In Memoriam Dr. Suryadharma Ali: Konsistensi dan Komitmen (Bagian Satu)
KhazanahSaya membuka WAG, Asosiasi Dosen Pergerakan (ADP), yang merupakan WAG para sahabat yang tergabung dengan para dosen yang di masa lalunya menjadi aktivis PMII. Mereka tergabung dalam WAG ADP, baik yang berada di dalam jajaran Majelis Pakar dan para pengurus ADP Pusat. Saya selalu baca pesan-pesan pendek di WAG. Terkadang saya baca selintas dan terkadang saya cermati. Saya jarang memberikan komentar atas perbincangan di dalamnya. Hanya sesekali saya mengirim artikel yang terkait dengan opini atau komentar saya tentang situasi kekinian atau informasi akademik.
Pagi ini, 31/07/2025, mata saya tertuju pada pemberitaan tentang informasi duka. Maka saya terus tarik ke atas, siapa yang wafat, siapa yang berduka. Dan saya menjadi terkejut membaca pesan duka tentang wafatnya orang yang sangat saya kenal, orang yang begitu penting dan berjasa dalam kehidupan saya dan umat Islam pada umumnya. Beliau adalah DR (HC). Suryadharma Ali, Menteri Agama yang menjadi washilah dalam takdir saya untuk berkarir di Jakarta. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.
Saya lalu telpon istri saya memberitahu bahwa Pak Suryadharma Ali wafat. Lalu saya kontak Mas Farid Wajdi, salah seorang Direktur di Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) untuk mengabarkan tentang wafatnya Pak Surya. Mas Farid juga sangat terkejut, karena sepagian belum membuka WAG. Mas Farid dalam perjalanan ke Bojonegoro untuk acara jaminan halal. Saya putuskan hari ini saya harus ke Jakarta, untuk melayat.
Saya merupakan orang yang sangat bahagia bisa membantu Pak Surya pada saat Beliau menjadi Menteri Agama RI. Saya diangkat menjadi Direktur Jenderal Pendidikan Islam atas usulan Beliau ke Presiden, Bapak Soesilo Bambang Yudhoyono, dan dilantik pada tanggal 17 Januari 2012. Pengangkatan jabatan pada zaman saya tidak melalui proses yang panjang dan rumit seperti sekarang. Menteri mengusulkan kepada Presiden kemudian disidangkan di Tim Penilai Akhir (TPA), dan jika disetujui, lalu diangkat melalui Surat Keputusan Presiden sebagai pejabat eselon I. Jadilah saya bekerja di Kementerian Agama Pusat untuk menjalani sebagai birokrat. Sebagai staf Beliau, tentu kami banyak mendiskusikan masalah-masalah Pendidikan Islam di Indonesia, tidak hanya Pendidikan Tinggi Islam, akan tetapi juga madrasah dan pesantren. Sebagai Dirjen Pendis, maka memiliki kewenangan untuk mengatur pendidikan tinggi Islam, madrasah, pesantren dan bahkan pendidikan agama Islam di sekolah umum.
Saya biasa memanggilnya dengan sebutan Pak Menteri. Tentu pada waktu Beliau bertugas sebagai Menteri Agama (Menag). Ketika Beliau sudah purna dari jabatan Menag, maka saya memanggilnya dengan sebutan Pak Surya. Itulah sebabnya di dalam tulisan ini digunakan sebutan Pak Surya. Bagi saya Pak Surya adalah teladan atas konsistensinya. Beliau orang yang teguh dalam pandangannya tentang sesuatu yang dianggapnya benar dan apa yang tidak dilakukannya. Beliau akan mempertahankan pendapat itu sampai titik darah yang penghabisan. Itulah yang diperjuangkannya meskipun akibat yang dialaminya menjadi sangat menyiksa. Bahkan komitmen itu teguh dipertahankannya sampai ke liang lahat. Andaikan ditanya Malaikat Mungkar dan Nakir tentang apa yang dilakukannya, maka satu jawaban pasti bahwa Pak Surya akan tetap menyatakan hal yang sama, pendapat yang konsisten.
Pak Surya merupakan sosok yang teguh dalam pendirian. Beliau memiliki komitmen yang sangat tinggi tentang jabatan. Tidak pernah mengangkat orang yang tidak diketahui kejelasannya. Meskipun ditekan oleh siapa saja, termasuk para kiai atau ulama, jika di dalam pandangan mata batinnya tidak sesuai, maka tekanan tersebut akan diabaikannya. Beliau juga tidak dapat diintervensi oleh partainya, PPP. Jika dirasakan bahwa ada seseorang yang akan diangkat dengan kapasitas jabatan yang dianggapnya tidak tepat, maka Beliau akan mengangkat yang lebih bersesuaian dengan pikirannya.
