(Sumber : www.nursyamcentre.com)

Istiqamah Dalam Kebaikan

Khazanah

Istiqamah merupakan Bahasa Arab yang sudah menjadi kata serapan dalam Bahasa Indonesia, sehingga banyak orang Indonesia yang sudah memahami tentang makna istiqamah tersebut. Secara bahasa, istiqamah berarti tegak, lurus, konsisten, teguh, tetap, dan kuat sedangkan dalam pengertian terminologis bahwa istiqamah merupakan pemikiran, sikap atau tindakan yang kuat, lurus, konsisten, teguh dan tetap untuk kebaikan. Orang yang istiqamah merupakan orang yang secara terus menerus atau konsisten dalam satu pemahaman, sikap dan tindakan untuk  menjalankan kebaikan dan sedapat-dapatnya menyebarkannya di kalangan orang lain, komunitas atau masyarakat. 

  

Orang yang istiqamah merupakan orang yang teguh pendirian, maknanya adalah orang yang berada di dalam posisi terus berbuat kebaikan di manapun yang bersangkutan berada. Meskipun berada di dalam lingkungan yang bagi orang lain tidak memungkinkan untuk melakukan kebaikan,  akan tetapi orang yang istiqamah akan tetap melakukan kebaikan tersebut secara optimal. 

  

Dewasa ini, manusia sedang hidup di era yang terbuka. Apapun ada. Hidup ini seperti di dalam mall, yang semua produk serba ada. Manusia tinggal memilih mana yang sesuai dengan kebutuhan dan seleranya. Dunia manusia sekarang seperti sedang berada di area yang semua pilihan sudah disediakan dan manusia tinggal memilih yang sesuai selera dan kebutuhan dengan mempertimbangkan kebaikan atau moralitas atau tanpa mempertimbangkannya. Manusia dikaruniai perilaku memilih atau rational choice, sehingga dengan kemampuan akalnya manusia bisa memilih yang terbaik bagi dirinya. Adakah hanya dengan akal saja manusia harus memilih? Pada manusia sekuler mungkin bisa. Akal terkadang hanya mempertimbangkan untung rugi dan tidak dalam hal manfaat dan kemaslahatan. 

    

Di dalam konsepsi Islam, maka selain terdapat pilihan rasional juga pilihan spiritual, bahwa semua pilihan harus dikembalikan kepada rujukan maslahah,  baik untuk diri sendiri maupun masyarakatnya. Dengan menggunakan pilihan spiritual tersebut, maka orang yang untung secara material saja bukan  dianggap sebagai pilihan terbaik, akan tetapi juga mengandung kebaikan dan kemanfaatan bagi orang lain atau masyarakat. Oleh karena itu, manusia harus menggunakan pilihan rasional dan sekaligus juga pilihan spiritual.

  

Di tengah gelegak kehidupan materialistik yang semakin mencengkeram, maka prinsip ajaran di dalam dunia tasawuf, yaitu uzlah bisa menjadi solusi bagi manusia yang ingin beristiqamah, yaitu menyendiri dalam melakukan kebaikan. Jika di masa lalu uzlah diartikan sebagai menyendiri di tempat sepi untuk beribadah, maka sekarang tentu tidak bisa seperti itu. Maka yang mungkin adalah menyendiri dalam keramain dengan tetap istiqamah untuk melakukan kebaikan. Manusia harus bisa membedakan tindakannya agar tidak larut dalam lingkungan yang tidak baik. 

  

Islam sebagai agama yang mengedepankan amal shaleh, tentu memiliki basis ajaran yang terkait dengan kebaikan dan menetapkan kebaikan tersebut dengan istiqamah. Di dalam sebuah Hadits, Nabi menyatakan: “Qul amantu billahi, tsummastaqim”, yang artinya: “Katakanlah, aku beriman kepada Allah dan tetaplah berada di jalannya”. (Hadits Riwayat Imam Muslim). Iman kepada Allah SWT merupakan basis semua pemahaman, sikap dan tindakan manusia. Islam mengajarkan bahwa iman menjadi fondasi bagi system peribadahan dan akhlak. Dengan kata lain, Iman adalah fondasinya, sedangkan ibadah dan akhlak adalah performannya atau tampilannya. Buah iman adalah ibadah dan akhlak.

  

Istiqamah bukanlah tindakan instan akan tetapi melalui proses pembiasaan dan ketekunan atau kepastian. Oleh karena itu, ada beberapa upaya yang dapat dilakukan, yaitu: pertama, memastikan bahwa apa saja yang dilakukan manusia selalu dalam pantauan Allah SWT melalui perangkat yang sudah disiapkan oleh-Nya. Allah SWT sudah menyiapkan aturan atau pedoman yang mengatur perilaku manusia dengan tuntunan yang jelas. Makanya, manusia diharuskan untuk berkelakuan sebagaimana pedoman tersebut. Hal ini sesuai dengan keyakinan bahwa Allah SWT mengetahui, memantau dan menguasai terhadap apa saja yang menjadi ciptaan-Nya. 

  

Kedua, manusia harus berusaha untuk berbuat baik. Meskipun takdir sudah ditentukan, tetapi manusia memiliki kewenangan untuk memilih mana yang terbaik di dalam tindakannya. Pedoman sudah diberikan, sehingga dengan pedoman tersebut manusia tentu harus terus berupaya agar perilakunya relevan dengan pedoman tersebut. Manusia dengan konsep pilihan rasional dan pilihan spiritual dapat memilih yang terbaik bagi dirinya dan bahkan yang terbaik bagi komunitas atau masyarakatnya. 

    

Ketiga, manusia harus berupaya untuk kuat menghadapi godaan atau gangguan yang akan menggelincirkannya di dalam jurang kehidupan yang jelek. Harus dipahami bahwa tekanan lingkungan itu sedemikian kuatnya, sehingga jika tidak memiliki ketahanan mental yang baik, maka akan bisa terjerumus ke dalam perilaku jelek yang tidak diharapkan. Manusia memang tidak bisa melepaskan diri dari lingkungan,  akan tetapi manusia juga memiliki pertahanan diri untuk tetap berada di dalam kebaikan.

  

Keempat,  manusia memiliki hati nurani yang selalu akan menyuarakan kebaikan dan kebenaran. Sejahat-jahat manusia, maka di saat berada di dalam kesendirian dan perenungan tentang akan ke mana setelah kehidupan di dunia,  maka akan datang kepadanya pernyataan hati nurani yang jujur dan benar. Hati nurani ini yang sering kali kalah dalam perdebatan kejiwaan karena kuatnya tekanan lingkungan. Jiwa yang sebenarnya netral akan bisa digeser kepada kebaikan atau keburukan tergantung pada nafsu mana yang lebih kuat. Manusia akan bisa menjadi golongan orang yang jiwanya mutmainnah atau amarah dan lawwamah tergantung dari kecenderungan nafsunya.

  

Kelima, manusia harus membiasakan diri untuk mendengarkan kata hatinya agar bisa istiqamah dalam kebaikan. Sekali lagi bahwa untuk terus berbuat kebaikan akan sangat tergantung kepada bagaimana kita memanej kalbu kita agar kita akan bisa tegar, kuat, teguh, dan konsisten dalam melakukan kebiasaan baik. Istiqamah bukan pemberian. Istiqamah adalah capaian. Maka usaha manusia untuk mencapainya menjadi sangat penting.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.