(Sumber : Instagram mangunsae_)

Mangunsae : Program Sosial-Lingkungan Saat Pandemi

Informasi

Eva Putriya Hasanah

  

Saat pandemi, tepatnya di tahun 2020 saya membuat projek bernama mangunsae. Nama ini merupakan gabungan dua kata yakni “mangun” berarti membangun dan “sae” artinya baik atau kebaikan. Sehingga jika digabungkan memiliki arti membangun kebaikan. 

  

Projek ini telah ditulis oleh Majalah Disway milik Dahlan Iskan dan media online east java traveler. Pun, saya sendiri telah mengabadikannya dalam bentuk jurnal ilmiah pemberdayaan masyarakat bersama dengan dosen S1 saya, yang saat ini menjadi kaprodi Hubungan Internasional UINSA, bu Rizki Rahmadini Nurika di Jurnal Indonesia berdaya pada 10 Januari 2022. Jurnal ini berjudul “Partisipasi Masyarakat Desa Suru, Kabupaten Mojokerto dalam Bisnis Ramah Lingkungan Melalui Program Mangunsae”, yang bisa di download secara gratis.

  

Sebuah Alasan dan Inspirasi 

  

Situasi pandemi, isu lingkungan (sampah tekstil) dan pengalaman saya saat menjual pakaian bekas menginspirasi terciptanya projek ini. Sebelumnya saya dan teman-teman saya baik di Surabaya maupun Mojokerto melakukan kegiatan mengumpulkan baju bekas dan menjualnya di CFD yang hasilnya akan kami donasikan. Saat itu saya melihat sebagian pakaian yang tidak laku terjual merupakan pakaian dengan model jadul. Padahal dari segi warna dan bahan masih sangat bagus. 

  

Dari pengalaman inilah mendorong saya untuk mengelola pakaian-pakaian itu menjadi bentuk yang berbeda.  Teknik upcycle menjadi pilihan yang tepat dan akhirnya terciptalah mangunsae.

  

Mangunsae adalah ide yang sederhana untuk menghubungkan keterampilan-keterampilan yang ada di masyarakat untuk mengelola pakaian-pakaian bekas tersebut menjadi barang yang bermanfaat bahkan menjadi produk yang bisa di jual. 

  

Saat itu keterampilan yang saya hubungkan adalah ketrampilan menjahit yang dimiliki ibu rumah tangga dengan keterampilan melukis yang dimiliki oleh pemuda setempat. 


Baca Juga : Pro dan Kontra Penetapan Jabatan Professor Bu Mega

  

Dengan mengetahui potensi dan keterampilan yang ada, saya tidak lagi memberikan pelatihan, peran saya dalam projek tersebut hanya menghubungkan, mendampingi, mendesain produk dan memasarkannya melalui media sosial. 

  

Hasilnya pakaian-pakain bekas tersebut berhasil diubah menjadi totebag, slingbag, tas lukis, tas leptop, tas ransel, clutch bag, dan lain sebagainya. Semua karya-karyanya bisa dilihat di instagram @mangunsae_ .

  

Mangunsae sebagai Social Enterprise

  

Mangunsae mengandung unsur ekonomi karena terdapat proses jual beli di dalamnya. Program ini memproduksi produk-produk yang terbuat dari baju bekas menjadi macam-macam tas yang kemudian dijual secara online dan offline kepada masyarakat luas. 

  

Tidak hanya mengedepankan unsur ekonomi semata, Mangunsae juga mengedepankan nilai-nilai kebermanfaatan bagi masyarakat. Terdapat tiga kebermanfaatan yang diusung oleh program ini, yakni : Pertama, Mangunsae bertujuan untuk meningkatkan potensi Sumber Daya Manusia (SDM) dan ekonomi yang dimiliki oleh masyarakat. Pada aspek produksi, pengerjaan produk-produk Mangunsae dikerjakan oleh penjahit rumahan. Begitu juga dengan melukis produk juga dilakukan oleh pemuda setempat. Secara ekonomi, hal ini akan menambah penghasilan bagi masyarakat. 

  

Kedua, manfaat bagi lingkungan. Dengan mengelolah baju bekas yang berpotensi menjadi sampah, maka Mangunsae secara tidak langsung ikut serta mengurangi sampah tekstil yang mencemari lingkungan. Di samping itu, hal ini juga dapat menjadi upaya untuk mencega timbulnya sampah baru yang dihasilkan dari produk-produk tidak ramah lingkungan ketika konsumen lebih memilih menggunakan produk-produk ramah lingkungan dari Mangunsae.

  

Ketiga, kehadiran Mangunsae juga bertujuan untuk mengedukasi masyarakat tentang menjaga lingkungan melalui pengelolaan sampah tekstil yakni dengan memberikan ruang bagi masyarakat untuk membuat produk-produk upcycle yang terbuat dari baju bekas. Dengan kata lain ada harapan masa depan yang sedang diharapkan dalam terbentuknya Mangunsae yakni pemahaman masyarakat pada kepedulian lingkungan sehingga akan memberi kebaikan bagi kelestarian lingkungan.

  

Mangunsae sebagai Fesyen Berkelanjutan 

  

Hadirnya fast fashion (fesyen cepat) menjadi salah satu penyebab tingginya konsumsi masyarakat terhadap fesyen. Fast Fashion sendiri adalah sebuah tren dengan pergantian model baju yang sangat cepat namun dengan harga yang murah. Maka sangat cepat dalam memenuhi permintaan pasar (Made & Rahmi, 2020). Sehingga tidak dapat dipungkiri terdapat banyak baju yang berakhir menjadi sampah karena tidak terpakai.

  

Melihat pada aktivitas yang dilakukan Mangunsae telah mencakup poin penting yang ada pada konsep fesyen berkelanjutan sebagai respon pada persoalan fast fashion. Salah satu konsep dari fesyen berkelanjutan membicarakan tentang lingkungan. Mangunsae menerapkan prinsip-prinsip yang ramah lingkungan. Dibantaranya adalah menggunakan bahan baku baju bekas dan kain perca yang diolah menjadi produk-produk fesyen yang bermanfaat dan bernilai ekonomis sehingga berkontribusi untuk mengurangi sampah. Teknik yang digunakan adalah upcycle dengan sangat meminimalisir adanya sisa limbah. 

  

Semoga artikel tentang projek mangunsae yang pernah kami buat ini dapat menginspirasi orang lain untuk menciptakan program-program yang bertujuan untuk kebaikan lingkungan sekitar.