Pak Surya adalah pecinta Al-Qur’an. Tidak hanya membaca dan memahaminya, akan tetapi juga menghafalnya. Separuh lebih juz di dalam Al-Qur’an yang dihafalnya. Kalau tidak salah ada sebanyak 17 juz. Jika Beliau bepergian dalam jangka panjang di dalam pesawat, misalnya perjalanan ke Maroko, yang saya pernah menemaninya, maka digunakan waktu itu untuk membaca Al-Qur’an. Ketika yang lain tidur, sementara Beliau membaca Al-Qur’an. Itulah cara merawat hafalan Qur’annya. Suatu ketika Beliau kunjungan ke Pesantren Az Zaitun, dan diminta untuk menjadi imam, maka dilantunkannya hafalan Al-Qur’an yang dikuasainya. Beliau memang benar-benar penghafal Al-Qur’an. Bukan juz 30, sebagaimana lainnya, akan tetapi bacaan dalam surat-surat panjang yang sangat dihafalnya.
Pak Surya adalah pribadi yang dapat menjadi contoh. Dikunjunginya pesantren, madrasah, Lembaga Pendidikan Tinggi, Kanwil Kemenag dan Kankemenag dan juga organisasi-organisasi social keagamaan. Beliau sangat konsisten dengan jadwal yang sudah disepakatinya. Andaikan kemudian ada benturan waktu dengan Rapat Kabinet Terbatas atau Rapat Kabinet Paripurna, maka dipastikan ada yang bisa mewakilinya. Saya pernah diminta untuk mewakilinya pada saat saya sedang berada di STAIN Ternate dan juga Kanwil Kemenag di Maluku Utara. Untung harinya tidak bersamaan tetapi berurutan. Maka dari Ternate langsung ke Aceh untuk menghadiri acara peringatan hari lahir Dayah Jeumala Amal di Aceh, 12/01/2013 (Nur Syam, Dari Bilik Birokrasi, 2014). Sungguh sebuah perjalanan panjang. Apapun kegiatan yang saya lakukan, jika Menteri memanggil atau harus mewakilinya, maka saya harus berangkat. Itulah etika birokrasi.
Pak Surya adalah pemimpin yang paripurna sebab berbasis pada pengalaman panjang dalam menapaki jabatannya. Beliau bukan aktivis kaleng-kaleng. Tetapi telah malang melintang di dalam dunia organisasi, baik organisasi social kemahasiswaan maupun organisasi politik, lalu jabatan birokrasi sebagai Menteri. Beliau pernah menjabat sebagai Ketua Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Indonesia (PB PMII) tahun 1985-1988, Ketua Umum Partai Pesatuan Pembangunan (PPP) 2009-2014, Menteri Koperasi 2004-2009 dan Menteri Agama 2009-2014.
Saya merupakan salah satu dari sekian banyak orang yang menyaksikan betapa kejujuran, komitmen dan konsistensinya dalam membangun Kementerian Agama. Mungkin ada orang yang tidak setuju dengan saya, tetapi saya adalah orang yang pernah membersamainya dalam rentang waktu yang panjang, empat tahun. Dari saya diangkat menjadi Dirjen Pendidikan Islam sampai menjadi Sekretaris Jenderal Kementerian Agama.
Suatu pagi, saya menghadap Beliau karena ada informasi yang beredar di media sosial. Lalu Beliau menyampaikan dengan kata hatinya: “saya heran Pak Nur Syam, begitu banyak orang yang memfitnah saya. Saya tidak tahu siapa kawan dan siapa lawan. Hari jumat pada waktu haji, saya mengajak para ulama untuk jamuan makan siang, dan jam 15.00 WAS sudah beredar kabar melalui SMS beranting, bahwa Menag menjamu makan para ulama dengan dana haji. Lalu di tenda saya juga terdapat tulisan sebanyak 27 orang yang menjadi pengikut Menag pada waktu haji. Beredar kabar bahwa mereka dibiayai oleh dana haji. Padahal mereka itu berangkat dengan biaya sendiri. Masyaallah.\"
Saya terdiam. Saya merasa betapa beratnya problem yang dihadapinya. Sesuatu yang sungguh-sungguh di luar nalar dan akalnya. Saya yakin kepergiannya untuk menghadap Ilahi rabbi akan menjadi saksi, bahwa Beliau adalah orang baik. Kebaikan yang dirasakan oleh banyak orang. Lahu al fatihah….
Wallahu a’lam bi al shawab.

