(Sumber : Nu.or.id)

Cyber Dakwah: TikTok Sebagai Media Baru

Horizon

Oleh: Intan Musdalifah

Mahasiswa Pascasarjana UINSA 

  

Secara sosiologis, penerapan teknologi komunikasi dan informasi dalam kehidupan telah mengubah ragam interaksi masyarakat. Media telah menggiring individu untuk memasuki ruang yang bisa berinteraksi atau berkomunikasi. Internet misalnya, internet telah memberikan ruang maya untuk bertegur sapa secara interaktif yang kemudian dikenal dengan istilah cyberspace. Cyberspace merupakan ruang yang abstrak, yang interaksinya bersifat simbolik.[1] 

  

Pada aktivitas dakwah, perkembangan teknologi atau media bisa menjadi salah satu jembatan bagi para pendakwah. Sehingga program pengembangan dakwah dituntun mampu menawarkan alternative yang dapat menyajikan pesan-pesan Islam dalam format sajian dakwah yang lebih relevan. Dapat dilihat pada pertumbuhan dan perkembangan media saat ini, baik dalam kuantitas maupun kualitasnya, Setiap media memiliki gagasan dan strategi masing-masing khususnya dalam usaha menyiasati minat dan kebutuhan public. Inilah kenyataan yang apabila tidak dimanfaatkan justru akan merugikan. Sehingga, untuk tetap memelihara esensinya, dakwah mampu memberikan solusi yang lebih bijak dan realistis. Seorang Pendakwah dituntut untuk memahami kondisi social masyarakat dan perubahan yang terjadi di dalamnya. Hal ini menjadi penting untuk menentukan media dakwah yang tepat guna mampu mensiasati perubahan dinamika masyarakat. 

  

Salah satunya berdakwah melaui media sosial TikTok. TikTok merupakan salah satu platform yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat, khususnya generasi milenial. Menurut Nisa Kurnia Illahiati, dosen Unair Surabaya “Akhir tahun 2020, muncul dakwah TikTok di mana TikTok tidak lagi digunakan untuk menampilkan kemampuan dance sesuai yang disarankan TikTok. Kemudian, terjadi pergeseran dari yag awalnya having fun, entertainment purposes menjadi semua fungsi, dari edukasi, informasi, dan katorsisi termasuk ekspresi diri”.[2]

  

Di era globalisasi, kemunculan TikTok sebagai media baru memberikan peluang yang terbuka dalam proses transformasi dakwah Islam. Penggunaan media TikTok sebagai media baru disertai dengan kreatifitas dan inovasi para pendakwah dalam memanfaatkan ruang digital untuk keberlangsungan dakwah Islam. Terdapat akun-akun Da’i muda seperti Ustadz Syam yang sebagai CEO Al-Tiqtoqiah, Ustadz Agam Fachrul, Husain Basayban dan beberapa ustadz muda lainnya yang secara institusional dianggap sebagai bukti pembaruan dalam pelaksanaan dakwah. TikTok yang sebagai ruang komunikasi dan interaksi baru memberikan kemudahan akses penyampaian pesan-pesan Islam. Hal ini dapat ditinjau dari pemanfaatan ruang virtual yang menebarkan pesan Islam secara kreatif, inovatif, dan dalam ruang yang luas atau tidak terbatas. 

  

Dari sudut pandang di atas, tulisan ini mencoba menjawab fenomena pemanfaatan media TikTok sebagai ruang aktivitas baru komunikasi Islam. Selain itu, tulisan berupaya menggali berbagai kelebihan dan kekurangan aktifitas komunikasi Islam di ruang maya (TikTok). Dapat diambil manfaat bahwa TikTok bukan hanya memberikan situs-situs kesenangan saja namun juga memberikan akan pesan dakwah secara cepat penyampaiannya dan sederhana namun lebih muda dipahami.

  

Tren Tiktok sebagai media komunikasi baru

  


Baca Juga : Perempuan Merdeka, Bangsa Maju

Hadirnya situs-situs yang bernafas religious tidak dapat dipungkiri sebagai fenomena baru dalam dunia dakwah.[3] Kemunculan TikTok sebagai media baru memberikan peluang yang terbuka dalam proses transformasi dakwah Islam[4]. Penggunaan media TikTok sebagai media baru disertai dengan kreatifitas dan inovasi para pendakwah dalam memanfaatkan ruang digital untuk keberlangsungan dakwah Islam. Secara praktik cyberdakwah terbukti telah banyak dilakukan oleh umat Islam baik secara personal maupun komunal. Dakwah melalui jaringan Internet dinilai sangat efektif dan potensi dengan beberapa alasan, diantaranya mampu menembus batas ruang dan waktu yang relatifcepat dengan daya jangkau yang luas.[5] 

