(Sumber : Nugres)

Habib Sholeh Tanggul: Sosok Zuhud, Dermawan dan Antusias Berdakwah

Khazanah

Oleh : Akhmad Zaeni

Dosen Institut Agama Islam Al Falah Assunniyyah Kencong Jember.

  

Habib Sholeh bin Muhsin Al Hamid, adalah sosok ulama besar yang dilahirkan di Desa Qorbah Ba Karman, Hadramaut, Yaman pada 17 Jumadil Ula tahun 1313 H bertepatan dengan tahun 1895 M. Di dalam manaqib-nya disebutkan, bahwa silsilah dan nasab Habib Sholeh bin Muhsin Al Hamid sampai pada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melalui cucunya, Sayyid Husein bin Ali bin Abi Thalib. Terlahir dari keluarga ulama sufi yang juga seorang pedagang di Hadramaut. Ayahnya bernama Al Habib Muhsin bin Hamid, sedang ibunya bernama Aisyah. Menurut penuturan dari keturunannya saat di Hadramaut, Habib Muhsin kerap didatangi masyarakat Ba Karman untuk meminta barokah doa. Sedangkan ibunya, Aisyah, berasal dari kalangan Al-Amudi dan nasabnya masih tersambung dengan Abu Bakar As-shidiq.

  

Keluarga Habib Sholeh bin Muhsin Al Hamid adalah keluarga yang sederhana, namun begitu memperhatikan pendidikan, khususnya dalam pendidikan agama. Habib Sholeh pun sedari kecil dibimbing oleh ayah dan keluarganya dari hal-hal yang mendasar terkait pelaksanaan keagamaan dalam beribadah berdasarkan ajaran Rasulullah. Di samping itu, dia juga dididik berbagai macam keilmuan, di antaranya dalam bidang ilmu fikih dan tasawuf. Sedang dalam hal pendidikan al-Quran, ia belajar di bawah asuhan Syaikh Said Ba Mudhij di Wadi’ Amd, Hadramaut. Pendidikan dalam keluarga yang sangat kuat menerapkan prinsip-prinsip keagamaan salaf, inilah yang kelak membentuk Habib Sholeh sebagai pribadi yang cinta ilmu. Sejak saat muda, dirinya rajin mengunjungi dan menimba ilmu dari para ulama terkemuka untuk menggali banyak ilmu dan bertukar informasi. Ulama’ yang sering dikunjunginya yaitu Habib Abdullah bin Muhammad Assegaf (Gresik), Habib Husain Hadi Al Hamid (Mbrani, Probolinggo), Habib Hamid bin Imam Al Habib Muhammad bin Salim as-Sry (Malang), dan Habib Muhammad bin Ali bin Abdurrahman al-Habsyi (putra Habib Ali Kwitang, Jakarta). Didikan dari kalangan alawiyyin dalam lingkungan salaf ini, membentuknya memiliki karakter yang baik dan memiliki akhlak terpuji. 

  

Sebagai pribadi yang saleh dan menjalankan ibadah dengan khusyu’ dan penuh keikhlasan, Habib Sholeh tak lupa akan dakwah yang telah diperjuangkan oleh nenek moyangnya. Beliau selalu memikirkan bagaimana agama (Islam) bisa tersebar luas di penjuru dunia. Itu pula yang membulatkan tekadnya untuk meninggalkan tanah kelahirannya menuju Indonesia, yakni untuk melakukan dakwah, mengajak mereka (umat) kepada jalan yang diridai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan dalam melakukan dakwah, Habib Sholeh memiliki metode tersendiri. Dimulai dengan aspek yang melegitimasi masyarakat seperti penguasaan ilmu agama, kemampuan berkomunikasi, hingga kharisma yang dimiliki olehnya. Dengan begitulah, beliau mendapatkan kepercayaan masyarakat.

  

Habib Sholeh pernah suatu ketika ditanya mengenai amalan apa yang digunakannya, sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan semua urusan?

  

Habib Sholeh pun menjawab sebagai berikut: “Bagaimana tidak, sedangkan aku belum pernah melakukan hal yang membuat-Nya murka serta kita jangan membangga-banggakan dunia yang kita punyai, pada akhirnya dunia itulah yang membuat diri kita malu”. Dari jawaban itu bisa dimengerti, bahwa kita (umat) dilarang membangga-banggakan dunia karena dunia dan seisinya hanyalah tipu daya, dan kehidupan yang sebenarnya hanya ada di akhirat.

