(Sumber : Nur Syam Centre)

FYP: Disabilitas Bukan Akhir Segalanya

Khazanah

Saya bukanlah penggemar acara televisi yang setiap hari lalu nongkrongin acara demi acara di televisi. Tetapi pagi itu, Jum’at, 28 Oktober 2022, setelah senam jantung, kolesterol dan diabetes, maka secara tidak sengaja memindahkan channel dari Youtube ke acara televisi. Ketetapan saya arahkan ke acara di Trans7 dengan tema “For Your Pagi” disingkat menjadi FYP. Ketepatan channel ini menayangkan acara yang sangat menarik yaitu seorang yang secara fisik disebut sebagai disable. Yaitu memiliki kekurangan fisik tidak bisa berjalan dan harus hidup di atas kursi roda. Nama pendeknya adalah Dani. Acara ini dipandu oleh Irfan Hakim, Raffi Ahmad dan Greta Pene. 

  

Dani mendapatkan kecelakaan mobil dalam usia lima tahun dan menyebabkan terjadi cacat sepanjang hidupnya. Kecelakaan tersebut menyebabkan kakinya lumpuh dan harus menggunakan kursi untuk selamanya. Termasuk berdampak terhadap cara bicaranya yang tidak selancar orang yang normal. Tetapi hidup tidak boleh berhenti. Roda kehidupan harus terus berjalan sepanjang masih ada usia. Di dalam kehidupan yang serba kekurangan tersebut, maka Dani bisa melampaui tantangan dan hambatan atau cacat fisiknya dan justru menjadi kekuatannya. Dani bisa menjadikan tantangan dan hambatan atau kekurangan menjadi peluang untuk hidup secara layak.

  

Dani bercerita bahwa dirinya pernah dijual oleh pembantu rumah tangganya untuk mengemis. “Dapat banyak uang”, kelakarnya. Akhirnya perilaku tersebut diketahui ibunya. Setiap  kali ibunya datang, dipastikan Dani tidak ada di rumah. Akhirnya Dani mengaku jika dia harus mengemis untuk mendapatkan uang. Setelah itu Dani dilarang Ibunya untuk mengemis. Dia harus di rumah. Dari berada di rumah itulah kemudian dia belajar tentang dunia komikus dan itu terus dijalaninya dan berhasil. Dia menyatakan, “jika di masa lalu malu ditertawakan,  sekarang jusru minta ditertawakan. Orang tertawa adalah rejeki untuk saya”. 

  

Dani juga bercerita kala belajar di sekolah dasar pernah dihina dan dibulli kawannya bahkan diludahi. Sebagai anak kecil tentu tidak tahan. Itulah sebabnya dia ingin mengakhiri hidupnya. Keinginan tersebut berkali-kali diutarakan kepada Ibunya. Sudah patah arang. Tidak ada lagi harapan, dan bahkan menyalahkan Tuhan atas takdirnya yang seperti itu. Untunglah Dani memiliki seorang Ibu yang hebat, Erdianto Sigit. Ibunya menyatakan bahwa “kalau ingin bunuh diri mari saya antar”. Dibawanya Dani ke jalan raya dengan tetap ditempatkan di kursi roda. Sementara itu Ibunya berada di belakang kursi roda sambil duduk sehingga tidak kelihatan dari depan.  Ternyata semua mobil menghindari kursi roda dan bahkan ada seorang sopir yang rela turun dan meminggirkan Dani dan kursi rodanya. Di saat itulah Ibunya menyatakan: “banyak orang yang menyayangi dirimu, kenapa kamu ingin bunuh diri. Orang lain saja menyayangi dirimu, masak kamu tidak menyangi dirimu”. Ketika ditanya oleh Irfan Hakim, “kenapa ibu melakukannya seperti itu. Apa tidak khawatir kalau benar-benar ada yang nabrak”. Ibunya dengan tegas menyatakan bahwa “kan saya ada di belakangnya, jika ditabrak orang kami berdua yang kena. Tetapi saya yakin tidak mungkin orang akan menabraknya. Saya memberikan pelajaran kepada Dani bahwa tidak ada orang yang tidak sayang kepadanya”.   

