(Sumber : Dokumentasi Penulis)

Menyontoh Nabi Ibrahim: Trust Sebagai Kunci Kehidupan

Khazanah

اللّٰهُ أَكْبَرُ، اللّٰهُ أَكْبَرُ، اللّٰهُ أَكْبَرُ، اللّٰهُ أَكْبَرُ

اللّٰهُ أَكْبَرُ، اللّٰهُ أَكْبَرُ، اللّٰهُ أَكْبَرُ، اللّٰهُ أَكْبَرُ

اللّٰهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللّٰهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا.

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَاللّٰهُ أَكْبَرُ، اللّٰهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللّٰهِ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

قَالَ اللّٰهُ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: \"اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.\"

اللّٰهُ أَكْبَرُ، اللّٰهُ أَكْبَرُ، اللّٰهُ أَكْبَرُ، اللّٰهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ.

Jamaah Shalat Idul Adha Rahimakumullah.

  

Pada hari ini umat Islam sedang menyelenggarakan ibadah liminal setahun sekali, yaitu ibadah shalat idul Adha atau shalat Hari Raya Idul Qurban dalam kerangka untuk memenuhi sunnah Rasulullah Muhammad SAW. Ibadah atau shalat Idul Adha merupakan ibadah sunnah muakkad, yaitu ibadah yang dilakukan di dalam kerangka mengamalkan ajaran Islam yang bersamaan dengan hari Raya Idul Qurban, tahun 1446 Hijriyah yang bertepatan dengan tahun 2025 Masihiyah. 

  

Pada hari ini umat Islam yang memiliki kemampuan secara ekonomi atau memiliki istithaah iqtishadiyah dan istithaah sihhatiyah atau kemampuan Kesehatan melaksanakan ibadah haji sebagai perwujudan dalam melaksanakan rukun Islam yang kelima. Melaksanakan haji adalah kewajiban bagi umat Islam secara ekonomi dapat melaksanakannya. Semoga mereka yang mengerjakan haji, akan mendapatkan haji yang mabrur, haji yang diterima oleh Allah SWT. 


Baca Juga : Umat Budha Indonesia untuk Kerukunan Beragama

  

اللّٰهُ أَكْبَرُ، اللّٰهُ أَكْبَرُ، اللّٰهُ أَكْبَرُ، اللّٰهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ.

Ada tiga hal yang ingin saya sampaikan di dalam khutbah Idul Adha, yaitu:

  

Pertama, peribadahan yang dilakukan oleh umat Islam, yang berupa haji dan upacara keagamaan yang terkait dengannya adalah Ibadah yang bersesuaian dengan ibadah pada zaman Nabi Ibrahim AS. Pelaksanaan ibadah ini merupakan bagian dari napak tilas atas perilaku religious sebagaimana telah dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS, seorang Nabi yang dijuluki sebagai Bapak Monotheisme, yang  menurunkan nabi-nabi  dan agama-agama  yang dipeluk umatnya. Ada agama Yahudi yang diturunkan kepada Nabi Musa AS, ada agama Nasrani yang diturunkan kepada Nabi Isa AS dan ada Islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Agama Islam merupakan agama yang merangkum semua agama yang diturunkan kepada keturunan Nabi Ibrahim, yaitu agama Yahudi dan Nasrani. Sebagai Nabi yang dinyatakan sebagai Nabi penutup para-Nabi, maka risalah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad merupakan risalah kenabian yang sempurna. 

  

Allah melalui Nabi Muhammad SAW di dalam Al-Qur’an menyatakan: 

  

ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَـٰمَ دِينٗاۚ

  

Artinya: “Pada hari ini  telah kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah kuridlai Islam itu jadi agama bagimu” (QS, Al Maidah, ayat 3).

  

Sesuai dengan berita dari Al-Qur’an bahwa Islam adalah agama yang terakhir, sebagaimana Nabi Muhammad SAW adalah Nabi terkahir, “لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ”. Sebagai konsekuensi Islam sebagai agama terakhir, maka Al-Qur’an sebagai kitab suci telah menjelaskan semua hal yang terkait dengan hablum minallah, hablum minan nas dan bahkan hablum minal alam. Kitab Suci Al-Qur’an menjelaskan secara general tentang bagaimana seharusnya umat Islam membangun relasi dengan Allah, bagaimana membangun relasi dengan sesama manusia dan bagaimana membangun relasi dengan alam. 

