Kiai Anggot Penyebar Islam Di Tuban
KhazanahPendahuluan
Nama penyebar Islam di Sugihan ini terasa aneh. Nama yang rasanya tidak berkhas Jawa apalagi khas Arab atau Timur Tengah. Tetapi begitulah masyarakat lokal di Desa Sugihan menyebutnya dan menjadi salah satu kebanggaan warga desa karena di desanya terdapat penyebar Islam di masa lalu. Seirama dengan keinginan untuk melestarikan para penyebar Islam di masa lalu, maka makam Kiai Anggot juga direnovasi. Upaya untuk merenovasi makam Auliya ini tentu saja disebabkan oleh keinginan Bupati Tuban, KH. Fathul Huda, untuk menjadikan Tuban sebagai Bumi Wali. Menurut program KH. Fathul Huda digambarkan sebagai “Tuban Bumi Wali, The Spirit of Harmony”.
Makam ini dipugar dua tahun terakhir. Yang semula hanya ada maesan dan tanah pekuburan saja, kemudian dibenahi dengan membangun kijing dan patok baru, serta memasang keramik tanah di sekitar makam. Struktur bangunannya seperti lubang, dan pada saat diobservasi nisan aslinya terletak di dalam lubang makam tersebut. Jarak antar nisan kira-kira 150 cm. Nisan yang baru berwarna hijau dan pelataran makam berwarna putih dengan lantai keramik. Kelihatannya akan dibangun cungkup sebab dari struktur bangunan menunjukkan ada rencana membuat pilar di empat sisi bangunan. Pelataran ini cukup digunakan untuk 30 orang secara melingkar. Jadi bisa digunakan untuk tahlilan bagi peziarah yang menginginkan membaca tahlil atau membaca Surah Yasin.
Di makam Desa Sugihan juga dilakukan acara manganan kuburan dan sekaligus Khaul Kiai Anggot. Inti dari manganan kuburan adalah untuk tahlilan dan yasinan yang diperuntukkan bagi para leluhur yang sudah wafat dan juga kerabat yang sudah meninggal. Kegiatan sedekahan ini dilakukan setelah melakukan sedekah bumi di Sumur Mbah Mutamakin, yang jatuh pada hari Kamis Legi setiap tahun. Dan penyelenggaraan khaul di Makam Sugihan adalah Hari Senin Kliwon setiap tahun. Acara ini dihadiri oleh warga desa dengan membawa makanan sekedarnya, dan juga melakukan bacaan tahlil dan yasin. Acara ini dipimpin oleh Modin Desa atau Kepala Urusan Kesejahteraan Masyarakat (Kaur Kesra) di desa ini.
Melacak Jejak Kiai Anggot
Saya bersyukur, sebab ketika melakukan observasi terhadap makam Kiai Anggot diantar oleh seorang pemuda namanya M. Rondhianur Arifin yang biasa dipanggil Arif, pemuda asli Sugihan yang sekarang menetap di Dusun Banaran, Desa Sembungrejo, Merakurak. Sebuah pertemuan yang tidak sengaja. Ketika saya dan Lik Samuri melakukan ziarah di Makam Mbah Tongli, maka Mas Arif datang ke makam ini juga. Dan ketika saya utarakan kalau saya akan ziarah ke makam Mbah Anggot, maka dengan sukarela Mas Arif mengantarkannya dan bahkan juga menjemput pengelola makam di Desa Sugihan, Pak Arif Sugiyanto. Mas Arif menyatakan: “Saya tadi pagi baru saja nyekar di makam Mbah saya dan juga ziarah ke makam Mbah Anggot. Makam Mbah saya berdekatan dengan Makam Mbah Anggot”.
Secara sengaja saya memang meminta kepada Pak Arif untuk membuka selubung atau kain pembungkus nisan untuk memastikan apakah terdapat tanda-tanda khusus, sebagaimana makam Mbah Boqa Baqi atau makam para Auliya lainnya. Dibukanya kain berwarna putih yang lusuh karena terkena hujan. Sebuah maesan yang berkerak karena sudah sangat lama. Batu nisan ini kelihatan masih asli. Ukurannya berbeda dengan batu nisan pada umumnya. Oleh Pak Arif, nisan atau maesan tersebut dibersihkan, namun tidak terdapat tanda-tanda khusus apapun. Memang hanya batu nisan saja.
Sebagaimana makam para Auliya lainnya, seperti di Makam Mbah Boqa Baqi, maka makam Kiai Anggot tidak membujur ke utara, sebagaimana makam lainnya. Makamnya sangat menyerong ke barat laut. Jadi sangat berbeda posisinya. Bahkan saya sempat terpikir: “Jangan-jangan yang benar adalah makam Kiai Anggot, tidak seperti makam-makam lainnya”. Menurut Pak Arif, sebagaimana kesaksian masyarakat di desa ini bahwa makam Mbah Anggot ini bisa berpindah posisi. Terkadang sangat serong dan terkadang tidak terlalu. Pak Arif menyatakan: “Keanehan dari makam Mbah Anggot adalah bisa pindah posisi”.
