(Sumber : Greatmind)

Fenomena Waithood: Saat Perempuan Menunda Menikah

Informasi

Eva Putriya Hasanah

  

Waithood, atau keadaan menunda menikah, telah menjadi fenomena yang semakin umum di kalangan perempuan dewasa. Hal ini menandai perubahan dalam pola hidup dan ekspektasi perempuan terhadap hubungan dan pernikahan. Fenomena ini muncul sebagai hasil dari berbagai faktor sosial, ekonomi, dan budaya yang mempengaruhi cara perempuan memandang diri mereka sendiri dan masa depan mereka.

  

Siane Singerman, seorang profesor dari University of America, memperkenalkan Waithood pada akhir tahun 2007. Studinya menunjukkan bahwa generasi muda di Timur Tengah memilih untuk menunda menikah karena mereka tidak memiliki cukup finansial. Studi lain yang dilakukan oleh Marcia Inhorn dari Yale University mendukung fenomena ini, generasi muda memilih untuk menunda pernikahan terutama perempuan dan kaum berpendidikan.

  

Pada abad ke-21, fenomena ini dianggap normal dan menyebar ke seluruh dunia. Tidak dapat dipungkiri bahwa ada ketakutan akan krisis ekonomi, kekerasan dalam rumah tangga, dan kesalahan dalam mendidik anak. Selain itu, kultur patriarki yang kuat di Indonesia menyiksa perempuan di tempat kerja, hubungan, dan lainnya. Selain itu, perempuan tidak menikah karena kultur keagamaan yang sering disalahartikan dalam hubungan.

  

Menurut data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik pada tahun 2022, jumlah pernikahan di Indonesia menurun secara tajam dalam sepuluh tahun terakhir. Pada tahun 2022, jumlah pernikahan di seluruh negeri hanya 1,7 juta. Sementara itu, data dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional menunjukkan bahwa usia perempuan menikah di atas 22 tahun. Rata-rata perempuan juga hanya melahirkan satu anak perempuan. Kondisi ini sebagian besar disebabkan oleh perubahan pandangan perempuan muda tentang pernikahan dan kualitas hidup setelah menikah.

  

Kesadaran Atas Persoalan Ekonomi

  

Seperti yang telah di singgung dalam paragraf sebelumnya, faktor ekonomi juga memainkan peran penting dalam fenomena waithood. Banyak perempuan menginginkan stabilitas finansial sebelum memasuki pernikahan, sehingga mereka dapat merasa lebih aman dan siap untuk membangun keluarga. Dengan memperhatikan aspek ekonomi, perempuan lebih cermat dalam memilih waktu yang tepat untuk menikah agar dapat memberikan dukungan finansial yang memadai bagi keluarga mereka.

  

Selain itu, fenomena generasi sandwich juga menjadi faktor ekonomi yang membuat perempuan milenial memilih untuk menunda pernikahan. Generasi sandwich adalah orang-orang yang membagi hartanya kepada orang tua mereka yang sudah lebih tua. Mereka juga kadang-kadang harus menghidupi orang tua, saudara, dan anggota keluarga mereka sebagai bentuk tanggung jawab dan rasa terima kasih kepada keluarga.


Baca Juga : Agama, Adat Istiadat dan Identitas

  

Perempuan dari generasi sandwich harus bertanggung jawab atas masa depan adik-adiknya, termasuk membayar kebutuhan rumah tangga, asuransi kesehatan, dan lainnya. Perempuan generasi ini harus menghasilkan banyak uang untuk membayar keluarganya. Karena keadaan ini, perempuan lebih memprioritaskan keluarga daripada menikah dengan pasangannya.

  

Kehadiran Teknologi

  

Kehadiran teknologi telah mempengaruhi identitas masyarakat terutama perempuan dalam mengekspresikan dirinya. Teknologi menghadirkan digitalisasi yang mempengaruhi kebebasan perempuan untuk memilih peran di kehidupannya sekaligus mendobrak stereotip gender yang mengikat kebebasan perempuan selama ini.

  

Digitalisasi telah memperluas pengetahuan perempuan sehingga mereka dapat dengan mudah memegang kontrol atas kehidupan dan diri sendiri. Hal ini meningkatan kesadaran perempuan akan pentingnya pendidikan, karier, pengembangan pribadi, keseimbangan gender, hak-hak perempuan, dan kesetaraan dalam hubungan sebelum memasuki komitmen pernikahan. Mereka ingin memiliki kemandirian finansial dan kesempatan untuk mengeksplorasi potensi mereka sebelum menetap dalam hubungan yang serius. Kemajuan ini membantu perempuan untuk hidup lebih mandiri dan terbuka atas pilihan hidupnya termasuk pilihan untuk menunda atau tidak menikah sama sekali.

  

Dinamika Ekspektasi Sosial

  

Meskipun fenomena waithood menunjukkan perubahan positif dalam kehidupan perempuan, hal ini juga dapat menimbulkan tekanan sosial dan ekspektasi yang tinggi. Beberapa perempuan mungkin merasa terbebani oleh harapan masyarakat atau keluarga untuk menikah pada usia tertentu, sementara mereka masih berusaha meraih tujuan pribadi dan profesional mereka.

  

Dengan demikian, fenomena waithood tidak hanya mencerminkan perubahan dalam pola hidup perempuan, tetapi juga menggambarkan dinamika kompleks antara perkembangan pribadi, hubungan, dan ekspektasi sosial. Penting bagi masyarakat untuk memahami bahwa setiap perempuan memiliki perjalanan hidupnya sendiri, dan keputusan terkait pernikahan merupakan hal yang sangat pribadi dan kompleks.

  

Dengan kesadaran akan faktor-faktor yang memengaruhi fenomena waithood, diharapkan masyarakat dapat memberikan dukungan dan pengertian yang lebih besar terhadap perempuan yang memilih untuk menunda menikah demi meraih tujuan pribadi dan profesional mereka. Dengan demikian, perempuan dapat merasa lebih didukung dalam mengeksplorasi potensi mereka dan membangun kehidupan yang memenuhi ekspektasi dan kebahagiaan mereka.