(Sumber : hajifuroda.id)

Melaksanakan Ibadah Haji: Visa Furoda dan Panggilan Tuhan

Opini

Ada sebuah keyakinan bahwa melaksanakan ibadah haji adalah panggilan Allah. Tidak semata-mata ketercukupan administrasi dan keuangan, tetapi ada dimensi panggilan Allah yang tidak bisa ditolak dan tidak bisa dihindari. Oleh karena itu, berlaku suatu mindset di kalangan umat Islam, jika seseorang sudah memenuhi standart administrasi dan keuangan dan akhirnya tidak berangkat, maka berlaku suatu keyakinan bahwa yang bersangkutan belum dipanggil Allah. 

  

Kalimat ini yang dipastikan akan didengar dari pernyataan-pernyataan orang yang belum bisa berangkat haji karena VISA tidak keluar. Misalnya ungkapan Ruben Onsu, selebritis, yang baru saja menjadi muallaf dan berkeinginan untuk berhaji lewat VISA Furoda,  tetapi akhirnya tidak bisa berangkat. Dengan keikhlasannya yang bersangkutan menyatakan bahwa Allah belum memanggilnya untuk haji tahun ini. Dan ini pula yang kemudian diungkapkan oleh banyak jamaah haji VISA Furoda yang gagal berangkat.

  

Tetapi jika Allah berkehendak,  juga ada keunikan dalam keberangkatan ke tanah Suci Makkah al Mukarramah. Ada  seseorang dari Lybia dengan  nama yang dianggap sebagai kerabat mantan Presiden Lybia, Moammar Ghadafi,  yang tewas oleh tentara Amerika. Namanya adalah Ameer Al Mahdi Mansour  al Ghadafi. Karena namanya ini maka dia dilarang untuk berangkat. Ada kekhawatiran bahwa yang bersangkutan akan membuat kerusuhan. Begitulah kira-kira. Sudah dijelaskan berulang kali bahwa namanya tidak ada sangkut pautnya dengan Moammar Ghadafi, akan tetapi otoritas bandara tetap melarangnya. Petugas Bandara menyatakan: “mungkin ini isarat bahwa anda belum waktunya berangkat. Tetapi Ameer tidak bergeming dan menyatakan: “jika Allah memanggil maka saya akan berangkat.”

  

Namun keanehan terjadi. Pesawat sudah terbang, tiba-tiba balik ke bandara karena ada kerusakan system yang membuatnya harus balik landing. Setelah selesai, lalu take off lagi, tetapi juga akhirnya harus kembali landing. Di depan otoritas bandara, pilot menyatakan bahwa:  “dia tidak akan berangkat tanpa keberangkatan Al Ghadafi.” Otoritas bandara pun mengalah, dan akhirnya pesawat tiba di Arab Saudi dengan selamat. Ini adalah contoh tentang bagaimana Allah memanggil seseorang yang harus berhaji di Ka’baitullah. 

  

VISA Furoda memang tidak diterbitkan oleh Pemerintah Arab Saudi. Akhirnya banyak jamaah haji Indonesia yang akan berangkat ke Arab Saudi gagal. Mereka sudah melengkapi seluruh persyaratan administrasi dan juga keuangan dalam jumlah yang tidak sedikit, bagi yang VISA Furoda regular sekitar Rp250 juta sampai Rp450 juta dan yang VVIP nyaris Rp900 juta. Semuanya gagal dan tidak ada yang berangkat. Dipastikan terdapat kekecewaan yang sangat mendalam. 

  

Cerita haji memang ada yang menyenangkan dan ada yang  menyedihkan. Mereka yang berangkat via pemerintah, Haji regular atau PIHK, tentu adalah cerita kebahagiaan akan tetapi yang gagal berangkat tentu cerita menyedihkan. Belum lagi cerita tentang orang yang dengan keberanian luar biasa menempuh perjalanan haji melalui jalur Visa non haji. Bahkan yang membuat merinding adalah cerita tentang seorang dosen PT di Madura yang tewas di padang pasir Saudi Arabia dalam perjalanan karena harus diturunkan dari taxi yang ketakutan tertangkap otoritas keamanan di Arab Saudi. 

  

Peralihan otoritas penyelenggara haji di Arab Saudi kepada Syarikah yang dipilih pemerintah tentu memiliki sejumlah kontribusi atas kegagalan haji VISA Furoda. Dengan dalih perubahan aplikasi haji dan kenyamanan haji dan penataan penyelenggaraan haji, maka berakibat atas kegagalan sejumlah calon haji Furoda ke tanah suci. Hanya sayangnya, pembatalan itu terasa mendadak. Padahal sebelumnya sudah dinyatakan bahwa haji Furoda adalah haji yang absah dalam regulasi di Arab Saudi, sehingga membuat keyakinan masyarakat yang berkeinginan haji secara cepat semakin menguat. Tetapi pada detik-detik akhir menjelang pelaksanaan haji justru terjadi sebaliknya, pemerintah Arab Saudi membatalkan seluruh calon jamaah haji furoda. 

  

Dalam pengamatan saya, bahwa banyak jamaah calon haji furoda yang harus dikonsentrasikan di Jakarta dan didampingi oleh sejumlah tim untuk mencoba perolehan VISA. Kabar yang beredar bahwa masih ada peluang untuk berhaji dengan VISA mujamalah, dan konon katanya peluang itu ada. Sejumlah agen perjalanan haji menempatkan jamaahnya di hotel-hotel di Jakarta sambil menunggu peluang bisa memberangkatkan calon jamaahnya. Saya kira hal ini adalah upaya luar biasa dari agen perjalanan haji yang tidak mengenal kata menyerah. 

  

Calon jamaah haji tentu juga merasakan betapa perubahan tentang VISA Furoda sedemikian mendadak. Mereka sudah menyiapkan dalam waktu yang lama untuk pemenuhan administrasi dan keuangan, dan peluang tersebut sebagaimana tahun-tahun sebelumnya selalu ada. Hanya saja, bahwa otoritas haji itu di tangan pemerintah Arab Saudi dan siapapun harus menerima keputusan yang pahit sekalipun. Selain itu di antara calon jamaah haji furoda tentu sudah melakukan berbagai upacara social yang lazim dilakukan oleh calon jamaah haji. 

  

Mereka tentu merasakan beratnya beban gagal haji. Kegagalan haji adalah “noda” kehidupan. Tidak hanya uang dalam jumlah besar yang sudah dikeluarkan, akan tetapi juga pandangan social sebagai haji  “gagal” atau tidak mendapatkan panggilan haji. Semua itu bersatu padu dalam diri seseorang yang gagal haji.

  

Namun demikian, masyarakat juga sudah paham bahwa haji itu bukan hanya urusan pemerintah Indonesia akan tetapi juga urusan pemerintah Arab Saudi. Apalagi yang gagal tersebut  semata-mata urusan Pemerintah Saudi Arabia. Rasanya diperlukan upaya untuk membangun literasi bahwa haji memang harus melalui instrument negara, dan pemerintahlah yang memiliki otoritas tentang keberangkatan haji. 

  

Di dalam tulisan saya sebelumnya, saya nyatakan bahwa haji furoda atau haji mujamalah harus memiliki regulasi yang jelas, agar keberangkatannya juga jelas. Namun di atas segalanya, yakinlah bahwa segala sesuatunya sudah ada suratannya. Bukankah tidak ada sesuatu kejadian apapun di dunia ini yang tanpa sepengetahuan Tuhan. Dan semuanya sudah ada takdirnya.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.