  

Ada juga sholawat yang dibuat oleh habib sholah dan terkenal mujarrab untuk menjadi solusi segala permasalahan dan banyak diamalkan oleh masyarakan hingga sekarang, dikenal dengan sholawat mansub, bunyi sholawatnya demikian : 

  

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلاَةً تَغْفِرُ بِهَا الذُّنُوْبَ , وَتُصْلِحُ بِهَا الْقُلُوْبَ , وَتَنْطَلِقُ بِهَا الْعُصُوْبُ , وَتَلِيْنُ بِهَا الصُّعُوْبُ , وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ إِلَيْهِ مَنْسُوْبٌ

   

Allahumma shalli ‘ala sayyidina muhammadiin shalatan taghfiru bihadz dzunuub wa tuslihu bihal quluub wa tan thaliqu bihal ‘ushuub wa taliinu bihash shu’ub wa ‘aala aalihi washahbihi wa man ilahi mansuub.

  

Artinya : Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami, Nabi Muhammad yang dengannya Engkau ampuni kami, Engkau perbaiki hati kami, menjadi lancar urat-urat kami, menjadi mudah segala kesulitan, juga kepada keluarganya dan para sahabatnya beserta orang-orang dimansubkan (dinisbatkan) kepada Beliau.

  

Pernah suatu ketika pula, ada seorang dermawan menawarkan untuk merenovasi kediaman Habib Sholeh. Namun beliau menolak itu dengan halus dan sopan: “Jangan dibetulkan, jangan diapa-apakan, biar saja seperti ini, karena saya khawatir Rasulullah tidak mau datang lagi ke rumah ini dan juga masih banyak yang lebih membutuhkan, saya ucapkan terima kasih atas niat baik kalian”. Sedang mengenai kedermawanan Habib Sholeh, masyarakat tidak meragukannya. Dia dengan senang hati memberikan segala sesuatu yang ia punya, selagi mampu. Beliau pernah berkata: “Seandainya Habib Sholeh tidak memiliki apa-apa kecuali ruhnya, maka belaiupun akan menyerahkannya kepada yang meminta”.

  

Sementara dalam kesehariannya hidup di tengah-tengah masyarakat, Habib Sholeh selalu berusaha berbuat kebaikan. Antara lain dengan memberikan solusi kepada masyarakat yang sedang tertimpa masalah seperti sedang terlilit hutang, orang yang cukup usia namun belum menikah dan mendamaikan orang yang tengah dalam pertikaian. Pada saat menetap di Tanggul pada 1933 M, Habib Sholeh membangun musala di samping rumahnya. Menurut penjelasan dari keturunannya, musala yang dibangun sangat sederhana (musala keluarga). Namun karena ketertarikan masyarakat pada sosok Habib Sholeh, sehingga masyarakat banyak yang datang ke musala itu untuk belajar agama.

  

Akhirnya, suatu ketika Habib Sholeh diberi sepetak tanah oleh H. Abdur Rasyid, salah seorang yang mencintai keturunan Rasulullah. Tanah wakaf kemudian dibangun masjid yang diberi nama Riyadhus Sholihin. Masjid tersebut dibangun tepat di depan kediaman Habib Sholeh di belakang pelataran Stasiun Tanggul. Lokasi yang strategis ini, memudahkan para pendatang untuk berkunjung ke kediamaman Habib Sholeh. Dalam perkembangannya, masyarakat pun sangat antusias mengikuti kegiatan keagamaan di masjid Riyadhus Sholihin, baik untuk salat berjamaah maupun pengajian kitab An-Nashaaih al-Dinniyah karya Habib Abdullah bin Alwi Al- Haddad. Sebuah kitab yang menjelaskan dasar-dasar agama Islam. Dalam pengajian kitab yang digelar, Habib Sholeh menjelaskan dengan Bahasa Madura dengan tutur perkataan yang lembut dan santun. Dengan begitu, masyarakat dengan mudah memahaminya dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Pada intinya, ada banyak sekali keteladan yang bisa kita petik dari sosok Habib Sholeh. Di antaranya pribadinya yang sangat rajin beribadah kepada Allah, hingga tak ada waktu kecuali di dalamnya pasti teringat Sang Khaliq. Selain itu, beliau adalah sesorang yang zuhud, dermawan, lemah lembut dalam berdakwah, dan selalu semangat memperjuangkan ajaran agama.

  

Hidup dan mati seseorang sudah ditentukan oleh Allah. Bagitu pula dengan Habib Sholeh. Beliau menghadap ke Rahmatullah pada 8 Syawal 1396 H bertepatan dengan tahun 1976 M. Ada yang berpendapat Habib Sholeh wafat pada usia 86 tahun, namun ada pula yang berpendapat usianya 81 tahun saat wafat.  Habib Sholeh dimakamkan pada Ahad, 9 Syawal 1396 H setelah salat Dhuhur di samping masjid Riyadhus Sholihin Tanggul, Jember. Sebelum dimakamkan, jenazahnya disalati secara bergantian, karena banyaknya umat Islam yang takziyah. Dan sepeninggal Habib Sholeh, banyak masyarakat yang menziarahi makamnya, baik dari Jawa maupun luar Jawa.