(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Gerakan UINSA Sehat: Vaksin Kenapa Tidak?

Khazanah

Salah satu ucapan yang terungkap setelah selesai menjalani Vaksin  Covid-19 adalah Alhamdulillah. Ucapan ini layak diungkapkan setelah saya  menjalani kewajiban sebagai warga negara untuk melakukan vaksin Covid-19, serta mengikuti kebijakan pemerintah, maka rakyat Indonesia harus menegakkannya. Saya agak lama untuk dapat mengikuti vaksin ini. Saya pernah daftar di International Hospital Surabaya beberapa waktu yang lalu, tetapi ketepatan vaksinnya  belum datang. Ketika UIN Sunan Ampel menyelenggarakan vaksinasi Covid-19 dan bekerja sama dengan Rumah Sakit Islam (RSI) Jemursari Surabaya, ketepatan saya di Jakarta. Saya bersyukur bahwa akhirnya UINSA menyelenggarakan vaksinasi sendiri di kampus yang bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Tidak tanggung-tanggung sebanyak 4.000 sampai 5000 peserta, yang rencananya akan diselesaikan dalam dua hari, Rabu hingga Kamis, 4-5 Agustus 2021.

  

Saya sungguh hati-hati di dalam menjalani vaksin ini, sehingga saya dan istri harus periksa laboratorium terlebih dahulu sebelum menjalani pemeriksaan. Saya mengikuti saran anak saya, Dhuhrotul Rizqiyah, yang ketepatan menjadi tenaga kesehatan di UINSA. Dia termasuk yang bertanggung jawab, sebagai koordinator lapangan untuk kesuksesan pelaksanaan vaksinasi massal di UINSA.  Alhamdulillah dari pemeriksaan laboratorium Prodia, ternyata kami berdua dinyatakan sehat dan dapat mengikuti vaksin Covid-19. 

Saya diantarkan oleh Shiefti Dyah Elyusi untuk hadir di UINSA. Ternyata sudah terpasang dua tenda yang bisa menampung ratusan orang di depan  Gedung Twin Tower UINSA, memanjang dari utara ke selatan, sementara itu pemeriksaan dan suntikan vaksin dilakukan di Gedung Olah Raga (GOR) UINSA, tempat  ini sudah  disulap menjadi ruang pemeriksaan yang memadai dan sesuai dengan protokol kesehatan. Pantas jika dr. Dhuhratul Rizqiyah baru pulang jam 20.00 WIB  pada  saat persiapan dan pemasangan seluruh perangkat untuk vaksinasi tersebut.

  

Pada saat gencar-gencarnya sosialisasi vaksin Covid-19, saya juga membuat twibbon untuk mendukung vaksinasi. Saya bersama Yusrol Fahmi  memberikan dukungan lewat twibbon tersebut. Pada waktu itu banyak orang yang meragukan apakah vaksin tersebut efektif atau tidak untuk  menghalau penyebaran Covid-19, banyak dari mereka yang meragukannya.  Kekhawatiran tersebut  juga terbukti bahwa yang sudah vaksin pun bisa tertular Covid-19. Lengkaplah sudah keraguan tentang perlunya vaksin. Sampai akhirnya memang dinyatakan bahwa vaksin memang tidak bisa menghindarkan seseorang dari tertular Covid-19. Setiap orang  harus tetap menjaga protokol kesehatan, terutama menggunakan masker dan menghindari kerumunan. Hal yang jelas adalah dengan vaksin herd immunity akan meningkat, sehingga jika terpaparpun tidak terlalu parah. Saya diberi informasi oleh Dirjen Pendis, Prof. Dr. Muhammad Ali Ramdlani, pada waktu acara fit and proper test untuk calon rektor UIN Malang dan UIN Mataram, bahwa melalui vaksin, maka jika terpapar tidak membahayakan.  Pak Dirjen termasuk penyintas Covid-19, sebagaimana juga Rektor UINSA, Prof. Masdar Hilmy.  Bahkan  Pak Rektor UINSA  sudah yang kedua kalinya. Prof. Masdar juga menyampaikan hal yang sama, bahwa dengan vaksin maka akan mengeliminasi dampak tingkat keparahan serangan Covid-19.