  

Akhirnya Dani menjadi komikus dan menemukan istri yang sangat menyayanginya. Perempuan yang tidak memandang kekurangan atau disabilitas Dani. Semula orang tuanya menolak. Sebagai orang tua tentu menginginkan seorang suami yang sempurna fisiknya dan bukan yang difabel. Dari hasil perkawinannya tersebut telah dikaruniai seorang anak lelaki yang cakep dan lincah, bernama Rehan. Anak yang ceria dan bahkan berani kala diwawancari Irfan Hakim. Rehan ditanya, “siapa yang galak kalau di rumah”? “Ibu” katanya dengan nyengir. Kalau ayah sayang”. 

  

Dani menyatakan bahwa orang yang paling berpengaruh di dalam hidupnya adalah ibunya. Kala ditanya oleh presenter mengenai pandangan ibunya tentang Dani,  dinyatakannya, bahwa: “Dani dulu sempat putus asa, tetapi akhirnya dia menyadari bahwa dirinya disayang oleh orang banyak, maka akhirnya dia dapat hidup dengan normal meskipun fisiknya cacat”. Lebih lainjut dinyatakan, bahwa: “Cacatnya fisik tidak mengendorkan semangatnya untuk bekerja dengan sungguh-sungguh”.

  

Saya berkaca-kaca kala ibunya berpesan kepada menantunya, Dina, agar terus menyayangi Dani dengan  keikhlasan. “Cintailah Dani dengan sepenuh hati dan keikhlasan”. Lebih lanjut dinyatakan “bahagiakan Dani dan bahagiakan dirimu di dalam kehidupan rumah tangga. Bahagiakan keluargamu, anakmu. Jangan lupa berdoa, shalat, dan lakukan ajaran agama dengan baik”.

  

Saya merasakan ada getaran kasih sayang dari orang-orang yang terlibat di dalam kehidupan Dani. Ibunya, Dina dan juga  Greta Pene. Mereka merasakan bahwa disabilitas bukan akhir dari segalanya. Disabilitas adalah takdir Tuhan. Kecelakaan yang dialami Dani adalah ketentuan Tuhan. Tetapi tentu Tuhan memiliki rencana lain yang harus terus dicari dan apa jawaban atas takdir tersebut.

   

Dani akhirnya menemukan jawaban atas takdir Tuhan yang menjadikannya catat permanen. Dan jawabannya adalah memiliki pekerjaan, memiliki isteri dan anak serta keluarga yang bahagia. Jadi di dalam semua ketetapan Tuhan selalu ada hal yang sebelumnya tidak diketahui, tetapi akhirnya dipahami apa maknanya. Dani adalah contoh orang yang menemukan jawaban atas takdir Tuhan dengan usaha dan doa, antara usaha dan tawakkal dan antara proses dan produk.

  

Kekurangan pada diri Dani yang lumpuh sepanjang hidupnya, kekurangannya dalan kehidupan yang abnormal karena fisiknya, ternyata tidak menyurutkan semangatnya untuk terus bekerja dan berkarya. Pelajaran bagi kita yang normal secara fisik. Agar kita terus bekerja dan berkarya sesuai dengan talenta kita masing-masing.

  

Kita perlu belajar dari orang lain. Kita perlu berkaca pada orang lain. Kita perlu mendengarkan orang  lain. Kita perlu menjadikan orang lain untuk memahami diri kita. Kita perlu orang lain untuk membaca siapa kita. Hanya dengan cara seperti ini, maka kita akan terhindar dari “kesombongan” yang sesungguhnya hanya milik Allah SWT semata.

  

Manusia,  meskipun hebat juga terdapat kekurangan, sehingga tidak pantas kita menyombongkan diri kita. Ya Allah jauhkan diri hamba ini dari pikiran, sikap dan tindakan yang sombong. Kami malu dengan orang seperti Dani, yang berhasil menggapai kehidupan yang bermanfaat. Sementara itu, kami yang normal tidak mampu berkarya nyata.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.