(Sumber : Tribun Jatim )

Hubungan Pernikahan Jarak Jauh

Khazanah

Oleh: Eva Putriya Hasanah

  

Teman saya menjalani hubungan jarak jauh setelah menikah, ia di Indonesia dan suaminya di Arab Saudi. Sehingga membuat mereka terpisah secara geografis. Banyak orang yang mengutarakan kebingungannya atas keputusan semacam itu dan mulai mempertanyakan beberapa hal diantaranya apa tujuan mereka untuk menikah. Normalnya bagi sebagian orang, sepasang suami istri haruslah tinggal bersama dalam satu atap. 

  

Sebenarnya, teman saya dan suaminya bukan satu-satunya pasangan yang menempuh pilihan tersebut. Begitu banyak pasangan di luar sana yang juga melakukan hal serupa. Media sosial telah menghadirkan cerita-cerita serupa. Sebagian cerita datang dari influencer yang juga melakoni hubungan jarak jauh dengan pasangannya dengan berbagai alasan. Fenomena ini memang nyata adanya dan menarik untuk di bahas. Guna memahami hubungan pernikahan semacam ini, saya mencoba untuk mencari penelitian yang pernah membahas itu. Kemudian saya menemukan penelitian disertasi tahun 2002 milik Andrea Towers Scott berjudul \"Communication Characterizing Successful Long Distance Marriages\" dari Louisiana State University. Saya akan berusaha untuk menjelaskan sebagian isi dari penelitian ini dengan membaginya ke dalam empat sub bab pembahasan di dalam artikel ini.

.  

Sejarah dan Perkembangan Model Hubungan Pernikahan Jarak Jauh 

  

Ada dua istilah yang paling sering digunakan oleh para peneliti dalam menyebut pernikahan semacam ini adalah pernikahan komuter (commuter marriages) dan pernikahan jarak jauh (Long Distance Marriages/LDM). Yang pertama cenderung merujuk pada pasangan yang lebih sering bertemu satu sama lain, seperti setiap akhir pekan atau beberapa malam dalam seminggu dan dengan demikian bolak-balik ke dan dari pekerjaan mereka. Pasangan dalam LDM, bagaimanapun, cenderung lebih jarang bertemu satu sama lain karena pemisahan geografis yang lebih besar. Selang waktu antara kunjungan dapat berkisar dari setiap dua minggu sekali hingga beberapa bulan sekali.

  

Secara historis, hubungan pernikahan jarak jauh telah terjadi sejak zaman dulu bahwa tidak semua keluarga berbagi tempat tinggal. Sangat sering pekerjaan seorang suami membawanya keluar dari rumah.  Selama pra-industrialisasi, para suami membawa barang dagangan mereka ke kota lain untuk diperdagangkan, banyak yang dipanggil untuk berperang, beberapa dipenjara, dan penyakit parah memaksa nya untuk masuk rumah sakit, yangmana hal-hal tersebut menjadi alasan terjadinya pola pernikahan tersebut.

  


Baca Juga : Tradisi Dan Status Sosial Dalam Penetapan Mahar Perkawinan Di Aceh

Seiring dengan berkembangnya waktu, kondisi lain telah muncul yaitu hadirnya pernikahan dua karir. Alih- alih karier suami membawanya pergi dari rumahnya, meninggalkan istrinya untuk mengurus rumah, pernikahan jarak jauh saat ini sering ditandai dengan kepergian istri, atau tetap tinggal untuk kariernya sendiri. Oleh karena itu, setidaknya secara teoritis, dan dengan bentuk perkawinan yang satu ini, masyarakat bergerak dari sistem keluarga yang lebih patriarki ke sistem yang lebih egaliter. 

