(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Buya Ahmad Syafii Maarif: Guru Bangsa Moderasi Beragama (2)

Khazanah

Buya Syafii Maarif adalah sosok yang bisa menjadi teladan bagi bangsa Indonesia terkait dengan kesederhanaan, keislaman, kebangsaan, kemanusiaan dan kecintaannya pada bangsa Indonesia. Inilah yang disampaikan oleh sejumlah kolega Buya Syafii Maarif dalam acara testimoni sahabat dan kolega Prof. Dr. Buya Syafii Maarif empat hari setelah wafatnya, Kamis, 2/6/2022.

  

Banyak tokoh yang hadir. Melalui perangkat Zoom, maka datang para sahabat dan kolega serta murid-murid Buya Syafii dalam acara ini. Maklumlah Buya Syafii adalah tokoh besar bangsa Indonesia bahkan tidak hanya tokoh tetapi guru bangsa. Buya Syafii pantas disebut sebagai guru bangsa, sebab peran dan pengaruhnya yang sangat besar tidak hanya di kalangan Muhammadiyah, sebuah organisasi di mana Buya Syafii mengabdikan dirinya, akan tetapi juga umat Islam Indonesia, bangsa Indonesia dan masyarakat dunia. 

  

Mereka yang memberikan testimoni tentang pikiran dan aksi social yang dilakukan oleh Buya Syafii adalah tokoh-tokoh nasional yang sudah malang melintang di dalam belantara pemikiran Keislaman, Keindonesiaan dan Kemoderenan. Ada  tokoh agama, tokoh organisasi, tokoh bisnis, dan para aktivis di berbagai lembaga pemerintahan atau swasta dan lainnya. Tokoh non governmental organisasion, misalnya Ibu Clara, Tokoh Islam Kiai Hussein Muhammad, Tokoh bisnis Sudhamek, tokoh muda NU Gus Ulil Abshar Abdala, Pendeta Andreas Yewangoe, tokoh muda Muhammadiyah Prof. Ahmad Najib Burhani, Prof. Alimatul Qibtiyah dan Habib Hussein Ja’far, youtuber muda yang namanya sudah tidak asing di dalam jagad media sosial dan juga murid-muridnya. Ungkapan testimoni ini dipandu oleh Neny Nur Hayati. 

   

Saya tentu tidak  merekam seluruh pembicaraan tentang Buya Syafii, tetapi hanya beberapa saja yang saya kira sangat fundamental catatannya tersebut. Di antara yang ingin saya catat adalah testimoni Ibu Clara, kakak Rizal Sukma, yang menyatakan bahwa kepergian Buya Syafii tentu tidak untuk ditangisi akan tetapi justru diambil hikmahnya. Semua menyadari bahwa Buya Syafii tak tergantikan, baik dalam pemikiran maupun aksi sosialnya. Sumbangan Buya yang terbesar adalah gagasan atau idenya tentang keislaman, keindonesiaan, kemanusiaan dan keadilan rakyat Indonesia. Buya Syafii itu orang yang memegang kitab Suci Al-Qur'an. Semua ide dan gagasannya itu bisa dilacak sumbernya dari ajaran pokok dalam agama Islam. Kepergian Buya Syafii bukan untuk ditangisi tetapi juga harus dilanjutkan pemikirannya, terutama oleh anak-anak ideologisnya. 

  

Pak Sudhamek, pengusaha sukses, dan sekarang mengabdikan dirinya untuk misi kebangsaan di Badan Pembinaan  Ideologi Pancasila (BPIP) menuturkan pengalamannya bahwa Buya Syafii merupakan tokoh besar bangsa Indonesia, sehingga ada kepantasan jika wafatnya banyak ditangisi oleh bangsa Indonesia. Kesederhaannya itu tak tertandingi. Pak Sudhamek menyatakan bahwa Buya Syafii pernah  mengikuti acara di Istana Presiden di Bogor dan Buya Syafii mau naik bus.  Melalui  berbagai upaya keras untuk mengajaknya, maka akhirnya Buya Syafii setuju untuk naik mobil. Budaya antri, budaya kesederhanaan dan pembelaannya kepada wong cilik itu luar biasa. Buya menyatakan bahwa dari lima sila di dalam Pancasila itu, yang masih belum terwujud adalah keadilan social. Orang  sekaliber Buya Syafii Maarif itu tak tergantikan, bahkan tidak ada orang   yang akan menggantikannya. Cak Nur, Gus Dur dan Buya Syafii itu tidak akan ada orang yang  bisa menggantikan peran dan pengaruhnya di masyarakat. 