Baca Juga : Kajian Islamic Studies: Dimensi Religiositas
Berdasarkan beberapa buku tentang Tuban, maka nama Mbah Anggot adalah Kiai Abdullah. Nama Abdullah adalah nama yang sangat disukai di dalam tradisi Islam, sehingga di masa lalu nama ini bisa menjadi nama yang popular. Ada beberapa versi, yaitu Mbah Kopi Anggot/Kiai Sholeh bin Kiai Muhammad Thohir (versi Tuban Bumi Wali) dan ada versi Silsilah Syekh Sluke Muhammad al Hadi, Pangeran Dalem Pasatan, Kiai Pak Nggut Ilyas Abdullah, Kiai Gajah Berguto Muhammad Thohir. (silsilah versi Gus Asif, Gemuntur Senori Merakurak). Jadi kiranya terdapat relasi antara Syekh Muhammad Al Hadi dan Pangeran Dalem Pasatan dan Kiai Anggot dan Kiai Gajah Berguto. Artinya bahwa antara makam di Dusun Tengger, Kecamatan Kerek, dengan makam di Desa Senori, Kecamatan Merakurak dan Desa Sugihan Kecamatan Meraurak terdapat ikatan genealogis.
Sebagaimana dipahami bahwa makam itu bisa memiliki makna ganda. Bisa merupakan makam sebagai tempat penguburan jenazah, bisa juga berupa tempat mengajar dan bisa juga sebagai tempat untuk riyadhoh. Oleh karena itu, jika kemudian terdapat dua versi makam Kiai Anggot/Pak Nggut/Kiai Ilyas Abdullah tentu bukanlah hal yang aneh. Hanya saja, apakah jenazahnya itu dimakamkan di Desa Sugihan atau Dusun Tengger inilah yang tentu tidak bisa dijawab secara memadai. Hal ini sama dengan makam Sunan Bonang yang diyakini berada di empat tempat, yaitu di Tuban, di Bancar, di Madura dan di Bawean.
Analisis awal
Jika dinyatakan Tuban sebagai Bumi Wali, rasanya tidak berlebihan. Nyaris di seluruh desa-desa di Tuban memiliki makam-makam “keramat” yang dinisbahkan dengan para Waliyullah, yang kiranya memiliki jalur genealogi sampai Nabi Muhammad SAW melalui jalur Sayyidatina Fatimah Binti Sayyidina Muhammad SAW. Meskipun diperlukan pengecekan secara historis tentang validitas dan reliabilitas datanya, namun berbagai versi tentang silsilah ini telah berkontribusi untuk menyibak benang kusut tentang jejak para waliyullah di telatah Tuban, khususnya di Merakurak.
Para Waliyullah itu memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh manusia pada umumnya. Misalnya adalah kekuatan adikodrati yang diyakini oleh para pengagumnya. Misalnya letak atau posisi kuburan yang berbeda atau keyakinan bahwa posisi tersebut berpindah-pindah arahnya. Lalu, makam tersebut masih bermanfaat bagi manusia yang masih hidup sebagai sumber ekonomi, kebudayaan dan relasi sosial lainnya. Semua ini menggambarkan bahwa para waliyullah memang diberikan keberkahan oleh Allah SWT di dalam kehidupannya bahkan setelah kewafatannya.
Kata Anggot bisa dikaitkan dengan kata Nggut, atau Anggot atau Enggot atau Egot. Kata Nggut bisa merupakan kependekan kata Janggut atau dagu, sedangkan kata egot dikaitkan dengan kerja keras. Di dalam Bahasa Jawa pekerja keras dinyatakan sebagai wong egot. Kata Pak Nggot dikaitkan dengan kependekan dari kata Jenggot. Di dalam Bahasa Jawa orang bercambang atau berjenggot disebut wong jenggotan. Jadi bisa jadi Kiai Ilyas Abdullah ini adalah seorang ulama yang berjenggot atau bercambang yang merupakan tradisi di kalangan ulama-ulama Islam. Dengan demikian bisa diartikan bahwa Beliau adalah orang yang berjenggot dan pekerja keras dalam menyebarkan Islam.
Berdasarkan bukti silsilah ternyata bahwa para Auliya ini memang berkerabat, artinya terdapat relasi kekerabatan antara satu dengan lainnya. Para Waliyullah merupakan generasi berikutnya yang menyebarkan Islam di wilayah lainnya. Mereka menyebar di desa-desa lainnya dengan mendirikan tempat pengajian atau tempat riyadhoh. Dan para wali ini juga tidak menetap di suatu tempat tetapi berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Dan para generasi penerus wali sebelumnya juga memanfaatkan penyebaran Islam dengan basis tasawuf yang relevan dengan tradisi masyarakat local. Mereka tidak menyebarkan Islam dengan cara memusuhi keyakinan lokal akan tetapi dengan memasukinya dan mengubahnya dari dalam.
Dengan masih diselenggarakannya upacara-upacara Islam lokal yang terus bertahan hingga sekarang tentu menjadi bukti bahwa Islam sedari awal memang disebarkan dengan cara-cara yang berbasis Islam moderat atau Islam yang saling berkontribusi dengan tradisi lokal dan pada akhirnya membentuk tradisi Islam lokal.
Wallahu a’lam bi al shawab.

