(Sumber : Tirto)

Dari Konsep ke Teori

Kelas Sosiologi

Prof. Dr. Nur Syam, MSi

 

Salah satu yang membuat saya merasa bahagia adalah bisa dipercaya untuk mengajar di beberapa PTKIN di Indonesia. Hingga hari ini, saya masih bisa mengajar di UIN Maliki Malang, IAIN Kediri, UNISMA Malang, dan juga pernah mengajar di UIN Mataram, IAIN Pontianak dan tentu saja di home base saya mengajar di UIN Sunan Ampel Surabaya. Melalui teknologi digital dewasa ini, maka hal-hal yang di masa lalu tidak bisa dilakukan lalu bisa dilakukan sekarang. 

  

Dan yang terpenting masih dikaruniai kesehatan yang baik, sehingga masih bisa mengajar, menulis dan melalui tulisan di nursyamcentre.com dan nursyam.uinsby.ac id tersebut kemudian bisa dibukukan. Saya merasakan Allah memberikan kebahagiaan dengan cara seperti ini. Kebahagiaan seorang dosen adalah di kala bisa mengaktualisasikan pikirannya dalam karya akademik, apapun kualitas tulisan tersebut.

  

Memang harus saya akui bahwa akhir-akhir ini tidak banyak membaca buku-buku teks yang berat-berat. Buku daras sudah jarang disentuh terkecuali ada masalah teoretik yang mengharuskan diambil dari buku teks. Selebihnya jika saya menulis lebih banyak merupakan karya reflektif dalam berbagai cabang ilmu. Bisa saja saya menulis masalah-masalah kehidupan keagamaan, social, politik dan budaya, bahkan ekonomi Islam. Saya tentu tidak menguasai secara mendalam beberapa  cabang ilmu ini, akan tetapi basis ilmu social yang sedikit saya kuasai, maka bisa memberikan peluang bagi saya untuk membaca fenomena dan kemudian melalui “sedikit” analisis lalu saya tuliskan. 

  

Di dalam perkuliahan dengan kawan-kawan Program Doktor Islamic Studies di UIN KHAS Jember, 09/03/2024, maka saya bercerita tentang beberapa konsep yang saya gagas dan tertuang di dalam web yang saya dirikan, nursyamcentre.com,  yang saya kira membutuhkan untuk pengkajian lebih lanjut. Para mahasiswa saya ajak berselancar untuk membahas konsep-konsep yang telah saya pikirkan akan tetapi berhenti menjadi konsep, karena belum dikaji secara empiris. Di dalam penelitian kualitatif disebut sebagai theory building. 

  

Konsep yang saya angkat tentu bukan berasal dari ruang kosong, akan tetapi melalui pergulatan panjang mengamati dan memikirkan tentang bagaimana label fenomena tersebut kemudian terekspresikan. Tentu saja saya sudah membaca fenomena sosial tentang apa yang kemudian saya konsepsikan dimaksud, sehingga labeling atas fenomena tersebut menjadi relevan adanya. Hanya saja memang belum melalui proses penelitian yang outstanding prosesnya, sehingga masih berada di dalam “ruang” gagasan dan belum menjadi teori dalam “ruang” ilmiah.

  

Ada tiga konsep yang saya jelaskan kepada para mahasiswa program doktor Islamic Studies dimaksud, yaitu: pertama, konsep supra rational choice. Tulisan tentang tindakan supra rational choice tersebut saya angkat di nursyamcentre.com pada tanggal 18 Desember 2022 dengan judul “Jihad, Bom Bunuh Diri dan Tindakan Supra Rational Choice”. Sebuah tulisan yang mengungkap bahwa teori rational choice saja tidak cukup untuk memahami tentang Tindakan melakukan bom bunuh diri. Bagaimanapun kita tidak akan dapat memahami orang yang nekad untuk membunuh dirinya sendiri dengan bom dengan badan yang tercabik-cabik dan diyakini sebagai jihad di jalan Allah. Bagi pelaku bom bunuh diri, kala bom meledak dan kemudian tubuhnya hancur berantakan, maka rohnya langsung dijemput oleh 70 bidadari dari surga dan mengajak rohnya untuk berselancar di suwarga loka. Dan mereka meyakini benar tentang hal ini. Lalu tulisan yang berjudul “Kala Anak Belasan Tahun terpapar Radikalisme” diupload 29 Pebruai 2024 yang menggambarkan sebuah unggahan di Youtube tentan anaka usia belasan tahun mengungkapkan bahwa dirinya siap untuk mati bunuh diri melalui bom, yang dianggapnya sebagai mati syahid.

  

Kedua,  konsep “ukhuwah ashabiyah”. Konsep ini tentu saja diilhami oleh konsep ibn Khaldun di dalam bukunya “Muqaddimah” yang menggambarkan tentang kelompok nomaden yang berpindah-pindah tempat untuk keperluan pemenuhan ekonomi kelompoknya. Konsep ini kemudian saya gunakan untuk melabel suatu komunitas yang beragama secara eksklusif, yang hanya membenarkan atas tafsir agamanya sendiri dan yang dianggapnya sebuah kesalahan dan dilabel sebagai bidh’ah atau melakukan amalan ibdah yang baginya tidak ada dasarnya di dalam Islam sebab tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Ada dua tulisan saya tentang ukhuwah ashabiyah, yaitu yang berjudul “Ukhuwah Ashabiyah: Perseteruan NU dan Salafi, diunggah 07 Maret 2024 dan “Salafi versus NU: Kaum Salafi dalam Ukhuwah Ashabiyah” yang diunggah 23 oktober 2023. Dua tulisan ini memberikan pemahaman bahwa kaum Salafi dapat dilabel dengan konsep ukhuwah ashabiyah. Jika selama ini dikenal trilogy ukhuwah, yaitu ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah basyariyah, maka juga dikenak ukhuwah ashabiyah. Konsep ini menggambarkan tentang pandangan, sikap dan prilaku kaum Salafi yang bisa bersaudara dengan kelompoknya sendiri dan selalu bertindak menyalahkan atas pemahaman dan pengamalan agama kelompok lainnya.

  

Ketiga, konsep-konsep ini seharusnya tidak berhenti di dalam tulisan atau artikel yang belum teruji secara ilmiah. Konsep tersebut masih berhenti menjadi labeling atas fenomena yang belum dikonfirmasi di lapangan atau empirisasi. Jika sudah dikaji secara empirik dengan melibatkan sejumlah pelaku atau key informan dan juga informan dalam konteks penelitian kualitatif, maka akan menghasilkan teori yang kemudian bisa dilanjutkan dengan uji kuantitatif. Jika sudah melalui dua kajian tersebut, maka sahlah konsep ini menjadi teori. 

  

Hanya sayangnya saya belum mampu melakukannya atau bisa jadi ada peneliti yang tertarik untuk melakukan kajian dengan menggunakan konsep-konsep ini untuk menganalisi fenomena sosialnya sehingga dari konsep akan menjadi teori.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.