In Memoriam Prihananto: Dosen Ilmu Komunikasi yang Andal
KhazanahProf. Dr. Nur Syam, MSi
Cak Pri, begitulah saya memanggil Drs. Prihananto, MA. Cak Pri sudah saya kenal lama sekali semenjak mahasiswa. Saya lupa tahunnya, tetapi saya masih mengingat Cak Pri ini memiliki tulisan yang sangat bagus, jelas dan terukur dalam menjawab soal-soal yang dihadapinya. Bagus tulisannya, jelas jawabannya dan analisis atas soal ujian yang luar biasa. Makanya, sangat pantas kalau kemudian Cak Pri menjadi dosen pada Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel (kini UIN Sunan Ampel). Cak Pri adalah dosen di Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI).
Cak Pri adalah mahasiswa yang pintar, makanya sangat pantas jika kelak ketika menjadi dosen juga sangat menguasai bidang studi yang ditekuninya. Penguasaan teori dan metodologi ilmu komunikasinya sangat baik, dan yang penting tidak ketinggalan dengan perkembangan-perkembangan baru di bidang ilmu ini. Tulisannya di Jurnal Komunikasi Islam (JKI) tentang Dakwah dalam Perspektif Teori Gadamer” sangat mendalam dan jelas, bagaimana menerapkan teori Gadamer untuk studi dakwah.
Saya rasa Prodi KPI sangat kehilangan dengan kewafatannya pada Kamis, 22/08/2024. Saya juga sangat kehilangan, sebab sebulan terakhir, saya menggagas untuk mendirikan suatu komunitas “Tuban Bumi Wali”, sebagaimana ide dan gagasan Pak Fathul Huda, mantan Bupati Tuban, yang berkeinginan menjadikan Tuban sebagai Bumi Wali selain Tuban sebagai Bumi Ronggolawe. Saya ingat betul Cak Pri, saya kirimi pesan untuk kepentingan tersebut. Waktu itu saya pikir Cak Pri akan bisa menjadi sekretaris komunitas ini. Tetapi takdir berkata lain, Cak Pri harus menghadap ke hadirat-Nya beberapa hari yang lalu.
Kala ramai di WAG Humas Dakwah tentang Cak Pri sakit, saya memang sengaja tidak mengirim pesan di WAG tersebut, tetapi saya japri. Saya tanyakan tentang sakitnya, dan dijawabnya mohon doa agar segera sembuh. Pesan itu saya kirim, Senin, 19/08/2024. Sama sekali tidak ada firasat bahwa Cak Pri akan mendahului kita semua. Makanya kala pagi hari, terdapat informasi Cak Pri meninggal dunia, maka saya tanyakan kepada sumber asli yang mengirimkan info di WAG Penelitian Wali. Cak Chabib membenarkan informasi dimaksud. Lalu saya kabarkan kepada beberapa orang dosen yang ketepatan bertemu, Cak Pardi dan Cak Anshori dan beberapa yang lain, bahwa Cak Pri memang sudah wafat. Ramailah WAG Humas Dakwah dengan ucapan bela sungkawa.
Saya tahu betul kapasitas Cak Pri dalam dunia akademis. Pada waktu nursyamcentre.com mendapatkan tugas dari Pak Fathul Huda, Bupati Tuban kala itu, untuk melakukan penelitian tentang para wali di tlatah Tuban, maka salah satu anggota tim andalannya adalah Cak Pri. Penelitian tentang para wali ini untuk melanjutkan penelitian sebelumnya tentang “Tuban Bumi Wali: The Spirit of Harmony”. Penelitian terdahulu sudah mengidentifikasi sebanyak 30 wali di wilayah Tuban. Lalu penelitian yang diselenggarakan oleh tim NSC bekerja sama dengan Institut Agama Islam NU (IAINU) berhasil mengindentifikasi sebanyak 70 wali di seluruh wilayah Tuban. Di Tuban terdapat sebanyak 193 wali yang tersebar, maka berarti tinggal 93 wali lagi yang dapat diteliti.
