam.