(Sumber : Tribunnews.com)

Capek Hidup? Gen Z China Pilih Jadi “Manusia Tikus”

Informasi

Eva Putriya Hasanah

  

Di dunia tengah yang semakin cepat, produktif, dan kompetitif, ternyata tidak semua orang mau ikut dalam perlombaan. Di Tiongkok, muncul satu fenomena unik yang kini viral banget di kalangan Gen Z, yaitu istilah “manusia tikus.” Bukan karena mereka suka keju atau hidup di punya, tapi karena gaya hidup mereka yang mirip tikus, lebih suka menyendiri di ruang gelap, pasif, dan menjauh dari keramaian sosial.

  

Fenomena ini viral setelah seorang perempuan muda asal Zhejiang mengunggah video berisi rutinitas hariannya yang… bisa dibilang, sangat minimalis. Tidur seharian, jarang mandi, tidak bertemu orang, dan hidup dengan energi sekadarnya. Anehnya, bukannya dihujat, video ini justru dapat lebih dari 400.000 likes. Banyak orang terutama Gen Z merasa berhubungan dan merasa, “Lho, ini tuh aku banget!”

  

Dari “Tang Ping” ke “Manusia Tikus”: Evolusi Keletihan Sosial

  

Kalau kamu familiar dengan istilah “tang ping” atau istilah awam, kamu mungkin paham bahwa ini adalah bentuk perlawanan pasif terhadap gaya hidup yang ambisi dan tuntutan berlebihan dari masyarakat. Orang-orang yang memilih “tang ping” biasanya tetap menjalani hidup, tetapi tanpa dorongan untuk mengejar karier, rumah mewah, atau status sosial.

  

Nah , “manusia tikus” ini bisa dibilang versi next level dari itu semua. Kalau “tang ping” masih bangun dan keluar rumah, manusia tikus memilih bersembunyi sepenuhnya dari dunia luar. Mereka tidak hanya berhenti mengejar mimpi, tapi juga menjauh dari interaksi, tanggung jawab sosial, bahkan perawatan diri. Ini bukan sekedar pemalasan; ini pilihan sadar untuk mematikan kehidupan motor.

  

Dipelihara oleh Privilege, Dikritik oleh Generasi Lama

  


Baca Juga : Strategi Komunikasi Dakwah untuk Penurunan Stunting

Yang menarik, banyak dari mereka berasal dari keluarga kelas menengah atau menengah atas. Artinya, mereka punya cukup dukungan finansial untuk bisa bertahan hidup tanpa harus bekerja keras setiap hari. Tapi jangan salah, ini bukan soal malas karena kaya. Ini lebih kepada pilihan untuk menghentikan permainan yang dianggap curang sejak awal.

  

Meski begitu, gaya hidup ini menuai banyak kritik, terutama dari generasi sebelumnya. "Lho, hidup kok gitu banget? Muda-muda malah ngendon di kamar. Nggak mikirin masa depan?" begitu kira-kira komentarnya. Tapi kritik itu sering tidak nyambung, karena mereka yang hidup seperti manusia tikus tidak mengetahui kenyataan, justru mereka sangat sadar bahwa sistem saat ini terlalu berat dan tidak adil.

  

Ketika Kejujuran Lebih Penting Daripada Prestasi

  

Banyak anak muda yang merasa bahwa “kontrak sosial” sudah lama tidak berlaku. Dulu katanya kalau rajin belajar dan kerja keras, bakal sukses. Tapi sekarang? Gelar tinggi belum tentu dapat kerja, kerja pun belum tentu cukup untuk hidup layak. Harga rumah tidak masuk akal, biaya hidup tinggi, tekanan sosial semakin besar, dan persaingan semakin brutal.

  

Dalam kondisi seperti ini, banyak Gen Z yang akhirnya berpikir: “Untuk apa aku terus berjuang kalau hasilnya tetap nggak adil?” Akhirnya, menjadi “manusia tikus” bukan karena putus asa, tapi karena mereka ingin jujur ​​​​pada diri mereka sendiri. Sejujurnya mereka lelah, sistemnya rusak, dan bahwa mereka butuh istirahat dari ekspektasi yang tidak manusiawi.

  

Apakah Ini Sehat? Belum tentu, Tapi Bisa Dipahami

  

Tentu saja, hidup menyendiri di ruangan gelap, jarang mandi, dan menolak interaksi sosial bukan gaya hidup yang sehat dalam jangka panjang. Kesehatan mental bisa memburuk, hubungan sosial terputus, dan semangat hidup bisa hilang.

  

Tapi, penting untuk memahami bahwa fenomena ini bukan sekadar soal kebiasaan buruk. Ini adalah gejala sosial, semacam sinyal dari generasi muda bahwa ada yang tidak beres pada sistem kita. Dan seperti gejala lainnya, yang paling penting bukanlah memarahinya, tapi memahami akar masalahnya.


Baca Juga : MUI, Netizen dan Dakwah Kontroversial

  

Mungkin, inilah saatnya kita bertanya ulang: Apakah ukuran sukses kita terlalu sempit? Apakah kita terlalu keras pada generasi muda? Apakah dunia ini masih menyediakan ruang aman bagi orang yang ingin hidup lebih pelan, lebih tenang, dan lebih manusiawi?

  

Akhirnya, Semua Orang Punya Caranya Sendiri untuk Bertahan

  

Fenomena tikus manusia mungkin terdengar ekstrem. Tapi intinya, ini adalah reaksi terhadap dunia yang terasa terlalu keras dan menekan. Tidak semua orang bisa hidup di tengah ambisi bisingnya. Beberapa orang membutuhkan ruang untuk menepi, diam, dan menyembuhkan diri.

  

Buat kamu yang sedang merasa hidup terlalu berat, menggambarkan bahwa kamu tidak sendirian. Nggak semua orang harus tetap kuat setiap saat. Kadang-kadang, berhenti sejenak adalah bentuk keberanian. Kadang, mengaku lelah adalah langkah pertama untuk sembuh.

  

Dan mungkin, yang kita perlukan bukanlah motivasi untuk lebih semangat, tapi empati. Untuk saling memahami, bukan saling menuntut.