  

Alasan Hubungan 

  

Mengapa seseorang hidup seperti ini. Salah satu alasannya telah dibahas, yaitu penekanan bersama pada pekerjaan. Alasan kedua mencakup kelangkaan pekerjaan atau pendidikan khusus. Jadi, ketika ada kesempatan, mereka memilih untuk melakukan gaya hidup jarak jauh. Ketiga yakni berpusat pada peluang. Jika seorang wanita dalam pekerjaan yang baik untuk memajukan karirnya, dan pindah tidak akan menempatkannya pada posisi yang sebanding, dia dan suaminya dapat memutuskan yang terbaik baginya untuk tetap dalam pekerjaannya saat ini, baik untuk waktu yang tidak terbatas atau sampai dia menemukan pekerjaan sampingan atau pekerjaan yang lebih baik di kota bersama suaminya. Alasan keempat bagi pasangan yang menikah lebih lama. Pasangan- pasangan ini melaporkan memilih gaya hidup ini karena mereka merasa hal itu memberikan \'gilirannya\' kepada istri. Para suami dalam pernikahan ini melaporkan istri mereka menunda kehidupan mereka di tahun- tahun awal untuk memajukan karir suami, jadi mereka setuju waktunya untuk mengejar karir bagi istri. Oleh karena itu, pengambilan keputusan dilakukan dengan lebih sadar untuk menciptakan keseimbangan dalam pernikahan.

  

Kesempatan dan Tantangan

  

Salah satu keuntungan yang di peroleh oleh pasangan jarak jauh yang diidentifikasi oleh penelitian ini adalah mempelajari keterampilan baru dan mendapatkan kepercayaan diri tentang kemampuan individu. Wanita melaporkan belajar mengganti ban, memperbaiki keran yang bocor, dan melakukan perawatan rumah tangga. Pria, di sisi lain, melaporkan belajar keterampilan seperti memasak, menjahit kancing, dan mencuci pakaian. Terlepas dari tantangan yang dihadapi keduanya melihat perolehan keterampilan sebagai kekuatan dari bentuk perkawinan ini.

  

Namun, pernikahan jarak jauh tidak semuanya positif. Pasangan ini sering merasakan kurangnya dukungan dari teman dan keluarga yang memandang gaya hidup mereka tidak normal yang mengakibatkan tekanan negatif. Selain itu sisi negatif lain yang dirasakan adalah terkait dengan penyesuaian kembali. Banyak pasangan melaporkan bahwa mereka mengalami perubahan yang membutuhkan penyesuaian kembali baik terhadap pasangan maupun hubungannya. Orang mungkin berasumsi bahwa karena pasangan merindukan satu sama lain, berkumpul bersama akan menjadi mudah. Sebaliknya, kembali bersama penuh dengan kesulitan. Waktu dan usaha diperlukan untuk berpindah dari satu peran ke peran lainnya dan periode penyesuaian tersebut dapat mengganggu hubungan.

  

Sebuah Saran 

  

Individu yang memilih jenis gaya hidup ini menganggap bahwa karier dan pernikahan mereka sebagai prioritas utama. Pertanyaannya menjadi bagaimana mempertahankan kedua prioritas tersebut. Banyak pasangan yang diwawancarai oleh Gerstel dan Gross (1983) secara eksplisit menyatakan bahwa mereka memilih gaya hidup ini karena dengan demikian mereka dapat berfokus secara eksklusif pada setiap prioritas pada waktunya sendiri. Sementara jauh dari satu sama lain, mereka fokus untuk memajukan karir mereka. Selama bertemu, mereka fokus pada penguatan hubungan. Di sela-sela itu, berbagai media seperti email dan telepon digunakan untuk mempertahankan hubungan.

  

Selanjutnya terkait dengan perasaan “kesementaraan”, meskipun tidak dieksplorasi secara luas oleh penelitian, mungkin sangat membantu pasangan dalam menghadapi perpisahan. Dengan mengatakan pada diri sendiri bahwa ini hanya untuk jangka pendek, pasangan jarak jauh mencapai dua tujuan. Salah satunya untuk menangkal kekhawatiran \'masyarakat\' bahwa mereka dipisahkan sebagai pendahulu perceraian. 

  

Tidak kalah pentingnya adalah komunikasi untuk pembentukan, pemeliharaan, dan pertumbuhan hubungan. Dalam hubungan apa pun, negosiasi harus dilakukan. Negosiasi memungkinkan untuk menyepakati perilaku yang sesuai serta berkontribusi pada pembentukan pandangan dan berkontribusi pada keintiman pasangan. Negosiasi ini seringkali menjadi tantangan karena individu memasuki hubungan sebagai individu unik, yang mungkin awalnya tidak melihat dunia dengan cara yang sama. Oleh karena itu, komunikasi sangat penting untuk mendefinisikan hubungan apa pun, termasuk pernikahan.