(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Persoalan Integrasi Sains dan Agama di Era Multikultural

Riset Agama

Tulisan berjudul “Contextualization of Scientific and Religious Values in Multicultural Society” merupakan karya Dalmeri. Karya ini terbit di Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan “Walisongo”. Penelitian ini menggunakan pendekatan reflektif filosofis terhadap integrasi nilai sains dan agama. Hal ini bertujuan untuk mencari solusi atas persoalan integrasi nilai sains dan agama serta kontekstualisasi nilai agama dalam perkembangan sains dan teknologi di era multikultural seperti Indonesia. Resume ini akan membahas tulisan Dalmeri dalam tujuh sub bab. Pertama, pendahuluan. Kedua, diskursus pola komunikasi sains dengan nilai-nilai agama. Ketiga, pengaruh perkembangan sains terhadap umat Islam. Keempat, perkembangan sains dan teknologi serta implikasinya terhadap umat Islam. Kelima, pendekatan dalam memahami pola komunikasi sains dengan agama. Keenam, keterpaduan sains dan teknologi dengan al-Qur’an dan sunnah rosul. Ketujuh, kualitas manusia dan nilai dalam Islam. 

  

Pendahuluan

  

Persaingan sains dan teknologi di era global semakin ketat dan condong tidak berpihak kepada umat Islam. Misalnya, tragedi perang saudara di Suriah yang sangat memilukan dan telah memakan korban ribuan rakyat sipil terutama anak-anak Suriah. Tuduhan teroris dan perlakuan kekerasan dirasakan akrab dalam icon media komunikasi sehari-hari, terutama pasca terjadinya tragedi pemboman kota Paris yang menjadi cikal bakal Islamophobia di kalangan masyarakat barat dan Eropa. 

  

Perkembangan sains dan teknologi telah menghantar umat manusia pada tingkat kualitas peradaban yang kompeks. Seluruh aspek kehidupan manusia sebagai pilar dalam pembangunan peradaban dunia. Peradaban manusia terbaik dalam norma Islam dinyatakan memiliki identitas yakni kemampuan ber-amar ma’ruf, ber-nahi munkar atas dasar keyakinan dengan norma yang berasal dari Allah SWT. Sunnatullah telah mengikat seluruh isi alam semesta. Artinya, tidak ada sesuatu di alam ini yang sempurna dalam ukuran kebaikan dan manfaat dalam sesuatu. Ukuran kebaikan dan keburukan merupakan implikasi dari kontektualisasi nilai sains dan teknologi dengan agama pada era multikultural.

  

Diskursus Pola Komunikasi Sains dengan Nilai-nilai Agama

  

Sains adalah tata bahasa yang ditetapkan Allah SWT bagi manusia untuk berkomunikasi dengan semua sumber daya alam yang dimiliki. Sains dan teknologi merupakan kunci yang akan membuka gerbang pemahaman seluruh aturan, sifat, perilaku dan seluruh isi alam. Perkembangan sains dan teknologi dari berbagai bidang adalah perbendaharaan kata dalam komunikasi manusia dengan alam. Komunikasi yang terbaik adalah selain menggunakan gramatika yang baik, juga menerapkan etika dan sopan santun yang sesuai dengan konteks.

  

Di dalam perkembangan sains dan teknologi di dunia barat secara komprehensif menerima tongkat estafet dari ilmuan muslim. Namun, mereka hanya mengagungkan metode ilmiah dan mengabaikan “wahyu”. Implikasinya adalah anggapan bahwa wahyu adalah “ilmu palsu” yang tidak diakui kebenarannya. Prinsip berpikir semacam ini kemudian diikuti oleh umat Islam di berbagai penjuru dunia. Sebab, mereka memperoleh “imbalan” berupa sistem kehidupan kapitalis, materialistis dan hedonis yang menggiring pada penurunan derajat atau kualitas “khayr al-ummah”

  

Pengaruh Perkembangan Sains Terhadap Umat Islam


Baca Juga : Apa yang Mendorong Framing Anti-Syiah di Indonesia?

  

Pada abad ke 16, pengaruh perkembangan sains dan teknologi telah menciptakan perspektif barat yang berbeda pada dasar paradigmatiknya. Filsafat dipahami sebagai manifestasi kegiatan intelektual, tradisi ilmiah masyarakat barat adalah kelanjutan dari perjalanan panjang kehidupan orang Yunani Kuno.  Pertemuan antara filsafat dengan agama mendorong lahirnya berbagai bidang ilmu pengetahuan, seperti astronomi, kedokteran, psikologi, biologi, arsitektur, dan sebagainya. Relasi antara agama dengan sains dan teknologi dalam Islam diibaratkan dua sisi mata uang yang berbeda tetapi tidak dapat dipisahkan. Sains dan teknologi dalam Islam sangat memperhatikan ajaran agama, begitu juga sebaliknya. Sebab, ilmu pengetahuan merupakan jalan untuk memahami kesatuan realitas yang diberitakan dalam kitab suci agama. 

  

Perkembangan Sains dan Teknologi serta Implikasinya terhadap Umat Islam

  

Perkembangan ilmu pengetahuan secara teoritik dipandang sebagai paling signifikan, yang oleh founding father paham empirisme dibagi menjadi ilmu alam, ilmu pasti, dan filsafat pertama yang dikenal sebagai metafisika. Pada abad ke 15, gerakan Renaissance disempurnakan oleh gerakan Aufklarung pada abad 18. Filsafat Yunani dipelajari oleh pemikir barat melalui karya filosofi muslim memasuki tahap yang baru dan lebih maju. Memasuki abad 20, “revolusi” ilmu pengetahuan di barat masih terus berlangsung, berbagai penemuan telah merombak teori yang mapan sebelumnya. Namun, perkembangan tersebut belum menggeser paradigma diferensiasi ilmu pengetahuan yang menjadi ciri utama kemajuan era modern. 