  

TikTok yang sebagai ruang komunikasi dan interaksi baru memberikan kemudahan akses penyampaian pesan-pesan Islam. Hal ini dapat ditinjau dari pemanfaatan ruang virtual yang menebarkan pesan Islam secara kreatif, inovatif, dan dalam ruang yang luas atau tidak terbatas. Transformasi penyebaran pesan agama mengalami pembaruan dari waktu ke waktu. Dakwah melalui TikTok memiliki tingkat signifikasi yang besar. Hal ini dapat dilihat dari beberapa aspek:

  

a) Setiap orang yang merasa membutuhkan asupan informasi keagamaan dapat melakukan pencarian melalui TikTok. TikTok dapat dijadikan sebagai ruang informasi yang dapat diakses oleh siapapun dan dalam waktu relatif  cepat

  

b) Kecanggihan dari berbagai fasilitas TikTok dengan beragam variasi fitur. Sehingga para muballigh dapat menyebarkan pesan-pesan ajaran Islam, merespon isu-isu kontemporer yang berhubungan dengan agama dan menempatkan TikTok sebagai media baru dalam proses transmisi pesan Islam.

  

c) TikTok juga menjadi alternative bagi orang yang lebih memilih untuk menerima ajaran Islam melalui metode kontemporer atau kehidupan modern manusia[5]

  

Kelebihan dan Kelamahan pelaksanaan cyberdakwah di TikTok

  

Secara umum, fenomena dakwah di TikTok menjadi bukti kuat penggunaan teknologi baru dalam komunikasi Islam. TikTok menjadi ruang maya yang menciptakan pola penyebaran pesan dakwah dengan cara-cara yang baru. Adapun kelebihan pelaksanaan cyberdakwah di TikTok antara lain:

  

a) TikTok merupakan media baru yang terbuka dan demokratis


Baca Juga : Kompolan Pengajian dalam Masyarakat Bangkalan: Antara Tradisi, Sakralitas, dan Perekat Sosial

b) Bersifat interkoneks, TikTok digunakan sebagai media komunikasi baru antara umat tanpa sekat olek golongan, bangsa, ras, geografis, dan lain-lain. 

c) Interaktif, karena terdapat komunikasi dua arah dalam dunia maya. 

d) Dakwah di TikTok memberikan visualisasi yang menarik sesuai dengan desain yang lagi trend (fyp), baik itu desain gambar, audio ataupun video. 

e) Aplikasi ini memiliki daya tarik berupa video yang berdurasi 15 detik hingga 3 menit yang dimana hal ini tidak membuat bosan untuk berlama-lama menonton. 

  

Berikut kelemahan cyberdakwah dalam apilikasi TikTok adalah sebagai berikut:

  

a) Identitas terlalu terbuka luas

b) TikTok memiliki karakter yang terbuka, terkadang lebih mengedepankan imajinasi popular. Termasuk dalam wacana Islam, para pengguna terkadang lebih mengedepankan tampilan dibanding pesan dakwah.

c) TikTok bersifat random

  

Dengan begitu, cyberdakwah sebagai cara baru dalam proses transmisi dan transformasi nilai-nilai ajaran Islam memiliki berbegai kelebihnan dan kekurangan. Hal ini dianggap wajar, karena TikTok merupakan hasil kreasi teknologi manusia yang terbatas dan tidak memungkiri memiliki berbagai potensi untuk terus diperbaiki dan disempurnakan.[5]

  

Daftar Pustaka

  

[1] Saeful Asep, Komunikasi Dakwah (Teori, Pendekatan, Dan Apilikasi). Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2012.

  

[2] Pinanta Kasih Ayunda, “‘Konten Tiktok Welcome To Indonesia, Dosen Unair: Kritik Yang Kreatif,’” Jun. 09, 2021. [Online]. Available: https://www.kompas.com/edu/read/2021/07/09/125914671/konten-tiktok-welcome-to-indonesia-dosen-unair-kritik-yang-kreatif

  

[3] Saefullah Aris, “cyberberdakwah sebagai media alternative,” Islamica, vol. 7, p. 1, 2012.

  

[4] Fanaqi chotijah, “tiktok sebagai media kreativitas dimasa pandemic covid-19,” J. Dakwah, vol. 22, p. 1, 2021.

  

[5] Rustandi Ridwan, “Cyberdakwah : Internet Sebgai Media Baru Dalam System Komunikasi Dakwah Islam,” Nalar J. Perad. Dan Pemikir. Islam, vol. 3, p. 2, 2019.