Menggiatkan Kebaruan Teoritik Sebagai Terobosan Peradaban Bagian II
Kelas Metode PenelitianOleh: Dr. Gigih Saputra, S.Kom.I, M.Ag
Pengantar
Artikel ini adalah kelanjutan dari artikel pertama yang menjelaskan tentang temuan dua teori sistem baru dalam disertasi saya. Pada artikel pertama, saya menjelaskan tentang garis besar teori sistem argumen kosmo-teleologi dan refleksi singkat penulis selama proses pengerjaan disertasi. Dalam artikel ini, penulis menjelaskan teori sistem kritik atas ateisme sebagai tindak lanjut teori sistem kosmo-teleologi dan refleksi singkat.
Sekilas Teori Sistem Kritik Atas Ateisme
Temuan teori baru kedua pada disertasi saya adalah teori sistem kritik atas ateisme (TSKT). Teori tersebut sebagai kelanjutan dari TSAKT. Pembuktian eksistensi Tuhan berkonsekuensi pada kritik atas ateisme. Ciri khas kritik yang saya bangun juga bercorak sistem. TSAKT menjadi fondasi dan pemandu TSKT. TSAKT menjelaskan bahwa kausalitas terhingga yaitu memiliki awal dan akhir yang dapat menjelaskan keteraturan dan kekacauan yang berpuncak pada keberakhiran. TSKT menunjukkan bahwa ketakhinggaan kausalitas dan natural gagal menjelaskan kausalitas, keteraturan, dan kekacauan.
TSKT memulai kritik sistemik dari kritik atas positivisme dan materialisme. Positivisme sebagai bentuk ekstrem dari materialism menolak filsafat yang mana itu tidak realistis. Mengapa demikian? Sains akan sangat rapuh tanpa landasan fondasi filosofis dan sangat simplistik dalam memahami realitas. Selanjutnya, TSKT mengkritik ketakhinggaan dengan berbagai argumen filosofis baik ketakhinggaan garis lurus, siklus, dan sistem. Contoh kritiknya seperti ketakhinggaan tak dapat menjelaskan hakekat kausalitas dan gradasi kausalitas. Gradasi kausalitas menyaratkan adanya perbandingan dan superlatif yang membatasi. Lebih lanjut, TSKT menjelaskan bahwa ketakhinggaan gagal memahami keteratuan dan kekacauan. Mengapa demikian? Karena dalam ketakhinggaan tiada tujuan atau garis akhir sehingga unsur-unsur pembentuk sistem tidak memiliki arah untuk membentuk fungsi dan kedudukan. Konsekuensinya, tidak terjadi siklus fungsi sistemik. Dampak negatifnya juga ketakhinggaan gagal menjelaskan kekacauan karena kegagalan dalam menjelaskan keteraturan. Perlu diingat bahwa kekacauan adalah keteraturan yang menurun dan berujung pada keberakhiran. Ketakhinggaan juga menghindari kekacauan karena berujung pada keberakhiran. Di satu sisi tidak ada hukum yang dapat menjelaskan bahwa kekacauan dapat dikembalikan pada keteraturan kembali terlebih waktu hanya bergerak maju.
Langkah lebih lanjut setelah mengkritik ketakhinggaan filosofis adalah kritik atas teori kosmologi ateistik. Berikut beberapa contoh kritiknya:
1. Multiverse menihilkan universalitas karena semakin ke dasar hukum alam semakin banyak dan tak hingga. Tidak ada universalitas maka tidak ada variasi hukum hukum apalagi multiverse;
Baca Juga : Sekalipun Binatang, Gus Fahrur ; Antar Sesama Harus Saling Berbuat Adil
2. Bertentangan dengan cita-cita sains untuk mencari pola-pola dasar hukum sains;
3. Tidak bisa menjelaskan tentang kekacauan yang semakin bertambah;
4. Satu per tak hingga dalam peluang menghasilkan alam yang kita tempati artinya memerlukan tak hingga kesempatan dan hal itu bertentangan dengan umur semesta sejak Big Bang dan tak akan ada yang tercapai dalam ketakhinggaan;
5. Masalah urutan pada kosmologi Big Bounce yang semuanya dinyatakan urutan ke-tak hingga sebagai kontradiksi dan tak bisa menjelaskan masalah pengembangan dan urutan;
6. Pergeseran paradigma dari materialisme yang menuntut bukti empiris menjadi lebih ke idealisme yang menuntut percaya saja pada multiverse tanpa adanya bukti.
