(Sumber : Monitorday)

Idul Qurban Hadir Sebagai Identitas Untuk Membentuk Manusia Humanis

Khazanah

Oleh: Dr. H. Imron Rosyadi, Drs., SH, MH

Dosen Fakultas Syari\'ah dan Hukum UIN Sunan Ampel Surabaya

  

Pendahuluan

  

Modernisasi peradaban modern dapat merombak segala sendi kehidupan manusia, hal ini ditandai dengan beberapa teknologi modern, salah satunya yaitu teknologi digitalisasi, sangat berpengaruh dalam membentuk tata nilai kehidupan hampir di semua sektor, baik dalam bidang muamalah, sosial, budaya dan spiritualitas. Harus diakui, hal ini dapat membawa konsekuensi dalam segala kehidupan, bahkan menjadi sebuah media untuk dapat mempermudah dalam segala urusan. Semakin mudah manusia untuk dapat menggapai keinginannya melalui teknologi modern.

  

Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi justru menjadi hal yang sangat fital dalam segala sendi kehidupan, sesungguhnya dapat digapai melalui pertukaran hati dan pikiran, justru ke arah terbalik, harus dijalankan melalui teknologi modern, disebut dengan digitalisasi. Hal ini sangat berpengaruh terhadap nilai hubungan antara manusia secara sosial keagamaan, bahkan dapat menjauhkan nilai spiritualitas antara manusia dengan Tuhan-Nya Allah SWT. Teknologi membuat manusia semakin cerdas, di satu sisi dapat menjauhkan ketergantungan hubungan antar manusia.

  

Teknologi modern, menjadikan hubungan antara sesama tak lagi menjadikan sebuah pertukaran pikiran dan hati, tetapi kuantitas manusia semakin banyak jumlahnya, hanya berdiri sendiri sebagai identitas individualitas, bukan berjiwa sosial, apalagi saling membantu dan membantu menolong sesama manusia sudah jauh dari harapan yang sesungguhnya. Maka semangat materialisme sangat berpotensi sangat mendasar, bukan lagi nilai kepedulian antar sesama semakin dikesampingkan, hanya materialisme tanpa peduli terhadap sesama menjadi hal yang sangat tampak pada diri manusia modern.

  

Manusia modern, tentu tidak menyembah patung karena rasionalitasnya, tetapi sesembahan terhadap harta dan benda-benda yang ingin diperoleh menjadi skala prioritas dalam segala hal yang ingin digapai sesungguhnya, sehingga nilai spiritualitas semakin tergeser oleh nilai materialisme. Gambaran tersebut sudah dapat kita rasakan setiap saat dan setiap hari, bahkan pikiran manusia modern hanya harta, uang, dan segala fasilitas kehidupan menjadi hal yang paling utama dalam setiap nafas yang kita hirup selama ini.

  

Idul Kurban

  

Hari raya idul adha yang biasa disebut dengan idul qurban, hadir menjadi solusi yang sangat strategis dalam pola kehidupan manusia modern, karena paling tidak dapat menjawab pertanyaan yang selama ini dianggap sebagai hal yang sangat berperan aktif dalam membentuk paradigma berfikir manusia modern. Pertanyaannya. Apakah waktu yang kita habiskan tidak sama dengan waktu bagi orang sukses dan berhasil? Apakah nafas yang kita hirup tidak sama haknya dengan nafas yang dihirup oleh orang-orang saleh? Tentu penjelasan pasti dalam hati kita sudah dapat menjawabnya dengan rasionalitas dan bahkan spritualitas yang kita yakini sebagai penentu dalam membuat pola pikir dan nilai kebahagian kita. 

  

Idul qurban hadir tidak hanya menjadi sebuah seremoni belaka, melainkan membangun kembali identitas manusia sebagai makhluk imateri, dan membentuk nilai kedekatan terhadap TuhanNya sebagai bentuk nyata bagi orang-orang beriman. Nabi Ibrahim as kala itu tidak hanya mengurbankan hewan, melainkan Allah meminta untuk mengurbankan sesuatu yang sangat dicintainya, sesuatu itu adalah anak kandungnya sendiri yang sangat dicintai, yaitu Isma'il as.

  

Isma'il as adalah bentuk objek segala kecintaan Ibrahim as dan Allah SWT hendak mengetahui seberapa besar kecintaan manusia terhadap nilai keduniaan yang melekat pada manusia, sekalipun anak kandungnya sendiri, mungkinkan akan dikurbankan demi mengalahkan kecintaan terhadap Sang Pencipta Allah SWT. Hal ini yang sangat menarik dalam kajian untuk dapat dijadikan intropeksi sekaligus sebagai bahan perenungan kita ketika dihadapkan antara harta benda dan keimanan kepada Allah SWT. Karena Ibrahim as memilih dan berdialog dengan putra kesayangannya sama bertahan dengan apa yang dikehendaki oleh orang tua dan anaknya, yaitu lebih mencintai Allah SWT sebagai kecintaan yang tak dapat digadaikan atau digantikan dengan harta benda.

  

Kisah menarik ini dapat menjadi pelajaran bagi kita ketika membayangkan dua pilihan antara keimanan dan harta benda, kita sama memahami dan mengetahui jika harta sebagai bagian dari kehidupan, akan tetapi harta tidak dapat menyelesaikan segala persoalan kehidupan jika tidak dibarengi dengan nilai keimanan kepada Tuha Allah SWT. Jika seseorang mempunyai nilai keimanan saya berkeyakinan pasti ada nilai ketenangan dan kebahagiaan, akan tetapi tidak sedikit manusia yang kering akan nilai keimanan menjadikan kering dan tandus dalam kasih sayang karena tanpa iman dan takwa kepada Allah SWT.

  

Kini tak lagi Allah memerintahkan umat manusia untuk menyembelih anak kesayangannya, melainkan digantikan dengan domba yang terbaik dan gemuk sebagai solusi untuk menguji keimanan manusia kepada Tuhan-Nya Allah SWT. Manusia dari aspek peradaban, secara historis digambarkan dalam harta benda yang ditandai dengan sapi sebagai bentuk Rojo Koyo dalam tradisi Jawa, pun demikian digambarkan dalam hukum positif juga sebagai qiyasan dalam melihat dalam bentuk pencurian, yaitu pencurian sapi betina menjadi hal yang sanga prinsip dalam pasal KUHP yang selama ini dijadikan sebagai bentuk pencurian.

  

Surat Al-Baqarah, surat kedua dalam Al Qur'an, artinya “sapi betina”. Namun ini diambil dari kisah Bani Isra'il yang diminta menyembelih sapi betina oleh Nabi Musa untuk mengungkap pelaku pembunuhan. Surat ini berisi berbagai ajaran, termasuk keimanan, hukum, kisah-kisah para nabi, dan penjelasan tentang sifat-sifat Allah SWT. Surat Al Baqarah juga memiliki keistimewaan diantaranya: Lindungan dari godaan setan, bagi siapa saja yang membaca di rumah dapat menyingkirkan gangguan setan dan jin di rumah kita. Juga memiliki jumlah ayat terpanjang dalam surat al qur'an, mengandung ajaran tentang keimanan, dan menjelaskan hukum-hukum Islam.