(Sumber : www.nursyamcentre)

Tradisi Sedekah Bumi

Khazanah

Beberapa saat yang lalu, saya sudah menulis tentang Sumur Mbah Mutamakin di Desa Pongpongan, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban. Di dalam tulisan itu saya sebutkan hanya ada enam sumur saja, ternyata akhirnya saya ketahui bahwa Sumur yang dibuat oleh Mbah Mutamakin bukan hanya enam akan tetapi sebanyak tujuh buah, yaitu sumur di Pongpongan, Sumur di Temandang, dua sumur di Senori, sumur di Telogowaru, sumur di Sugihan dan Tobo. 

  

Sebagaimana yang saya ceritakan ketika saya membahas sumur Mbah Mutamakin di Pongpongan, maka ciri-ciri sumur ini nyaris sama yaitu dinding bagian dalam sumur itu tidak rata, bebatuan cadas yang menonjol di sana-sini, dan airnya jernih dan dingin atau dalam Bahasa masyarakat lokal dinyatakan “Adem”. Kata “Adem” itu bulan dingin tetapi menyegarkan. Rasanya “Segar” menurut orang kampung ini. Sumur Mbah Mutamakin di Pongpongan direnovasi tahun 1970-an dan balok-balok kayu jati di atas sumur itu dihilanglan diganti dengan tembok. Demikian pula, tempat pemandian yang dahulu  juga terbuat dari kayu jati juga dihilangkan. Tentu saja artefak semacam ini tidak lagi dijumpai dan merupakan kerugian dari aspek peninggalan sejarah.

  

Sumur Mbah Mutamakin di Sugihan ini juga sudah direnovasi dindingnya tahun 2000 yang lalu. Hanya saja berbeda, sebab balok kayu di atas sumur masih dilestarikan. Balok itu digunakan untuk sarana mengambil air dari dalam sumur dengan menggunakan tampar dan timba. Ada roda kecil (kerekan) yang dijadikan sebagai pengikat tampar dan timba sehingga air bisa dinaikkan dari bawah atau dalam sumur ke luar. Kayu ini sudah dimakan rayap, akan tetapi masih tampak kokoh. Rupanya kayu  yang dipakai merupakan kayu jati yang sangat tua sehingga tidak mudah dihancurkan oleh rayap. 

  

Sumur Mbah Mutamakin di desa Sugihan terletak di sebelah utara Desa Sugihan. Tempat yang sangat rindang dengan pohon beringin dan pohon randu. Usia pohon-pohon ini sudah sangat tua, mungkin bahkan sudah ada sebelum saya lahir. Sama dengan sumur Mbah Mutamakin lainnya, juga terdapat pohon ringin di sampingnya. Tempatnya lebih tinggi dibandingkan dengan dataran sekitar. Kira-kira satu setengah meter dari dataran di sebelahnya. Menurut penuturan Pak Arif Sugiyanto, pengurus Makam Desa Sugihan, bahwa di tempat ini terdapat batu yang kalau dibuka akan mengeluarkan cairan berwarna hitam atau orang di sini menyatakan sebagai “wenter” atau pewarna untuk kain putih agar menjadi hitam. Batu tersebut terletak di sebelah barat sumur. 

  

Upacara manganan  atau  sedekah bumi tetap dilestarikan di tempat ini. Sebagaimana di sumur Mbah Mutamakin lainnya juga tetap diselenggarakan dengan substansi yang sudah menjadi tradisi Islam local, yaitu berisi acara-acara tahlilan dan yasinan dan bahkan juga ceramah agama. Acara ini dilakukan setahun sekali terutama setelah panen selesai. Di beberapa tempat ada agenda rutin dengan hari dan bulan yang tetap.  

