Noam Chomsky: Sosiolinguistik Dalam Kajian Agama
Kelas SosiologiOleh: Prof. Dr. Nur Syam, M.Si
Ada banyak tokoh dalam kajian sosiolinguistik, misalnya Jacques Derrida, Ferdinand de Saussure, Eugene A. Nida, dan Noam Chomsky. Mereka ini adalah sosok yang mengkaji tentang bahasa dan relasinya dengan manusia, masyarakat dan budaya. Di antara sekian banyak dari ahli linguistic, maka yang termasuk ahli sosiolinguistik adalah Ferdinand de Saussure, Jacques Derrida dan Noam Chomsky.
Mereka ini memiliki pandangan dasar bahwa ada relasi antara bahasa, masyarakat dan pemikiran. Baginya, bahasa merupakan produk masyarakat dalam relasinya dengan kehidupan sosialnya. Makanya, setiap masyarakat memiliki bahasanya sendiri dan merupakan consensus yang dilakukan satu dengan lainnya dalam kehidupannya. Saussure terkenal berkat konsep-konsepnya, misalnya Sintagmatik dan paradigmatic, langage, langue dan parole serta konsep diakronik dan sinkronik. Tulisan ini akan mengkaji tentang Noam Chomsky, yang menjadi ikon dalam dunia akademik karena kajiannya mengenai sosiolinguistik.
Aaron Noam Chomsky begitu nama lengkapnya adalah keturunan Yahudi yang kemudian bermukim di Amerika Serikat. Ia lahir di East Oak Lane, Philadelphia Pennsylvania, 7 Desember 1928. Chomsky lahir sebagai keturunan Yahudi Ortodoks keturunan Rusia. Ayahnya adalah ahli Bahasa Yahudi. Chomsky terkenal berkat teorinya mengenai bahasa generative, dan berkat kajiannya di bidang bahasa, kemudian mengantarkannya ke dalam bidang politik.
Chomsky adalah professor dari Institut Technology Massacusets. Ia menyelesaikan pendidikan di Universitas Pennsylvania. Selain menjadi tenaga pengajar di Institut Technology Massacusets, dia juga mengajar di Universitas Harvard, dan Universitas Arizona.
Baca Juga : Sisi Gelap Media Sosial : Memahami Cyberbullying di Tengah Generasi
Di antara tokoh atau ilmuwan yang memengaruhi pemikiran teoretiknya adalah Ferdinand de Saussure, Rene Descartes, John Dewey, John Stuart Mill, George Orwell, dan Ludwig Wittgenstein. Selama karir akademiknya, dia telah menghasilkan banyak karya di bidang bahasa dan politik. Tidak kurang dari 30 buku yang ditulisnya membahas mengenai Bahasa dan politik. Dia adalah seorang pemuja pemikiran sosialisme libertarian. Yaitu gagasan untuk mempertemukan dua kutub ekstrim antara sosialisme yang berada di dalam kawasan teori kritis kaum Marxian dan liberalisme yang berada di dalam teori kebebasan, misalnya Adam Smith. Di sinilah akhirnya dia menghasilkan karya yang dianggap sebagai kelanjutan teori kritis yaitu teori anarchy.
Sebagai maha guru di bidang linguistic, dipastikan bahwa Ferdinand de Sauusure memiliki pengaruh besar bagi Chomsky. Terutama dalam pandangannya mengenai struktur kebahasaan. Namun demikian, Chomsky justru menjadikan pemikiran gurunya tersebut sebagai lompatan untuk mengembangkan reputasinya di bidang linguistic. Maka Chomsky mengritik de Saussure tentang struktur kebahasaan, misalnya mengenai sintagmatik. Di dalam konteks ini, maka Chomsky mengembangkan sendiri teori sintagmatiknya dengan menyatakan bahwa bukan struktur sosial dan kebahasaan mempengaruhi terhadap pengembangan bahasa di dalam diri individu pada sebuah masyarakat, akan tetapi factor internal yang menentukan pengembangan kebahasaan. Seseorang memiliki bakat dari dalam dirinya untuk berkemampuan berbahasa. Bahasa terkait dengan dimensi psikhologis dan nalar, pikiran atau inteligensi manusia. Jadi seseorang berbahasa bukan karena struktur hirarkhis pada masyarakat yang menentukan, akan tetapi bakat dan pemikirannya yang menentukannya.
Asumsi teoretik Chomsky bahwa bahasa berhubungan dengan aspek pikhologis dan pikiran. Itulah sebabnya ada relasi antara factor psikhologis dengan alam pikiran dan bahasa. Teori yang dikembangkan oleh Chomsky adalah teori generative transformatif. Yang dijadikan sebagai sasaran di dalam teori adalah hubungan antara aspek bahasa dengan aspek psikhologis dan kognisi manusia. Relasi antara bahasa dan psikhologi tersebut menghasilkan konsep bahasa kognitif. Melalui bahasa maka manusia dapat memahami ide, gagasan, atau pemikiran manusia. Oleh karena itu terdapat struktur luar yaitu lambang-lambang atau symbol-simbol yang menjadi performance di dalam berbahasa, sedangkan struktur dalam adalah kemampuan seseorang untuk berbahasa yang disadari dari akal budinya. Sesungguhnya manusia memiliki kemampuan bahasa yang bersifat azali. Semua manusia memiliki kemampuan berbahasa sesuai dengan dunia sosial psikhologisnya. Namun demikian berbeda dengan kaum strukturalis yang mengkaji bahasa dari dimensi produk kebahasaan (tulisan/lisan), maka Chomsky justru mempelajari bahasa dari dimensi kemampuan manusia untuk memahami atau memaknai bahasa.
Teori generative transformative dapat dipakai untuk mengkaji teks-teks agama dan juga penuturan agama. Teori ini dapat dipakai untuk mengkaji teks Alqur’an dan Hadits, bahkan juga pendapat para ulama atau tafsir atas teks baik dari perspektif tafsir dalam bidang hukum Islam atau fiqh, teologi, sufisme, dan sebagainya. Sebagai studi berbasis makna atau arti dari sebuah tuturan atau teks, maka teori generative transformative akan dapat digunakan, misalnya dalam kajian atas kata yang sama dalam teks Alqur’an tetapi memiliki pengertian dan pemahaman yang berbeda. Seperti kata taghut, meskipun memiliki akar kata yang sama akan tetapi bisa berbeda terkait dengan konteks kebahasaannya. Karenanya akan menghasilkan pemaknaan yang berbeda.
Contoh lain tentang jihad, khilafah, ikhtiar, qadla’ dan qadar, hijab atau niqab tentu bisa memiliki pemaknaan berbeda. Hal ini ditentukan oleh kemampuan nalar manusia untuk memahami dan menjelaskannya dan juga konteks psikhologis bagi yang memaknainya. Bagi kelompok Islam ala ahli sunnah wal jamaah dan kelompok ahli sunnah tentu berbeda dalam memahami teks-teks dimaksud. Semua tentu terkait dengan pandangan Chomsky bahwa ada keterkaitan antara pikiran, psikhologi dan bahasa.
Wallahu a’lam bi al shawab.