  

Pada paruh terakhir abad 20, etos keilmuan mulai dihadapkan pada kecenderungan baru yang lebih memperhatikan dunia spiritual. Naisbit dan Aburdence dalam Megatrend 2000 menyebut dengan istilah New Age. New Age merupakan era yang berusaha meyakinkan banyak orang bahwa cara yang paling tepat dalam memecahkan berbagai persoalan baik personal maupun sosial yang telah menjadi bagian dari krisis kebudayaan barat yang mendorong kemunculan New Age, dan hanya akan terselesaikan apabila ada cukup orang mencapai apa yang disebut The Higher Consciousness. 

  

Pendekatan dalam Memahami Pola Komunikasi Sains dengan Agama

  

Menurut Capra dalam The Turning Point: Science, Society, and the Rising Culture menegaskan bahwa untuk keluar dari belenggu dikotomi dalam kehidupan, manusia dituntut dapat mengintegrasikan nilai dan makna yang dikombinasikan dengan pengetahuan sains dan teknologi. Pandangan integratif semacam itu, disebabkan sains modern yang positivistik cenderung melakukan reduksi terhadap realitas alam, termasuk manusia sebagai makhluk hidup. Manusia sering dipandang agama dan filsafat memiliki dimensi luhur seperti jiwa, hati, ruh dan sebagainya. Di dalam persepsi sains, hanya sebagai makhluk fisik atau biologis dengan sistem syaraf yang rumit. namun tidak menghasilkan jiwa sebagai substansi immaterial. Pada aspek ini, manusia menjadi tidak memiliki keistimewaan, seperti yang diberikan oleh filsafat sebagai mikrokosmos, atau agama sebagai wakil Tuhan di bumi. 

  

Keterpaduan Sains dan Teknologi dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rosul

  


Baca Juga : Obsesi Menuju Perguruan Tinggi Internasional hingga tergencet Quota Jumlah Mahasiswa PTN

Perjalanan sejarah perkembangan sains menunjukkan grafik pertumbuhan yang mengalami percepatan makin besar seiring dengan berjalannya waktu. Lebih dari 100.000 artikel ilmiah dari berbagai disiplin, “lahir” tiap hari di dunia. Selain menunjukkan betapa luasnya cakupan sains, juga membuktikan bahwa dinamika alam semesta tidak pernah berhenti. Sesuai dengan firman Allah SWT dalam surah Az-Zumar ayat 27, As-Syura ayat 52, dan Ar-Rad ayat 11.

   

Relasi antara manusia dengan Allah SWT diciptakan pembatas “semipermeable”, yakni hanya berperan meneruskan satu arah, dari manusia ke arah Allah SWT. Sehingga, harus ada komunikasi arah sebaliknya, yakni dari Allah ke manusia. Komunikasi Allah SWT yang menembus semipermeable adalah sains, teknologi, dan seni. Artinya, sains dan teknologi itulah komunikasi dari Allah kepada manusia, berlangsung berupa tuntunan, nasihat, penjelasan atas semua aspek kehidupan yang sesuai dengan kehendak Allah SWT. 

  

Kualitas Manusia dan Nilai dalam Islam 

  

Peran sains dan teknologi bagi umat manusia, selain sebagai bahasa komunikasi dengan alam juga alat ukur yang dituntun oleh Allah SWT. Sains dan teknologi merupakan sunnatullah. Artinya, merupakan aturan dari Allah SWT. Sehingga, sains dan teknologi sesungguhnya merupakan bagian dari alat ukur kualitas manusia. Kualitas manusia di hadapan Allah SWT dalam mengemban amanah sebagai khilafah di muka bumi, salah satu komponen pengukurnya adalah pemahaman dan penerapan teknologinya. 

  

Sesungguhnya iman dan takwa serta sains dan teknologi adalah satu yang tidak bisa terpisahkan. Sehingga, sains dan teknologi dewasa ini direstrukturisasi. Konstektualisasi nilai sains dan teknologi dengan nilai Islam pada hakikatnya adalah menggali kembali makna nilai iman dan takwa yang “tercerabut” dari perkembangan sains dan teknologi. Makna iman dan takwa telah diakui dalam sains dan teknologi. Namun karena suku kata yang dipakai dari dunia luar, maka artikulasi dan pemahamannya sering dirasakan sulit.

  

Kesimpulan

  

Pemahaman ajaran Islam sebenarnya menampilkan integrasi iman dan takwa dengan sains dan teknologi, baik dalam substansi maupun metodologi. Perpaduan iman dan takwa dengan sains dan teknologi dalam materi memerlukan kebijaksanaan dalam “meramu” ayat al-Qur’an. Kebijaksanaan yang dilandasi keikhlasan berijtihad akan menuntut pada pendalaman makna yang tidak hanya bersifat permukaan, namun sampai pada tingkat filosofisnya. Proses pemahaman terhadap sains dan teknologi adalah sebuah proses “monumental”, sebagai amal jariyah yang akan mengangkat manusia pada tingkat atau derajat yang lebih tinggi.