Langkah berikutnya adalah melakukan kritik dengan cara mengkontradiksikan konsep dan teori ateisme sehingga dapat menunjukkan bahwa ateisme tidak memiliki pandangan sistemik. Langkah kritik ini semakin menunjukkan bahwa ateisme tidak bisa menjelaskan realitas dan tidak koheren satu sama lain sehingga tidak sistemik. Contoh dari kontradiksi antar pemikiran ateisme yaitu infinite regression immaterial (alam ada yang menciptakan yaitu eksistensi immaterial yang terikat kausalitas tak hingga) dan multiverse. Kontradiksi itu dapat ditemui pada pemikiran Hawking yang mempertanyakan siapakah pencipta Tuhan sekaligus menyuguhkan teori multiverse. Sesungguhnya keduanya berkontradiksi karena multiverse tidak mengizinkan adanya penyebaban dari eksistensi immaterial karena multiverse digunakan sebagai penjelasan asal mula alam.
Selanjutnya saya memberikan prediksi masa depan ateisme. Berdasarkan TSKT, pemikiran ateisme tidak akan bisa berkembang lebih lanjut karena tidak dapat menjelaskan realitas dan saling berkontradiksi dari paradigma hingga teori sainsnya. Adapun perkembangan pemikiran akan cenderung pada argumen dari teori multiverse. Prediksi lainnya adalah temuan-temuan sains hanya akan konsisten dengan pandangan keterbatasan alam. Sebaliknya, temuan-temuan saintifik tidak akan konsisten dengan pandangan ketakhinggaan alam yang diadvokasi oleh ateisme. Terakhir, penulis menjelaskan mengapa ateisme nampak kuat, walapun sebenarnya sangat rapuh. Ateisme yang didasari pemikiran positivisme dan materialisme memang jadi aktor utama era pencerahan di Eropa. Eropa sendiri adalah kiblat dunia sehingga menjadi begitu wajar ateisme dipandang sebagai pandangan yang ilmiah. Di satu sisi, budaya berpikir ilmiah umat Islam masih perlu banyak ditingkatkan dalam berbagai bidang termasuk dalam hal ketuhanan.
TSKT memenuhi kaidah-kaidah sebagai teori sebagai berikut:
1. Sistem konsep-konsep: kritik sistemik ketakhinggaan-kegagalan memahami keteraturan-efeknya bagi pemahaman tentang kekacauan dan lain sebagainya;
2. Generalisasi: ketakhinggaan gagal secara sistemik dalam memahami realitas apapun teori ateismenya;
3. Prediksi: temuan-temuan sains tak akan konsisten dengan kosmologi ateisme dan pemikiran ateisme tidak akan bisa berkembang;
Baca Juga : PPKM, Jaga Kesehatan dan Jangan Lupa Berdoa
4. Aplikasi sebagai pisau analisis: bisa diaplikasikan untuk mengkritik pemikiran-pemikiran ateisme berbasis penalaran akan alam.
TSKT memiliki distingsi dan kebaruan sebagai berikut:
1. Konsisten dengan TSAKT;
2. Mengkritik ateisme secara sistemik mulai paradigma, ketakhinggaan (lurus, siklus, sistem), kegagalan memahami asal usul alam, keteratuan, dan kekacauan hingga teori sainsnya lalu mengkontradiksikan konsep dan teori-teori ateisme;
3. Tidak menderita kontradiksi di satu sisi masih membuka kemungkinan akan ketakhinggaan multiverse dan keterbatasan alam saat membicarakan argumen eksistensi Tuhan;
4. Tidak menderita kontradiksi mendukung ketakhinggaan, namun tetap mengakui eksistensi Tuhan sebagaimana mana Ibn Rushd dan newton dalam studi kasus argumen gerak abadi dan keteraturan dengan paradigma ruang waktu absolut;
5. Mengkritik keberatan-keberatan ateisme dalam hal keterbatasan alam dan keterbatasan kausalitas immaterial;
6. Memberikan prediksi tentang temuan-temuan sains dan masa depan pemikiran ateisme.
Hikmah dan Renungan
Sudah waktunya akademisi Indonesia memiliki roadmap riset setidaknya secara kolaboratif untuk menghasilkan atau mengembangkan teori baru. Masa keemasan keilmuwan Islam dapat menjadi inspirasi untuk pembangunan peradaban. Sistem pendidikan doktoral dan karir dosen perlu lebih digiatkan untuk grounded research, induktif-holistika, dekonstruksi-rekonstruksi teoritik, dan tentu saja multi-inter-transdisipliner. Penanaman semangat dan mentalitas meraih level kebaruan tertinggi perlu dihidupkan secara konsisten sebagai semangat ladang amal jariyah.
Langkah yang tak kalah penting juga adalah pemberantasan perjokian karya ilmiah dan plagiasi. Hal-hal tersebut menurunkan kualitas riset dan mencenderai moral dan budaya keilmuwan. Impian untuk menjadi pusat peradaban tidak akan tercapai, jika perjokian dan plagiasi masih menjangkiti dunia pendidikan.