  


Baca Juga : Danantara: Bayi Raksasa di Era Ketidakpercayaan Publik

Al -Qur’an memang menjelaskan prinsip-prinsip di dalam ajaran Islam, ada yang bersifat mujmal atau general, maka hadits Nabi Muhammad SAW adalah sebagai penjelas yang menggambarkan bagaimana ajaran Islam yang general tersebut kemudian dijelaskan secara mendalam dan tuntas. Al Qur’an terdiri dari 144 surah dan 6666 ayat, tentu tidak secara mendalam menjelaskan ajaran Islam. Itulah prinsip bahwa Al-Qur’an dan hadits adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Al-Qur’an menjelaskan secara umum dan hadits yang menjelaskan secara mendetail atau mendalam.

  

Sebagai contoh, Al-Qur’an menjelaskan tentang shalat wajib dilakukan lima kali sehari, akan tetapi penjelasan mengenai shalat secara mendalam dijelaskan oleh Nabi Muhammad SAW dengan ungkapan yang sangat jelas dan tegas: 

   

صلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

   

 Artinya: “shalatlah kalian semua sebagaimana Aku shalat.”

(Imam al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari, Kitab al-Adhan (باب الأذان), hadis nomor 631)

   

Lalu jika ada perbedaan di dalam melaksanakan shalat, misalnya dalam doa dan praktik shalatnya, tentu hal itu adalah bagian dari tafsir atas apa yang pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dengan doa dan praktik shalat sebagaimana diriwayatkan oleh para ulama salaf yang saleh. 

  

اللّٰهُ أَكْبَرُ، اللّٰهُ أَكْبَرُ، اللّٰهُ أَكْبَرُ، اللّٰهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ.

  

Kedua, hari raya kita ini disebut sebagai hari raya kurban yaitu sebuah peristiwa untuk mengenang Kembali atas peristiwa pengorbanan yang dilakukan oleh Nabi Ismail AS dan Nabi Ibrahim AS. Allah SWT memberikan perintah kepada Nabi Ibrahim dalam kerangka menguji imannya kepada Allah SWT. Ini tentu menarik bahwa sekelas Nabi Ibrahim diuji atas keimanannya. Bukankah keterpilihannya sebagai Nabi sudah menjadi bukti akan keimanannya itu. Nabi adalah hamba Tuhan yang full iman. Nabi Ibrahim pernah dimasukkan ke dalam api oleh Raja Namrudz karena harus tetap berada di dalam keimannya kepada Allah. Selama tujuh hari tujuh malam Nabi Ibrahim berada di dalam kobaran api dan Allah SWT menyelamatkannya.  

  


Baca Juga : Islam, Natal Dan Toleransi Beragama

 قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ

  

Artinya: “Kami berfirman, Wahai api jadilah dingin dan memberikan keselamatan kepada Ibrahim.” (Surat Al Anbiya, ayat 69).   

  

Sifat api yang membakar atas apa saja, menjadi tidak membakar atas tubuh Nabi Ibrahim. Berdasarkan kajian interteks, maka pembakaran atas diri Nabi Ibrahim adalah peristiwa historis dan bukan peristiwa mistis. Allah SWT tentu sudah memiliki desain di dalam peristiwa ini. Demikian pula dengan peristiwa pemgorbanan atas Ismail AS. Allah telah merencanakan bahwa harus ada suri tauladan atas manusia yang memiliki iman yang tiada banding, iman yang tidak tergoyahkan dan iman yang tidak tergoda oleh apapun. Godaan yang datang dari mana saja terabaikan jika iman itu sudah menancap di dalam pikiran dan hati. Iman yang sudah terpateri di dalam roh, jiwa dan raga. Iman yang sudah mencapai makamat tertinggi sebagai manusia. Dan iman tersebut tersimbolisasi dalam diri Nabi Ibrahim, Nabi Ismail dan Hajar ibunda Nabi Ismail. Tiga sosok teladan kehidupan, Bapak, Ibu dan anak. Sebuah keluarga yang benar-benar menjadi contoh kedalaman iman di dalam diri masing-masing. 

  

Hajar dan Ismail sedemikian percaya kepada Nabi Ibrahim. Apapun yang diucapkan oleh Nabi Ibrahim adalah kebenaran. Di kala Hajar ditempatkan di padang tandus di dekat Ka’bah, tanpa perlengkapan kehidupan, dan hanya bermodal kepercayaan dan kepastian bahwa Allah akan menolongnya, maka Hajar meyakininya, dan kemudian terbukti Allah selalu maha Rahman dan Rahim atas hambanya. Makanya, Hajar meyakini bahwa Allah juga akan menolong satu-satunya putranya, Ismail. Dan pertolongan tersebut didapatkannya. Ismail diganti dengan seekor domba dari surga yang kemudian dijadikan sebagai korban pada hari raya yang sekrang kita kenal sebagai hari raya korban. 

