(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Musik Jiwa

pepeling

Saya teringat ketika  belajar di SMEPN Tuban. Guru  saya  menyatakan bahwa “Musik di Arab Saudi kebanyakan mendayu-dayu karena udaranya panas,  dan  lagunya juga kebanyakan melankolis. Berbeda dengan musik di Barat, kebanyakan  lagu rock, sebab udaranya dingin sehingga lagunya merefleksikan pentingnya  gerak tubuh yang lebih dinamis”. Apa yang diungkapkan oleh guru kesenian di SMEPN Tuban itu saya kira benar, sebab secara rasional bahwa di daerah panas,  maka sedikit gerakan sudah mengeluarkan keringat,  berbeda dengan di daerah dingin yang memerlukan gerak tubuh yang lebih banyak  untuk bisa mengeluarkan keringat.

  

Sabtu, 29/08/2020, saya kembali ke Surabaya dari Tuban. Di tengah perjalanan tersebut, saya membuka Zoom Nur Syam Centre (NSC) karena biasanya hari itu dilakukan evaluasi oleh crew NSC terkait dengan apa yang sudah dilakukan dalam pekan itu dan apa yang harus dilakukan oleh crew untuk pekan ke depan. Ketepatan ketika saya membuka Zoom, maka saya mendengar musik pembuka yang secara sengaja diputar oleh Cak Iyan, selaku host, dan musik itu terasa sekali membawa alam rasa kita kepada kalimat Tuhan, “La ilaha illallah”. Tanpa terasa mulut dan hati kita ikut serta melantunkan kalimat yang didendangkan oleh penyanyinya, melalui iringan musik yang syahdu dan mendayu-dayu.

  

Musik  itu terus diputar  Cak Iyan sambil menunggu crew yang lain memasuki Zoom untuk evaluasi. Rupanya hari Sabtu ini tidak ada acara evaluasi, karena beberapa crew NSC ternyata memiliki  acara keluarga yang penting. Begitu acara evaluasi tidak dilaksanakan, maka saya langsung meminta  kepada Cak Iyan agar link lagu tersebut dikirim ke handphone saya. Maka,  Cak Iyan mengirimkan link lagu tersebut, dan ketika saya baca ternyata lagu itu adalah lagu meditasi dengan kalimat La ilaha illallah. Pantaslah jika telinga dan hati saya langsung klik ketika mendengarkan lagu ini, sebab merupakan lagu meditasi berbasis kalimat La ilaha illallah.

  

Musik India memang menyajikan lagu-lagu yang mendayu-dayu,  lagu-lagu yang melankolis. Kebanyakan lagu itu diaransir dengan semangat “percintaan” yang syahdu dan menggairahkan. Dipadu dengan tarian khas India, yang gerakan tubuhnya terasa enteng dan menyenangkan. Kesedihan pun bisa diaransir dengan tarian yang melambangkan bagaimana kesedihan itu terekspressi sedemikian rupa. Apalagi jika yang ingin diekspresikan adalah kesenangan dan kebahagiaan, maka aransemen lagu,  musik dan  tariannya juga diekspresikan yang melambangkan kegairahan kehidupan tersebut.

  

Syair lagu di dalam musik meditasi itu  tidak macam-macam. Hanya La ilaha ilallah diulang tiga kali, lalu illallah juga diulang tiga kali, Ila Habibi, Illallah, Ilahu, Allah-Allah.  Selebihnya musik khas India itu yang diperdengarkan. Dengan alat musik senar dan   perkusi, seperti: gitar, sarod, tambura, tabla dan vina serta suara genta di akhir kalimat Illallah, maka musik itu terdengar dengan sangat syahdu. Lantunan kalimat La Ilaha illallah dengan suara khas penyanyi India sungguh memberikan nuansa syahdu kala menyebut kalimat tauhid itu. 

  

Saya ikuti nyanyian itu,  lalu saya resapi paduan alat musiknya tanpa terasa meleleh air mata mendengarkan alunan musik dan untaian kalimat La Ilah illallah. Semakin lama semakin cepat irama dan lagunya sehingga saya terbawa juga untuk mengikutinya. Bunyi gendang yang diaransir di setiap akhir kalimat, dan suara genta yang juga diaransir di kalimat akhir Illallah, terasa sedemikian syahdu dan menghentak untuk memasuki relung-relung kejiwaan kita. Terasa kalimat La ilaha illallah itu seakan suara surgawi yang merasuki segenap hati para penghuninya. Subhanallah

  

Saya menjadi teringat bahwa di dalam dunia kaum sufi,  musik dan tarian juga diajarkan. Tarekat Sanusiyah di Afrika Utara mengajarkan wirid kalimat La ilaha ilallah dengan musik dan tarian yang bisa menyebabkan seorang salik memasuki trance, atau terserap fisik dan jiwanya  ke dalam irama dan tari sufi tersebut. Di kalangan Tarekat Syahadatain juga didapati penggunaan musik untuk membaca wirid. Bahkan Syekh Abah Anom ketika membai’at muridnya dalam bai’at jamaah juga menggunakan rebana untuk menandai di mana titik-titik tekan kalimat La ilaha illallah.

  

Musik meditasi yang diaransemen oleh musisi India ini memang merupakan gabungan musik klasik India dan juga bunyi genta yang biasa digunakan di kalangan penganut agama Buddha. Meditasi kebanyakan juga dilakukan oleh penganut Agama Buddha. Jadi, musik meditasi berbasis kalimat La ilaha illalllah itu merupakan aransemen musik yang merupakan perpaduan berbagai unsur yang menyatu dalam aransemen musik religius,  tetapi intinya adalah bagaimana melantunkan kalimat La ilaha illallah, Ya habibi Ya Allah, dan Illallah-illallah

  

Saya sama sekali tidak bisa memainkan alat-alat musik, tetapi telinga saya bisa menikmati banyak genre musik. Musik rock n roll, musik rock, musik Timur Tengah, musik India, musik Melayu, musik country, keroncong, jazz, campur sari, dan  bahkan juga gending-gending Jawa. Telinga saya bisa akrab dengan berbagai jenis musik. Di kala diputarkan lagu-lagu khas, musik meditasi maka telinga saya juga langsung klik dengannya. 

  

Saya juga tidak tahu kenapa yang menciptakan musik meditasi ini adalah pemusik India, kenapa tidak pemusik Indonesia. Inilah yang menjadi pertanyaan dasar. Musik-musik religi di Indonesia diciptakan dengan pikiran dan perasaan saja, kurang menyentuh dimensi hati atau pengalaman  batin, sehingga kehadirannya tidak membawa efek ketenangan batin. Hal ini sungguh berbeda dengan kehadiran musik meditasi yang terdapat di link youtube itu. 

  

Saya kira yang menciptakan musik meditasi ini bukan hanya pencipta lagu dan musisi akan tetapi juga orang yang ahli meditasi. Inilah yang membedakan antara musisi Indonesia yang menciptakan lagu-lagi religious. Kebanyakan mereka hanya musisi saja, dan bukan ahli meditasi, sehingga dimensi batin itu tidak tergarap dengan kemendalaman yang luar biasa. Musik yang kita dengarkan ini memenuhi dua hal itu, musik dan meditasi.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.