Islam Di Indonesia: Islam Pesisiran vs Islam Pedalaman
Kelas Metode PenelitianOleh: Prof. Dr. Nur Syam, M.Si
Dipastikan bahwa Islam memasuki kawasan Nusantara adalah melalui wilayan pesisir. Masyarakat pesisirlah yang melakukan kontak dengan berbagai pendatang di Nusantara. Kota-kota pesisiran, misalnya di Jawa Timur adalah Surabaya, Gresik dan Tuban. Kemudian ke wilayah Jawa Tengah adalah Demak, Semarang, Pati, Kudus dan di Jawa Barat adalah wilayah Cirebon, Giri Amparan Jati, Sunda Kelapa dan sebagainya. Sebagaimana di Sumatera adalah Aceh, dan Palembang. Sedangkan di Kalimantan adalah Banjarmasin, sedangkan di Sulawesi adalah Makassar, dan Maluku adalah Ambon, dan sebagainya.
Yang menjadi persinggahan para pedagang dari dan ke Nusantara adalah daerah Pelabuhan. Di Pelabuhan tersebut para pedagang membongkar dan memuat barang-barang dagangannya, misalnya dari Timur Tengah dan China. Keramik, tekstil dan permadani China serta tekstil dari Timur Tengah dan India diperdagangkan di Pelabuhan, sehingga Pelabuhan-pelabuhan tersebut telah menjadi kota internasional pada zamannya. Para pedagang dari China, India dan Timur tengah juga mengangkut produk Nusantara, misalnya rempah-rempah. Maka jalur Timur Tengah, Nusantara dan China disebut sebagai jalur sutra. Pelabuhan Gresik, Surabaya dan Tuban merupakan kota bandar besar di Nusantara. Makanya, di pusat-pusat Pelabuhan sudah terdapat komunitas dari berbagai negeri. Misalnya komunitas orang China, Orang Arab dan juga Orang Gujarat, bahkan Orang dari negara Asia Tenggara lain dan dari negeri-negeri yang jauh, Afrika dan Eropa. Mereka ada yang hanya singgah sementera dan kemudian berangkat ke kota lain, dan ada yang kemudian menetap. Yang menetap itulah kemudian menikah dengan perempuan Nusantara sehingga melahirkan komunitas-komunitas sesuai dengan asalnya. Ada komunitas Arab, China, Gujarat dan sebagainya.
Dari pergaulannya yang luas tersebut, maka warga pesisiran adalah masyarakat yang terbuka dan meudah menerima perubahan. Sebagai akibat pergaulannya dengan orang lain maka warga pesisiran dengan mudah bisa beradaptasi dan berubah di dalam pandangannya mengenai dunia dan bahkan agama. Oleh karena itu pantaslah kalau yang pertama kali menerima ajaran Islam adalah masyarakat pesisiran. Dari Islam pesisiran itulah kemudian berkembang ke pedalaman. Islam yang berkembang di wilayah pesisir, maka kemudian dikenal konsep Islam pesisiran.
Salah satu diantara konsep yang saya temukan dalam penelitian saya tentang Islam pada area pesisiran adalah Islam kolaboratif. Labelling Islam kolaboratif menunjuk pada Islam hasil kolaborasi antara wong NU, wong Muhammadiyah dan wong Abangan di dalam ruang budaya Sumur, Makam dan Masjid kemudian menghasilkan Islam bercorak khusus yaitu Islam pesisiran. (Nur Syam, Islam Pesisir, 2005). Islam pesisiran bukanlah Islam yang yang tidak berdasar, tetapi adalah Islam yang tetap bersumber dari asalnya, Timur Tengah, tetapi mendapatkan rumusan baru sesuai dengan lokalitasnya. Di dalam konteks ini adalah Islam yang berkolaborasi dengan sosial, budaya dan lokalitasnya sehingga menghasilkan Islam yang bercorak khas, Islam pesisiran.
Di dalam Islam pedalaman, terdapat konsep yang khas, sebagaimana disebutkan oleh Geertz, dan Woodward. Konsep abangan adalah konsep yang memiliki pengaruh besar dalam studi antropologi dan sosiologi. Konsep ini menggambarkan keberagamaan masyarakat pedalaman yang bercorak sinkretik atau pemahaman dan pengamalan beragama yang merupakan pemaduan antara unsur dalam Hindu, Buddha, Islam, Animisme dan Dinamisme. Pemaduan tersebut menjadi satu kesatuan seperti dzat yang menyatu di dalam melting pot, sehingga unsur-unsur tersebut tidak lagi bisa dikenali. Kaum Abangan diidentikkan dengan kaum petani pedesaan, yang meyakini bahwa ada kekuatan gaib, baik animism maupun dinamisme yang dipercayai berpengaruh terhadap kehidupannya. Oleh karena itu diperlukan sesajen atau selamatan agar terjadi keselamatan di dalam kehidupannya. Melalui selamatan akan terjadi keharmonisan antara mikro dan makro kosmos, sehingga dunia atau alam semesta menjadi seimbang dan akan terjadi keselamatan.
Selain konsep abangan juga terdapat konsep santri dan priyayi. Meskipun penggolongan sosial ini banyak dikritik orang, akan tetapi secara empiris memang pernah menjadi kenyataan bahkan hingga sekarang. Santri adalah orang yang terfokus dengan dunia perdagangan di pasar, sebagai orang yang taat. Mereka dikelompokkan dalam Islam ala NU dan Islam ala Muhammadiyah. Digambarkan oleh Geertz bahwa sesame santri ini juga berada di dalam nuansa kontestasi dan perbedaan paham dan Tindakan keagamaannya. Sedangka priyayi adalah orang yang bekerja di sector birokrasi, berada di kota dengan menggunakan budaya keratonan sebagai gaya kehidupannya. Di masa lalu, para priyayi bisa disebut sebagai pangreh praja atau para pejabat dan abdi birokrasi.
Di sisi lain, juga terdapat konsep Islam akulturatif sebagaimana digambarkan oleh Mark R. Woodward. Di dalam kajiannya digambarkan bahwa Islam Jawa bukanlah Islam sinkretik yang campur aduk, akan tetapi Islam yang saling bernegosiasi antara tradisi Islam dan tradisi local kemudian membentuk Islam yang khas. Meskipun penelitiannya dilakukan di Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat, akan tetapi dia menyatakan bahwa Islam yang diwujudkan dalam sekatenan adalah Islam yang khas. Bukan Islam bercampur dengan keyakinan lainnya. Islam kolaboratif, Islam konvergentif, Islam alternatif, Islam popular dan sebagainya adalah kelanjutan dalam studi Woodward. Sedangkan Islam sinkretik kemudian berderivasi menjadi Islam Abangan, Agama Orang Bukit, Islam Wetu Telu dan sebagainya.
Islam di Indonesia memang sangat menarik dikaji sebab memiliki keunikan dan keragaman yang jarang dijumpai di tempat lain. Inilah Islam Indonesia atau Islam Nusantara, Islam Berkemajuan dan kemudian bisa juga dilabelkan Islam Nusantara Berkemajuan.
Wallahu a’lam bil al shawab.