  

Keluarga Nabi Ibrahim adalah contoh tentang sebuah keluarga yang di dalamnya terdapat trust atau saling mempercayai. Nabi Ibrahim sedemikian percaya kepada Hajar, dan Hajar juga percaya kepada Nabi Ibrahim, dan hal ini berimbas kepada Ismail, putranya. Makanya di kala ditanyakan oleh Nabi Ibrahim AS tentang mimpinya kepada Ismail, maka dengan keyakinannya Ismail pun menyatakan mempercayainya. Di dalam Surat Ash shoffat, ayat 102 dijelaskan, sebagai berikut: “Kala Nabi Ibrahim menanyakan: 

  

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي ٱلْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ

  

“Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka fikirkanlah apa pendapatmu. Ia menjawab Hai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insyaallah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

  

Dengan menggunakan logika yang sangat sederhana saja, maka kita akan dengan mudah memahami bagaimana trust tersebut berada di dalam relasi Bapak, ibu  dan anak. Ketiganya berkeyakinan bahwa apa yang diperintahkan oleh Allah dan itu kebenaran. Dengan demikian, trust sungguh merupakan bagian terpenting di dalam kehidupan keluarga. Makanya, Nabi Ibrahim, Nabi Ismail dan Hajar adalah teladan di dalam kehidupan umat manusia, dan terbukti secara historis berdasarkan kajian interteks, bahwa Nabi Ibrahim adalah bapak Nabi-Nabi dan menjadi contoh atas hamba Allah yang mendeklarasikan prinsip monotheisme di dalam agama. 


Baca Juga : Implementasi Takwa: Dua Contoh Amal Saleh

  

اللّٰهُ أَكْبَرُ، اللّٰهُ أَكْبَرُ، اللّٰهُ أَكْبَرُ، اللّٰهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ.

  

Ketiga, melalui ajaran berkorban, maka juga ada Pelajaran penting yang dapat diambil dan dijadikan contoh. Kebanyakan orang memahami bahwa manusia terdiri dari dua unsur: jasmani dan Rohani atau jasad dan roh atau jiwa dan raga. Padahal sesungguhnya bahwa manusia memiliki tiga unsur yang saling terkait, yaitu jasad, jiwa dan roh. Jasad adalah tempat jiwa dan roh. Jasad merupakan wujud fisikal manusia yang terdiri dari susunan saraf, daging dan tulang. Karena jasad adalah fisikal, maka juga berlaku hukum fisikal yaitu memerlukan kebutuhan fisikal atau kebutuhan biologis. Tubuh memiliki hak untuk memperoleh asupan fisikal, seperti karbohidrat, protein dan kebutuhan fisik lainnya. Perlu ada nutrisi di dalam fisik agar fisik dapat menyangga kehidupan. 

   

Roh adalah rahasia Allah, dan tidak ada yang memahami tentang roh kecuali Allah. Di kala Nabi Muhammad SAW ditanya tentang roh, maka dinyatakan bahwa roh adalah urusan Tuhan dan manusia hanya diberi ilmu kecuali sedikit. 

  

وَيَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلرُّوحِ ۖ قُلِ ٱلرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَآ أُوتِيتُم مِّنَ ٱلْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

  

Artinya: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: Roh itu termasuk urusan Tuhanku dan tidaklah kamu diberi ilmu kecuali sedikit.” (Surat Al Isra’, ayat 85)

  

Di dalam diri manusia terdapat unsur Roh, yaitu unsur di dalam diri manusia, sebagaimana ditiupkan oleh Allah pada saat usia bayi masih di dalam kandungan. Di dalam bahasa Indonesia, roh itu diartikan spirit atau disebut sebagai jiwa. Di dalam bahasa Jawa disebut sebagai nyawa. Orang dinyatakan mati jika nyawanya sudah tidak ada di dalam tubuhnya. Di dalam konteks Islam, maka ada roh dan ada nafsu. Jadi ada dua hal yang berbeda. Roh meruakan unsur yang paling rahasia di dalam diri manusia, hanya Tuhan yang tahu, bahkan Nabi Muhammad SAW menyerahkan urusan Roh kepada Allah SWT. Roh tidak bisa diobservasi atau tidak bisa dilihat dan diketahui bagaimana wujud atau bentuk dan zatnya. Yang bisa diketahui bahwa orang bisa hidup karena rohnya masih ada di dalam tubuhnya. Hal ini berdasarkan pemahaman atas teks-teks Al-Qur’an. 