  

Bersamaan dengan acara manganan atau sedekah bumi, maka masyarakat Desa Sugihan juga menyelenggarakan tayuban dalam rangka bersyukur atas keberhasilan panen. Inti dari semua upacara sesungguhnya adalah mensyukuri nikmat Tuhan Yang Maha Esa atau Gusti Allah.  Tradisi ini juga sudah tidak dijumpai di sumur-sumur Mbah Mutamakin di desa-desa lainnya. Di desa Telogowaru, masih diselenggarakan acara wayangan. Sebagaimana saya tulis di buku saya “Islam Pesisir” (LKiS, 2005),  sudah berubah dari tayuban menjadi thayyiban. Namun di desa Sugihan tradisi ini masih dipegang teguh oleh masyarakat. Bahkan pada  saat Pandemi Covid-19, tradisi tayuban itu tetap dilaksanakan. Jika tidak dilaksanakan lalu ada yang kesurupan atau ada makhluk halus yang memasuki badan seseorang. 

  

Untuk melestarikan acara tayuban tersebut,  maka di sebelah selatan sumur ini juga didirikan bangunan, yang hanya dipakai sekali saja dalam  setahun yaitu untuk upacara manganan atau nyadran atau yang juga popular disebut sebagai sedekah bumi.  Upacara lokal ini dilaksanakan setelah panen raya, terutama panen padi. Jadi tidak menentu kapan bulannya. Yang penting ketika semua sawah sudah dipanen, maka pada hari Kamis legi, dilakukan upacara manganan. Dan di saat itulah dilakukan acara sindiran. Sebagaimana biasanya, bahwa acara sindiran dilakukan pada hari Rabo Kliwon malam dan berakhir pada hari Kamis legi siang. Acara tayuban  dilakukan semalam dan setengah sehari. Inti dari acara nyadran adalah slametan yang berarti suatu sistem ritual yang dilakukan dengan tujuan untuk memperoleh keselamatan dari Allah SWT. Acara sedekah bumi dilakukan pagi hari dan dilanjutkan dengan acara kegembiraan, yang berupa tayuban atau menari bersama hingga berakhir pada saatnya di siang itu.   

  

Para waranggono  atau penari tembang-tembang Jawa dengan iringan gamelan tersebut terus menari sepanjang malam dengan menghadirkan para lelaki untuk mendampingi para waranggono atau penari yang disebut sebagai beksan atau mbesa.  Jika tamunya banyak maka dua orang waranggono  diapit oleh empat lelaki beksan dan jika sepi pengunjung maka dua penari dengan dua lelaki beksan. Untuk mengatur jalannya acara biasanya dipimpin oleh pramugara yang mengatur siapa di antara para lelaki itu yang memperoleh kesempatan mbesa. Pada saat beksan itulah para lelaki menyumbangkan sejumlah uang untuk kesuksesan acara tayuban.

  

Acara ini biasanya menghadirkan tiga waranggono yang terkenal. Di antaranya datang dari Kecamatan Kerek Kabupaten Tuban. Biaya yang dikeluarkan untuk acara kegembiraan ini berkisar Rp10.000.000,- tentu untuk pembiayaan waranggono, gamelan, panjak atau musisi gending Jawa dan seluruh uba rampen atau peralatan acara ini. Biaya ini ditanggung bersama antara para partisipan acara tayuban  dan juga anggaran desa. Dengan bahasa lain, acara ini dilakukan dengan biaya patungan atau kerja sama.

  

Memang cara untuk bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atau Gusti Allah  bermacam-macam. Ada yang dengan  wiridan  atau dzikiran, ada yang dengan bersedekah, ada yang dengan melakukan serangkaian upacara yang diyakininya benar. Semua ini dilakukan semata-mata untuk memasuki dunia sacral yang menjadi ciri khas masyarakat Nusantara. Sama halnya dengan menyelenggarakan acara wayangan yang juga dilakukan untuk menyertai acara sedekah bumi, yang memiliki substansi bersyukur kepada Gusti Allah.

  

Wallahu a’lam bi al shawab.