(Sumber : Superprof)

Integrasi Sains dan Ilmu Keislaman: Arsitektur Islam

Kelas Sosiologi

Integrasi ilmu sudah menjadi tradisi di dalam pengembangan Ilmu di Indonesia. Hal ini sebagaimana regulasi Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) tentang interdisipliner dan multidisipliner dalam pengembangan ilmu di Indonesia, khususnya untuk program magister dan doctor. Seluruh PTKIN sudah melakukannya dengan nama yang bervariasi tetapi subtansinya sama, mengintegrasikan berbagai cabang ilmu dalam berbagai rumpun ilmu dalam satu kesatuan integrative. 

  

Nama boleh berbeda tetapi hakikatnya satu jua. Masing-masing PTKIN memang berlomba-lomba memberikan labelling atas integrasi ilmu yang dikembangkannya. Misalnya ada pohon ilmu, jaring laba-laba, twin tower, dan sebagainya. Tetapi hakikatnya adalah pengembangan ilmu integrative, misalnya ilmu keislaman integrative, atau ilmu social integrative, ilmu humaniora integrative serta  sain dan teknologi integrative.

  

Kali ini saya akan membahas tentang integrasi antara arsitektur dan ilmu keislaman. Mari kita diskusikan tentang apa nama yang tepat untuk integrasi antara arsitektur dan Ilmu Keislaman. Ada dua peluang nama, yaitu arsitektur Islam atau Islam arsitektur. Tentu orang akan cenderung memilih arsitektur Islam dan bukan memilih Islam arsitektur. Sebagai padanan, misalnya Islam politik atau politik Islam. Islam politik adalah pemahaman dan perilaku yang akan menerapkan Islam sebagai bentuk formal politik, misalnya negara Islam seperti Iran dan beberapa negara lain di Timur Tengah. Sedangkan politik Islam menjadikan nilai Islam sebagai substansi negara, dan tidak harus dalam bentuk negara Islam. 

  

Arsitektur Islam juga dapat dinamai dengan penerapan nilai-nilai Islam di dalam arsitektur, misalnya menjadikan spirit Islamnya bukan bentuk bangunannya. Tetapi Islam arsitektur dapat dinyatakan sebagai bentuk bangunan yang memang benar-benar sesuai dengan Islam formal. Memang agak sulit menemukannya, sebab tidak ada bentuk yang pasti tentang bagaimana corak dan bentuk arsitektur yang benar-benar Islami. Setiap bangunan selalu memiliki keterkaitan dengan lokalitasnya. Ada kearifan local. Oleh karena itu yang tepat adalah Arsitektur Islam.

  

Arsitektur adalah ilmu atau seni  yang mengkaji perancangan  bangunan dan struktur-struktur yang terkait  melalui pertimbangan  estetika, fungsi, dan keamanannya. Di dalam hal ini, arsitektur juga terkait dengan  perencanaan dan desain  lingkungam binaan, seperti  kota, taman dan lansekap. Sedangkan ilmu keislaman adalah ilmu yang mengkaji Islam sebagai ajaran agama berbasis atas penafsiran para ulama atau ahli, meliputi kajian atas teks suci, non-teks suci dan aspek empiris dari ajaran Islam. Atau dengan kata lain kajian atas normativitas ajaran Islam dan historisitas ajaran Islam. Yang dijadikan sebagai subyek sasarannya adalah penafsiran ulama Islam sepanjang sejarahnya, dan bagaimana Islam tersebut mewujud di dalam kehidupan masyarakat sepanjang sejarahnya. Bisa juga dinyatakan sebagai Islam sebagai pattern for behaviour and pattern of behaviour dalam arsitektur. 