Berdasar atas rekaman jejak para wali tersebut, maka dapat diketahui bahwa nyaris di seluruh pedesaan di wilayah Tuban terdapat para penyebar Islam generasi kedua hingga keempat Islamisasi di Tuban. Pada abad ke 14 hingga abad ke 17, di Tuban sudah ramai dengan kiprah para waliyullah, penyebar Islam di tanah Jawa. Kita dapat memahami bahwa pada abad tersebut sudah terdapat komunitas pengajian dan dakwah yang secara terstruktur dilakukan oleh para waliyullah.
Cak Pri memiliki peran yang sangat penting di dalam kajian tersebut. Meskipun jumlah penelitinya cukup banyak, akan tetapi Pak Pri yang menyumbangkan banyak artikel tentang wali yang dapat dikaji, terutama di wilayah Plumpang, Rengel, dan Soko. Makam Pangeran Ngudung, dan keturunan Pangeran Benowo di wilayah Tuban dapat diidentifikasi. Tidak kurang dari 30 makam wali yang dapat diteliti. Sebagai coordinator penelitian, saya tentu sangat mengapresiasi atas peran Cak Pri dalam penelitian dimaksud.
Cak Pri adalah tipe dosen yang sangat serius. Jika diserahi tugas untuk melakukan penulisan ilmiah pasti dikerjakannya dengan sangat serius. Pun begitu kala Prof. Abdul Halim, Dekan FDK, menuliskan tentang Sejarah Sunan Ampel, maka Cak Pri yang menjadi andalannya. Tanpa mengecualikan peran para dosen lainnya di dalam tim, akan tetapi peran Cak Pri ternyata memang lebih dominan.
Tulisannya banyak tersebar di dalam buku, dan artikel di jurnal. Di antara tulisannya adalah di Journal of Indonesian Islam, Vo. 15, No. 1 (2021) berjudul “Religious Identity Transformation: Cultural Interbreeding Between Dayak Indegenius Culture and Islam” artikel ini ditulis bersama dengan Abd. Halim dan Abdul Basid. Kemudian juga artikel Participant Obeservation dan Personal Document dalam Penelitian Kualitatif BKI” dalam Jurnal Bimbingan Konseling Islam 2 (1) 2012, Hermeunetika Gadamer sebagai Teknik Analisis Pesan dakwah” dalam Jurnal Komunikasi Islam, 4 (1) 2014, dan lainnya.
Meskipun Cak Pri mengajar di UIN Sunan Ampel Surabaya, akan tetapi kecintaanya terhadap tanah kelahirannya sungguh besar. Hal tersebut dibuktikan dengan tetap hidup di Desa Sanding Rowo, Kecamatan Soko, Kabupaten Tuban. Cak Pri kerap mengisi acara-acara di kecamatannya, terutama di kalangan warga NU, seperti Muslimat, Fatayat dan NU di Anak Cabang Soko. Hal ini ini sangat wajar karena Cak Pri memiliki dua kemampuan sekaligus, yaitu penutur yang baik dan penulis yang bagus.
Cak Pri lahir pada 30 Desember 1968 dan wafat pada 22 Agustus 2024. Konon katanya menderita deman berdarah dan dirawat di Rumah Sakit Aisiyah Bojonegoro. Kita semua tidak menduga bahwa nyamuk Aides Aegypti itu yang mengakhiri kehidupan Cak Pri. Semua memang takdir Allah SWT dan kita semua harus pasrah kepada-Nya.
Selamat jalan Cak Pri, saya yakin sampeyan adalah orang yang baik dan dipastikan khusnul khatimah. Pastilah kiranya sampeyan menjadi bagian barisan ahli surga. Lahu al fatihah…
Wallahu a’lam bi al shawab.

