Menggiatkan Kebaruan Teoritik Sebagai Terobosan Peradaban
Kelas Metode PenelitianOleh: Dr. Gigih Saputra, S.Kom.I, M.Ag
Pengantar
Riset adalah salah satu unsur dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yang memegang peranan penting dalam pendidikan. Salah satu standar sukses riset adalah adanya kebaruan riset. Level tertinggi kebaruan riset adalah temuan teori baru atau mengembangkan teori baru. Hal itu akan berefek positif bagi gebrakan-gebrakan ilmu pengetahuan suatu negara. Memang tak mudah meraih level kebaruan teoritik, namun masih sangat layak diikhtiarkan demi kemajuan pembangunan peradaban.
Motivasi untuk menghasilkan teori baru mengingatkan saya saat studi S3 Studi Islam di UINSA khususnya pada penulisan disertasi. Tesis doktoral seideal-idealnya dapat menghasilkan atau mengembangkan teori baru. Disertasi saya berjudul Rekonstruksi Teori Sistem Argumen Kosmo-Teleologi dan Kritik Sistemik Atas Ateisme. Temuan dari disertasi berupa dua teori sistem baru tentang argumen eksistensi Tuhan dan bagaimana mengkritik ateisme secara sistemik-komprehensif.
Sekilas Teori Sistem Argumen Kosmo-Teleologi
Secara singkat, teori sistem argumen kosmo-teleologi (TSAKT) menjelaskan bahwa ada rangkaian hubungan sistemik antara tema kausalitas, keteraturan, dan kekacauan. TSAKT mengkonstruksi bahwa hakekat kausalitas adalah kekurangan. Adanya kekurangan berkonsekuensi adanya kebutuhan dan lebih lanjut kausalitas serta ketergantungan satu sama lain. Adanya saling ketergantungan memiliki kualitas yang berbeda-beda. Kausalitas juga memiliki gradasi yang bersifat komparatif dan superlatif. Artinya ada perbedaan gradasi yang dapat dibandingkan semisal ada keterangan lebih kecil dan lebih besar. Di sisi yang lain ada istilah paling/the most semisal paling besar, paling kecil, dan sebagainya. Adanya superlatif menunjukkan adanya batas kausalitas dan itu konsekuensi dari kekurangan sebagai hakekat kausalitas.
Lebih lanjut lagi, keterbatasan melandasi keteraturan. Keteraturan menyaratkan adanya tujuan/garis akhir, unsur yang mendukung fungsi mengarah pada tujuan, dan fungsi berulang/siklus antar unsur secara sistematis. Keteraturan adalah perwujudan dari ketetrbatasan karena menyaratkan garis akhir/tujuan. Di sisi yang lain, sistem keteraturan menunjukkan keberawalan karena menyaratkan adanya perkembangan siklus semakin berkembang dan mapan. Konsekuensi lainnya adalah keteraturan tidaklah stabil, namun bisa menurun menjadi kekacauan dan kekacauan yang terus bertambah akan menjadi stagnan sehingga menjadi kehancuran segalanya. Artinya, keteraturan dan kekacauan adalah perwujudan dari keterbatasan. Itulah kerangka sistemik antara kausalitas (keberawalan dan keberakhiran), keteraturan, dan kekacauan.
Kerangka filosofis sistemik tersebut menjadi landasan dalam memahami teori Big Bang yang menjelaskan mekanisme sains tentang asal mula alam. Big Bang menjelaskan awal mula alam dengan umur yang terbatas yaitu 13,8 miliar tahun. Alam berkembang dan berproses secara bertahap. Alam bermula dalam kadar keteraturan tertingginya yang seiring bertambahnya waktu kadarnya terus menurun. Awal mula alam berkoensekuensi logis pada keterbatasan eksistensial alam semesta yang dengan kata lain alam tidak ada selamanya. Alam ada karena diciptakan bukan oleh materi atau semua yang terikat ruang-waktu. Alam tidak menciptakan dirinya sendiri karena tiada. Alam diciptakan oleh eksistensi non-material/immaterial. Kemungkinan adanya immaterial tak hingga tidak valid karena kausalitas menunjukkan keterbatasan, walaupun berada di luar alam karena alam ini adalah produk kausalitas.