  

Arsitektur Islam merupakan ilmu yang mengkaji mengenai perancangan, bangunan dan struktur yang terkait melalui pertimbangan estetika, fungsi dan keamanan dilihat dari perspektif keislaman, yaitu nilai-nilai keimanan, syariah dan akhlak yang saling terkait secara sistemik. Dilihat dari perspektif keagamaan, misalnya bangunan candi, masjid, vihara, sinagog dan gereja tentu merupakan contoh arsitek  yang momot dengan nilai religious. Hal ini dapat dilihat dari dimensi fungsi bangunan sebagai tempat ibadah. Dipastikan ada simbol-simbol yang dapat dikaitkan dengan Tuhan, utusan Tuhan atau relasi antar manusia dengan Tuhan dan sesama manusia bahkan dengan alam semesta. 

  

Akan tetapi juga terdapat bangunan yang sesungguhnya bukan tempat peribadahan akan tetapi momot dengan dimensi ketuhanan, dan spiritualitas di dalamnya. Ada rumah atau bangunan yang di dalamnya terdapat dimensi spiritualitas. Ada lambang-lambang spiritualitas di dalamnya. Misalnya makam atau monumen, plaza atau taman, pusat komunitas, museum atau galeri, bangunan pendidikan dan lain-lain. Di dalam bangunan-bangunan tersebut terdapat simbolisme spiritual, desain bangunan atau arsitektur  yang memberikan kesan ada dimensi spiritualitasnya, seni yang mencerminkan dimensi ketuhanan atau lansekap bangunan atau taman yang memberikan gambaran tentang nilai spiritual. Bangunan-bangunan tersebut dapat menimbulkan inspirasi akan kehadiran makna Tuhan atau dimensi spiritualitas bagi orang yang berada di dalamnya.

  

Jika kita berziarah atau berkunjung ke makam di suatu wilayah, maka kita dapati sebuah makam yang dikeramatkan, dan di saat diteliti ternyata terdapat simbol-simbol genealogi yang menghubungkan antara satu makam dengan lainnya. Dalam studi saya tentang Makam Syekh Boqa-Baqi di Desa Sembungrejo, Merakurak, Tuban  (Nur Syam, dkk, Tuban Bumi Wali, The Spirit of Harmony, Jejak Waliyullah Penyebar Islam, 2019),  kita dapatkan lambang yang menghubungkan genealoginya dengan para waliyullah di Jawa Timur, misalnya Makam Syekh Jumadil Kubro di Trawas Mojokerto, Syekh Ibrahim Asmaraqandi di Tuban, Sunan Ampel di Surabaya, Makam Sunan Drajat di Lamongan dan Makam Sunan Bonang di Tuban. Ikatan genealogis tersebut berupa lambang segitiga terbalik, yang memiliki makna dunia makro kosmos dam mikro kosmos yang semuanya terdapat di dalam makam-makam waliyullah di Jawa Timur. 


Baca Juga : Persaudaraan Abadi

  

Jika kita berkunjung ke China, di Guangzou, maka akan kita dapatkan banyak bangunan yang dapat dikaitkan dengan dunia spiritual masa lalu. Misalnya Makam Said bin Abi Waqash yang menggambarkan dunia spiritual dimaksud. Bagi pemerintah China, bangunan makam tersebut termasuk warisan leluhur yang harus dipelihara, tetapi bagi peziarah maka ada dimensi spiritualnya. Dan yang penting bahwa di dalam kompleks bangunan tersebut terdapat makam dengan asesori spiritualnya dan juga sumur yang juga disakralkan. Satu Pelajaran yang dapat diambil bahwa nyaris semua makam suci terdapat tempat ibadah, makam dan sumur atau Tri Area Sakral.  (Nur Syam, Perjalanan Etnografis Spiritual, 2019). 

  

Secara umum dapat kita nyatakan bahwa ada integrasi antara Sains dan Islam atau ilmu keislaman. Studi seperti ini akan menarik sebab akan mendapatkan ilmu-ilmu baru dalam cabang arsitektur. Jika dalam perspektif monodisipliner atau arsitektur dilihat dari ilmu arsitektur, maka hasilnya jelas, yaitu memperkuat posisi ilmu arsitektur, akan tetapi dengan menggabungkan antara arsitektur dengan ilmu keislaman maka akan didapatkan cabang baru dalam sains, yaitu ilmu arsitektur Islam.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.