  

Nafsu atau jiwa di dalam bahasa Indonesia, bisa dipahami akibatnya. Makanya di dalam Islam dikenal ada Nafsu hayawaniyah untuk menggambarkan nasfu seseorang yang menyerupai nafsu Binatang. Ada nafsu lawwamah atau nafsu yang mengikuti nafsu-nafsu lainnya dan ada nafsu muthmainnah atau nafsu yang berkaitan dengan kebaikan. Ada di antara umat Islam yang lebih besar nafsu kebinatangannya dan ada yang lebih nafsu lawwamahnya dan ada juga yang lebih banyak nafsu mutamainnah. Berbahagialah orang yang jiwanya termasuk ke dalam nafsu mutmainnah sebab jiwanya cenderung kepada ruh yang suci yang datang dari Allah SWT. Dan bersedihlah orang yang jiwanya dekat dengan nafsu amarah dan lawwamah  sebab jiwanya lebih dekat kepada nafsu hayawaniyah. Al-Qur’an menjelaskan di dalam Surat Al Fajar, 

  


Baca Juga : Strategi Komunikasi Dakwah untuk Penurunan Stunting

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ (٢٧)

ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً (٢٨)

فَادْخُلِي فِي عِبَادِي (٢٩)

وَادْخُلِي جَنَّتِي (٣٠)

  

Yang artinya: “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhan-Mu dengan Ridha dan diridhainya, maka masuklah di dalam hambaku dan masuklah ke dalam surga-Ku”. (Surah Al-Fajr (89), Ayat 27-30)

  

Allah menempatkan fisik sebagai tempat untuk jiwa dan roh kita. Dengan keduanya fisik menjadi hidup. Dengan Roh sebagaimana ditiupkan kepada manusia, maka manusia menjadi hidup dan dengan adanya jiwa maka tubuh menjadi berkeinginan. Manusia berkeinginan makan untuk memenuhi kebutuhan fisiknya. Sebagaimana dijelaskan oleh ahli antropologi, Prof. Parsudi Suparlan, PhD., bahwa manusia memiliki kebutuhan antara lain: kebutuhan biologis, kebutuhan kasih sayang dan kebutuhan integrative. Kebutuhan biologis dipenuhi oleh alam, kebutuhan social dipenuhi dengan saling melakukan komunikasi dengan manusia dan kebutuhan integrative dipenuhi oleh kasih sayang dan ketuhanan. 

  

Jika hal ini dianalisis dengan tiga matra: hablum minallah, hablum minan nas dan hablum alam, maka cocoklah hal ini dengan tiga unsur di dalam diri manusia, yaitu: fisik, jiwa dan roh. Di dalam hablum minallah terdapat relasi dengan Tuhan Allah SWT, di dalam hablum minan nas terdapat relasi antar manusia berbasis kejiwaan dan di dalam hablum minal alam terdapat urusan kebutuhan fisik yang dipenuhi dari alam. 

   

Relasi roh dapat dipenuhi dengan berbagai macam ibadah, seperti shalat, haji, puasa dan  dzikir, membaca kalimat thayyibah dan semua kebaikan yang terkait dengan relasi vertical manusia. Semua ibadah mahdhah dipenuhi dalam relasi hablum minallah untuk kepentingan mengisi kebutuhan roh. Relasi jiwa dapat dipenuhi dengan berbagai relasi social berbasis nilai keagamaan, yang mengandung kebaikan dan yang mengandung kebahagiaan. 

  

Relasi hablum minal alam dapat dipenuhi dengan memanfaatkan alam untuk memenuhi kebutuhan fisik. Ada makanan, minuman dan asupan gizi, asupan nutrisi tetapi dengan catatan harus halalan thayyiban. Tidak boleh sembarangan. Harus sesuai dengan ajaran Islam terkait dengan halal dan haram. Itulah sebabnya Islam begitu menekankan bahwa makanan yang masuk ke dalam tubuh kita harus benar perolehannya, benar prosesnya dan benar produknya sehingga segala hal yang masuk di dalam tubuh kita akan dapat menjadi sumber kebahagiaan.

  

Tetapi ada satu ibadah yang memiliki tiga cakupan sekaligus, yaitu zakat, infaq dan sedekah atau wakaf. Ibadah-ibadah ini memiliki tiga cakupan sekaligus, yaitu menjadi instrument untuk relasi vertical atau memenuhi kebutuhan roh, untuk relasi horizontal atau memenuhi kebutuhan jiwa dan sekaligus untuk memenuhi kebutuhan fisik bagi yang memerlukan. Alangkah indahnya ajaran Islam yang kita cintai ini, karena kesempurnaan ajarannya yang sangat luar biasa.

  

اللّٰهُ أَكْبَرُ، اللّٰهُ أَكْبَرُ، اللّٰهُ أَكْبَرُ، اللّٰهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا أستغفر الله العظيم رَّبِّ ٱغْفِرْ وَٱرْحَمْ وَأَنتَ خَيْرُ ٱلرَّٰحِمِينَ