Baca Juga : Musik Jiwa
Di sisi yang lain, ketakhinggaan memiliki kelemahan semisal ketakhinggaan kausalitas tak akan sampai pada penciptaan alam karena ketakhinggaan kausalitas yang mustahil dilalui. Andaikan ada rangkaian kausalitas immaterial, tentu tetap akan terbatas. Keterbatasan eksistensial inilah yang berujung pada ketergantungannya terhadap eksistensi yang tiada terikat kausalitas beserta atribut turunannya. Eksistensi itulah yang membatasi kausalitas dan memulai segala yang ada. Eksistensi Mutlak itulah Pencipta segala sesuatu. Pencipta segala sesuatu tiada yang menyamai karena Dia mutlak atau Eksistensi Yang Maha Esa. Eksistensi Yang Maha Esa atau Pencipta Yang Maha Esa itulah yang biasa disebut dengan Tuhan Yang Maha Esa.
TSAKT memenuhi kaidah-kaidah sebagai teori sebagai berikut:
1. Sistem konsep-konsep: Terdapat sistem yang menyatukan kajian seluk-beluk kausalitas, keteraturan, dan kekacauan dalam kesatuan sistem terpadu;
2. Generalisasi pola: Hal itu meliputi tentang kajian hakekat kausalitas, hakekat keteraturan, hakekat kekacauan, dan hubungan sistemik diantara ketiganya;
3. Prediksi: alam semesta memiliki awal dan akhir serta kelemahan-kelamhan ketakhinggaan alam yang berefek pada kelemahan kosmologi ateistik;
4. Lebih lanjut lagi, TSAKT dapat dijadikan sebagai kerangka teoritik dalam riset tentang argumen eksistensi Tuhan.
TSAKT memiliki distingsi dan kebaruan dibandingkan dengan berbagai aliran dalam argumen kosmologi yang memfokuskan pada kajian asal mula alam. Argumen kosmologi memiliki beberapa aliran yang meliputi: argumen gerak, penciptaan dari tiada, kontingensi, dan lain sebagainya. Rumpun argumen kosmologi tidak mengkaji tentang keteraturan apalagi kekacauan alam. Di sisi yang lain, argumen teleologi lebih memperhatikan aspek keteraturan, tujuan, fungsi, dan lain sebagainya namun kurang memperhatikan permasalahan kekacauan alam ataupun aspek kosmologi. Oleh karena itu, TSAKT tidak termasuk rumpun argumen kosmologi dan teleologi, namun menjadi teori baru argumentasi adanya Tuhan dengan paradigma sistemik.
Penutup dan Renungan
Sekali lagi saya menyampaikan bahwa menghasilkan temuan teoritik baru tidaklah mudah, namun masih sangat realistis. Saya pribadi memerlukan waktu bertahun-tahun setidaknya sejak SMA memikirkan tema yang saya geluti. Pada tahun 2019 setelah sidang tesis, saya memikirkan formula kesenjangan dan kebaruan teoritik dan akhirnya pada tahun 2020 saya berhasil melanjutkan studi doktoral di UINSA. Saya mengajukan proposal tentang kesenjangan dan kebaruan teoritik dan alhamdulillah bertahan hingga sidang terbuka.
Tidak sekedar memerlukan waktu lama, namun effort yang begitu besar. Kejelian dalam memetakan kesenjangan teoritik menuntut untuk meruntut sumber-sumber literasi dan menemukan pola kesenjangan yang konsisten. Saya menyadari tema ini berumur sangat tua dan beresiko tinggi dalam pencarian kesenjangan dan kebaruan teoritik. Di sisi yang lain, saya begitu menggemari bidang filsafat ketuhanan dan kosmologi. Rasa cinta itulah yang memberikan kekuatan saya untuk bertahan dalam riset ini sebagai wujud kontribusi bagi pembangunan peradaban. Hampir setiap hari saya merasa resah tentang kesenjangan teoritik ini apakah sudah ada yang meneliti, namun itu menjadi pelecut saya untuk menyusun kesenjangan dan kreatifitas rekonstruksi teoritik.
Saya menyadari bahwa tiap bidang memiliki teori sistem, namun hal itu masih sangat jarang dalam kajian filsafat ketuhanan. Teori sistem yang ada pun adalah argumen keteraturan alam sebagaimana yang diadvokasi oleh Jasser Auda. Saya menyadari pentingnya menyusun teori sistem yang menyasar tema kausalitas, keteraturan, dan kekacauan sebagai tiga prinsip dasar pembuktian eksistensi Tuhan berbasis penalaran alam. Akhirnya saya membulatkan tekad untuk menyusun teori sistem dengan keberanian. Tanpa keberanian, akan sulit bertahan dalam proses dekonstruksi-rekonstruksi. Setiap hari kita akan menghadapi pemikiran-pemikiran besar dan berusaha mencari celah lalu merekonstruksinya. Hal itulah yang menjadi kebermaknaan seorang peneliti dan hasil kebaruan serta kontribusinya adalah puncak kebahagiannya.