  

Kali ini, UINSA memang memiliki gawe besar untuk melakukan vaksinasi kepada masyarakat, tidak hanya dosen, tenaga kependidikan dan keluarganya, akan tetapi juga masyarakat umum. Itulah sebabnya di UINSA diselenggarakan vaksinasi untuk 4.000 orang. Pada hari pertama terdapat sebanyak 1.200 orang yang berhasil divaksin. Sehingga untuk hari kedua dipastikan akan lebih banyak untuk menggenapi jumlah 4.000 orang. Jadi pada hari kedua harus memvaksin sebanyak 2.800 orang. Pada hari pertama, memang kelihatan tidak terjadi kerumunan tetapi pada hari kedua, jumlah orang yang akan divaksin kelihatan lebih banyak. Pagi pada jam 7.00 WIB sudah terdapat ratusan orang yang antri untuk divaksin. Saya tidak bisa membayangkan tingkat kesibukan vaksinasi pada hari kedua tersebut. 

  

Di dalam gerakan vaksinasi Covid-19 harus terdapat kerja sama antara pemerintah dan berbagai institusi sosial. Kerja sama itu  tentu sangat penting, sebab insitusi sosial, keagamaan dan pendidikan memiliki sejumlah kapasitas untuk melakukan vaksinasi. Makanya, sejumlah organisasi sosial keagamaan, seperti NU, Muhammadiyah, dan institusi pendidikan memiliki sejumlah peran untuk mempercepat proses vaksinasi yang memang begitu diperlukan oleh masyarakat. 

  

Memang harus diakui penularan Covid-19  sangat cepat dan tidak memandang apakah seseorang sudah divaksin atau belum. Namun demikian, sebagaimana pengakuan orang yang sudah divaksin bahwa melalui pemberian vaksin, maka andaikan terpapar, sekurang-kurangnya tidak separah yang belum  divaksin. Itulah sebabnya pemerintah mengencangkan kebijakan vaksinasi dengan tujuan untuk memperkuat  herd immunity, sehingga ketahanan fisik masyarakat akan dapat menjadi lebih baik. 

  

Sebagai institusi pendidikan, UINSA terlibat di dalam gerakan vaksinasi untuk menanggulangi wabah Covid-19. Sebagaimana pengakuan para dosen UINSA, maka ada beberapa kelebihan di dalam gerakan vaksin Covid-19 yang dilakukan oleh UINSA. Saya ingin menuliskan dua di antara sekian banyak komentar tentang penyelenggaraan vaksinasi oleh UINSA. Di antaranya adalah: “Pelaksanaan vaksin UINSA yang terbaik selama saya tahu dan alami, mulai prosedur mendapatkan nomor antrian, tracking kesehatan sampai suntik,  pelayanannya sangat baik. Banyak yang mengatakan puas, tempat ber-AC, dapat minuman dan makanan. Jaya terus UINSA-ku”. Ada lagi pesan dalam WAG UINSA Raya: “Saya sempat pesimis dengan penyelenggaraan “Gerakan UINSA Sehat Dengan  Vaksinasi Massal”, karena banyak penyelenggara … ternyata saya dengerin di SSFM banyak masalah, begitu UINSA ngadain hari ini dan besuk, LUAR BIASA, SOP-nya sangat tertib, mulai dari proses daftar online, registrasi manual, terop panjang dengan ratusan kursi tempat nunggu, tempat nunggu indoor, BOOTH 1 sampai 6 dengan baris administrasi, cek suhu dan riwayat detil, dapat minum dan snack. Sungguh saya tidak nyangka seterbaik itu tertibnya, pelayanannya, hingga clossingnya. Barusan pukul 17.55 sempat diberitakan di SSFM. Mantap. Trims Pak Rektor beserta full team. Jayalah UNISA”. 

  

Gerakan vaksinasi secara massif  memang diperlukan. Saya kira tidak ada pilihan lain. Inilah usaha manusiawi yang dilakukan di seluruh dunia. Tidak perduli apa nama vaksinnya, dari negeri mana produsennya, dan membayar atau hibah dari negara lain, yang jelas semua upaya dilakukan untuk menjemput masyarakat Indonesia yang sehat. Jika masyarakatnya sehat, maka pemulihan ekonomi juga akan secepatnya bisa dilakukan. Gerakan itu tidak hanya dilakukan oleh pemerintah tetapi juga dilakukan oleh institusi sosial, agama dan pendidikan. Saya sangat mengapresiasi “Gerakan UINSA Sehat” yang dalam dua hari ini dilakukan. Jadi mengikuti vaksinasi adalah keharusan secara sosial kemasyarakatan di mana dan melalui saluran apa saja. Salam Indonesia Sehat.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.