  

Sementara itu, Prof. Dr. Reynald Kasali, ahli manajemen yang handal, menyatakan bahwa Buya Syafii itu orang yang mampu menjelaskan hal-hal yang rumit menjadi mudah. Berdasarkan pengalamannya kala menjadi pansel untuk pimpinan KPK, maka Buya Syafii merupakan sosok yang tegas, berpikir konseptual dan praksis berdasarkan logika yang mudah diterima oleh orang lain. Kala dimintai pendapatnya tentang calon pimpinan KPK seperti apa yang diinginkannya, maka dinyatakannya bahwa pansel ini tidak mencari malaikat, tetapi mencari orang yang sudah selesai dengan kehidupannya, yang integritasnya baik, dan juga mampu menjaga trust. Jika mencari orang yang tiada kesalahannya, maka tidak akan didapati orang yang dicari, maka orang yang dicari adalah orang yang kesalahannya relative lebih sedikit di tengah kehidupan sosial yang kompleks. 

  

Gus Ulil Abshar juga menegaskan bahwa Buya Syafii itu sosok yang bisa bergaul dengan berbagai segmen masyarakat. Buya itu tidak hanya bergaul dengan orang Muhammadiyah tetapi juga dengan orang NU, bahkan juga bersahabat dengan orang-orang non-muslim dan etnis lain. Buya Syafii merupakan guru bangsa yang mengedepankan toleransi umat beragama, yang mengedepankan pemahaman, sikap dan perilaku yang moderat di dalam berbagai level kehidupan. Pantaslah jika Buya Syafii disebut sebagai guru bangsa.

  

Di dalam kesempatan memberikan testimoni, saya menyatakan bahwa saya bukanlah anak ideologis Buya Syafii tetapi adalah pengagum dan pengikut pemikiran Buya Syafii tentang moderasi beragama. Saya tentu mengenal Buya kala  masih menjadi mahasiswa, saya mengenal dan memahami pemikirannya dan saya merasakan bahwa ada relasi antara pemikiran Buya dengan pemikiran saya tentang moderasi beragama. Bagi saya, Buya itu sosok yang sangat merdeka dalam berpikir. Meskipun Buya itu dekat dengan pemerintahan, akan tetapi tetap kritis dalam bentuk memberikan kritik. Tetapi bedanya adalah Buya memberikan kritik dengan Bahasa yang santun. 

  

Buya Syafii telah mengamalkan ajaran Islam tentang qaulan layyinan, qaulan balighan, qaulan kariman. Jika Buya menulis maka bahasanya tertata dengan baik, logika yang runtut dan menggunakan diksi-diksi yang menyejukkan. Benarlah apa yang dinyatakan oleh Prof. Reynald Kasali bahwa pilihan bahasa yang banyak digunakan adalah perdamaian, kerukunan, toleransi dan sebagainya. Saya terkadang berpikir, bahwa susah juga mencari sosok yang dalam usia 86 tahun tetapi masih mampu menulis dengan sangat baik. Buya termasuk yang seperti ini. 

  

Mengamati dan mendalami peran Buya Syafii tentu sangat pantas jika disematkan kepadanya sebagai guru bangsa moderasi beragama yang ujung-ujungnya adalah mengembangkan sikap toleransi, berbasis pada kerukunan, keharmonisan dan keselamatan bangsa.

  

Selamat jalan Buya Syafii, kita semua menyaksikan tentang legacy kebaikan dan kemaslahatan yang telah panjenengan torehkan untuk kita semua, masyarakat Indonesia. Lahu alfatihah….

  

Wallahu a’lam bi al shawab.