IAKN Dalam Pergulatan Mendidik Generasi Muda
KhazanahProf. Dr. Nur Syam, MSi
Manusia tidak mampu melawan takdir. Itulah yang terjadi kala saya diundang oleh Rektor Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang, Asc. Prof. Dr. Harun Natunis untuk memberikan orasi ilmiah pada wisuda program sarjana, program magister dan program doktor IAKN Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Acara wisuda diselenggarakan pada tanggal 29/09/2023.
Segalanya sudah dipersiapkan seperti tiket Surabaya-Kupang dan Kupang-Solo bahkan juga sudah check in lewat online. Akan tetapi akhirnya saya tidak bisa berangkat karena terkena diare, bahkan sempat diinfus. Tetapi melalui teknologi informasi, akhirnya saya bisa juga hadir di dalam acara ini secara daring. Ternyata betapa teknologi informasi bisa menjadi solusi atas hambatan wilayah dan waktu dalam sebuah acara. Sayapun akhirnya melakukan orasi ilmiah dengan media zoom.
Ada tiga hal yang saya sampaikan di dalam orasi ilmiah ini, yaitu: pertama, permohonan maaf karena tidak bisa hadir secara fisik di IAKN Kupang. Rupanya takdir tidak mengizinkan saya untuk datang memberikan orasi imiah secara luring. Tiba-tiba saja harus istirahat di rumah karena terkena diare. Tetapi saya bersyukur karena kebijakan Pak Rektor sehingga saya tetap bisa memberikan orasi ilmiah melalui penggunaan teknologi informasi, zoom, yang sekarang memang menjadi solusi atas kendala jarak lokasi satu dengan lainnya. Selain itu juga saya mengucapkan selamat kepada para wisudawan dan wisudawati IAKN Kupang. Ucapan selamat kepada para orang tua atau wali mahasiswa dan ucapan selamat kepada IAKN Kupang yang telah menambah jumlah kaum well educated, para sarjana, magister dan doktor. Bagi IAKN Kupang tentu merupakan kegembiraan karena bisa menyumbang sejumlah manusia Indonesia yang terdidik secara baik yang tentu akan bisa menjadi asset bangsa dan negara.
Kedua, wisuda ini sangat bermakna sebab salah satu di antara instrumen penting di dalam pengembangan SDM adalah melalui pendidikan. Indonesia masih ketinggalan dibandingkan dengan negara-negara di dunia bahkan di Asia Tenggara. Singapura, Malaysia, dan Thailand lebih maju dibandingkan dengan Indonesia di dalam kualitas pendidikan. Dalam presentase kalangan terdidik atau well educated, maka Indonesia jauh lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara maju. Dalam jumlah doctor, Indonesia memiliki jumlah doctor sebanyak 0,02 persen atau 59.197 orang, sementara Amerika Serikat sudah mencapai angka 2 persen, Inggris 2 persen, Solevia 3,7 persen. Di Indonesia perbandingan antara jumlah doctor dengan per 1 juta penduduk, maka perbandingannya adalah sebanyak 143 doktor per 1 juta penduduk, sementara di Amerika Serikat sebanyak 9.850 orang doctor per 1 juta orang, Jepang sebanyak 3.990 doktor per 1 juta penduduk, India sebanyak 3.440 doktor per 1 juta penduduk. Sedangkan magister berjumlah 855.757 orang, dan sarjana sebanyak 6 persen dari populasi penduduk Indonesia atau sejumlah 12.081.571 orang.
Melihat angka-angka ini, maka memberikan gambaran bahwa institusi pendidikan di Indonesia baik Perguruan Tinggi Umum (PTU) maupun Perguruan Tinggi Keagamaan (PTK) harus berlomba-lomba untuk menghasilkan sarjana, magister dan doctor. Prinsipnya bahwa semakin banyak masyarakat Indonesia yang terdidik, maka semakin besar potensi masyarakat Indonesia untuk menjadi semakin sejahtera. Kita berharap bahwa pada masa yang akan datang, maka yang mengisi pos-pos kelas menengah baru di Indonesia adalah para sarjana, magister atau doctor dan juga mahasiswa yang sedang belajar. Oleh karena itu, dengan adanya wisuda yang diselenggarakan oleh IAKN Kupang akan menjadi bukti atas keterlibatan PTKN untuk mengisi ruang kaum well educated untuk Indonesia di masa yang akan datang, khususnya era Indonesia Emas, 2045.
Ketiga, di antara kegembiraan kita semua, bahwa PTKN kita berhasil mendidik para generasi muda untuk terus mencintai Indonesia. Kita berharap bahwa institusi pendidikan apapun statusnya seperti UIN, IAIN, UHDN, IAKN, pesantren, Sekolah Teologi dan lainnya harus bisa memberikan program pembelajaran tentang keindonesiaan. Maka prinsipnya adalah Keindonesiaan, Keberagamaan dan Kemoderenan. Kita harus menjadi orang Indonesia, orang Indonesia yang beragama dan orang Indonesia yang beragama yang modern. Orang yang tetap berorientasi masa depan terutama di dalam menghadapi era Revolusi Industri 4.0 dan bahkan Revolusi Industri 5.0.
Generasi muda kita harus disiapkan dengan 5 kapasitas yang hal tersebut menjadi fungsi PTKN, yaitu menyiapkan generasi yang berkompeten, mampu berpikir kritis dan solutif, mampu berkomunikasi dan juga mampu berkolaborasi. Lalu ditambah yang sangat penting yaitu kemampuan spiritualitas. Saya percaya bahwa melalui IAKN Kupang, maka kapasitas dimaksud akan dapat dicapai oleh para mahasiswa.
Selamat menjadi sarjana, master dan doctor dalam bidang masing-masing. Di antara para wisudawan ini terdapat dua orang sahabat saya, yaitu Dr. Saurip Kadi dan Dr. Justiani. Dua orang yang tidak lagi bisa dinyatakan muda tetapi semangat belajarnya bisa menjadi contoh bagi generasi muda. Selamat mengabdi untuk Indonesia yang kita cintai.
Wallahu a’lam al shawab.

