Nabi Muhammad SAW Sebagai Teladan Sempurna
OpiniMemperingati Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW sebaiknya pada saat hari kelahirannya, yaitu 12 Rabiul Awal pada setiap Tahun Qamariyah atau Kalender Lunar. Pada tahun 2023 bertepatan dengan Hari Kamis, 28/09/2023. Namun demikian juga boleh memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW tersebut sesudahnya atau bahkan sebelumnya. Sama dengan tulisan ini yang hadir di tengah pembaca setelah hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Bagi umat Islam, senang dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW menjadi pertanda keimanannya atas kenabian Nabi Muhammad SAW.
Semua Nabi dan Rasul yang dihadirkan Allah kepada umat manusia di dunia, merupakan contoh atau teladan yang baik. Nabi atau Rasul dipilih Tuhan untuk menjadi contoh agar manusia melakukan kebaikan. Tolok ukur kebaikan tersebut adalah bagaimana manusia menjalin tali silaturrahim atau hablum minallah, silaturrahim atau hablum minan nas dan juga membangun perilaku baik dengan lingkungan atau hablum minal alam.
Di dalam teks Suci al-Qur’an dinyatakan bahwa pada diri Nabi adalah teladan yang baik. Dinyatakan di dalam Surat Al Ahzab, 21: “laqad kana lakum fi rasulillahi uswatun hasanah.” Artinya: “sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah teladan yang baik bagimu.” Jika melihat ayat ini tentu kita bisa menyatakan bahwa sesungguhnya pada diri Nabi itu terdapat keletadanan dalam perilaku yang baik. Menurut logika bahwa orang akan melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dilakukan oleh orang yang dipandangnya baik.Sebaliknya, orang akan cenderung untuk tidak melakukan kebaikan yang bertolak belakang dengan kebaikan tersebut. Oleh karena itu, maka yang ditekankan di dalam ayat ini, bahwa Nabiyullah pasti orang baik dan menjadi contoh kebaikan.
Semua Nabi adalah teladan dalam kebaikan. Misalnya Nabi Nuh AS, adalah contoh tentang perilaku keteguhan. Teguh di dalam pendirian di dalam hujatan dan cemoohan umatnya yang menganggap bahwa tidak mungkin akan terjadi banjir besar sebagaimana yang diungkapkannya. Bahkan kala istri dan anaknya juga tidak mempercayainya, maka keteguhan hatinya tidak terkalahkan.
Nabi Ayub adalah teladan kesabaran. Adakah manusia yang melebihi kesabaran Nabi Ayub yang ditakdirkan menderita sakit yang tidak dapat disembuhkan kecuali melalui pertolongan Allah. Karena sakitnya itu, maka Nabi Ayub ditinggalkan umat, dicemooh, dilecehkan dan dihujat dengan sakitnya. Akan tetapi Nabi Ayub justru semakin meningkat imannya dan terus berdoa kepada Allah agar umatnya disadarkan. Saya kira tidak ada manusia biasa yang bisa melebihi kesabaran Nabi Ayub tersebut.
Nabi Ibrahim AS juga seorang teladan dalam keberanian melawan kedzaliman. Di kala Raja Namrudz melakukan kedzaliman atas umatnya agar menyembah berhala, dan Ka’bah menjadi tempat penempatan berhala, besar dan kecil, maka Nabi Ibrahim membersihkannya dan mengajarkan tentang ketuhanan yang murni atau ketauhidan yang lurus yang di dalam Qur’an disebutnya sebagai agama yang hanif. Karena itu, Nabi Ibrahim disebut sebagai Bapak Monotheisme, yang melahirkan agama-agama Semit: Yahudi, Nasrani dan Islam.
Nabi Isa AS juga teladan dalam penderitaan. Tidak ada yang melebihi Nabi Isa dalam merasakan derita semenjak lahir hingga mendapatkan wahyu Allah. Kelahirannya yang tidak sebagaimana manusia pada umumnya, selalu menjadi bahan ejekan dari umatnya. Nabi Isa dilahirkan melalui perawan Suci Maryam, yang karena kehendak Allah kemudian melahirkan anak lelaki yang kemudian menjadi Nabi Isa al Masih. Berkat kenabiannya, maka Allah memberikan mu’jizat bisa berbicara pada saat masih bayi untuk membenarkan firman Allah, dan terus saja dihujat, di bully dan dihina oleh umatnya. Tetapi Nabi Isa AS terus memberikan penjelasan tentang kebenaran yang diterimanya dari Allah SWT.
Nabi Muhammad SAW merupakan contoh yang paling lengkap. Jika saya menulis ini bukan berarti para Nabi sebelumnya bukan contoh yang lengkap. Semua Nabi pasti memiliki keteladanan yang lengkap. Namun demikian, sebagai Nabi akhir zaman atau Nabi yang diturunkan Allah sebagai Nabi terakhir, maka tentu Nabi Muhammad SAW merupakan teladan yang lengkap atau uswah kamilah. Ada tiga makna keteladanan Nabi Muhammad, yaitu: pertama, keteladanan dalam mengajarkan agama yang wasathiyah. Islam yang disebarkan oleh Nabi Muhammad SAW adalah agama yang merahmati seluruh alam. Tidak hanya memberi rahmat kepada umat Islam saja tetapi kepada seluruh alam. Seluruh manusia dan alam semesta. Nabi tidak pernah mengajarkan kekerasan. Jika Nabi Muhammad melakukan perang, maka hal itu dilakukan karena terjadinya pengingkaran atas perjanjian kerja sama, dan juga karena umat Islam akan diserang oleh kelompok lain. Seluruh perang yang dilakukannya berbasis atas dua hal dimaksud.
Kedua, Nabi Muhammad itu mengajarkan harmoni dan kerukunan umat. Nabi Muhammad SAW adalah teladan dalam toleransi antar umat beragama. Di dalam perjanjian Madinah dapat diketahui dengan jelas bagaimana perilaku yang seharusnya dilakukan oleh umat Islam kepada umat lain, dan bagaimana umat lain harus berperilaku kepada umat Islam. Nabi mengajarkan ada persaudaraan intern umat Islam, antar umat beragama dan antar masyarakat. Trilogy ukhuwah tersebut dikenal dengan nama ukhuwah Islamiyah, ukhuwah insaniyah dan ukhuwah wathaniyah. Persaudaraan antar umat Islam, antar manusia dan antar bangsa.
Ketiga, Nabi Muhammad SAW merupakan keteladanan dalam personal dan social atau kesalehan individual dan kesalehan social. Nabi tidak hanya menekankan kesalehan individual untuk dirinya sendiri, misalnya dengan ibadah untuk kepentingan dirinya, akan tetapi juga untuk masyarakatnya. Apa yang dilakukannya tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri akan tetapi untuk kebutuhan masyarakatnya. Sebagai Nabi yang paling akhir dalam sejarah kenabian, maka Nabi Muhammad SAW diberikan segala sesuatu yang serba utama, termasuk juga kesempurnaan sebagai Nabi. Tidak ada Nabi yang bisa melihat dan bertemu dengan Allah dan hanya Nabi Muhammad SAW yang diberikan kekuatan untuk hal tersebut. Tidak ada Nabi yang diberikan otoritas memberikan syafaat bagi manusia, dan hanya Nabi Muhammad SAW yang diberikan otoritas tersebut.
Oleh karena itu pantaslah jika sebagai umatnya, kita selalu melantunkan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW agar kita mendapatkan syafaatnya fi yaumil mahsyar. Allah dan para Malaikat melakukannya, maka sudah sepatutnya jika kita juga melakukannya.
Wallahu a’lam bi al shawab.

